
Ini sudah satu minggu Rasya dalam keadaan koma, dokter Ari yang memberitahu saat Rasya sempat bereaksi namun pingsan kembali. Warna pelangi yang hampir lengkap pun tidak jadi, sebab hujan belum turun jadi pelangi tidak terbentuk.
Itu artinya kebahagiaan belum berpihak dan kesengsaraan masih bergulat di antara Tania dan Rasya. Kuat tidak kuat harus kuat, siap tidak siap harus siap. Banyak sekali masalah yang akan datang.
"Sudah seminggu lho, hubby kamu gak bangun. Kamu ngebo juga yah, lebih parah dariku. Kamu ingat tidak, hubby saat aku tidur lebih dulu dan aku tidurnya kayak anak kecil kamu yang gendong aku dan benerin posisi tidurku, apa kamu mengingatnya, hubby? Ayo bangun, dan beritahu aku!"
Seperti sedang bicara dengan tunggul, tiada orang yang merespon ucapannya. Miris, bukan.
Tania sudah tidak sakit lagi, namun hatinya masih rapuh, butuh waktu untuk bisa kuat seperti dulu lagi. Sarah dan Elia hanya bisa mengelus pundak Tania, sabar dan tabah kan hatimu, Tania.
Pria yang masih setia memejamkan matanya pun terlihat sangat kurus sekali badannya. Kedua orang tua Tania dan Rasya sudah pasrah jika Rasya tidak bangun.
Ini sudah satu minggu dan belum ada tanda-tanda lagi pasca ia didiagnosa akan mengalami masa koma yang panjang, seakan harapan untuk sembuh itu minim meski sudah mendapat donoran darah.
Itu tidak menjamin untuk bisa menyelamatkan nyawa seseorang, semua akan berubah jika Tuhan sudah membalikkan telapak tangan, maka takdir akan berjalan kembali.
"Nak, jika Rasya tidak kunjung siuman. Kami semua pasrah dan jika kamu nanti akan mencari pengganti Rasya pun kami tidak melarang, kamu masih muda dan carilah kebahagiaan di luar sana" Ucap papa Ferdinand.
__ADS_1
Seketika Tania tersentak, ia menatap bola mata papa mertuanya, tidak menyangka jika beliau akan berkata seperti itu padanya. Menantunya saja yakin jika Rasya akan sembuh tapi mengapa orang tua kandungnya sendiri tidak yakin.
"Apa papa sadar akan ucapan papa barusan?" Tanya Tania sambil berjalan dan duduk di samping mertuanya.
"Dia sudah di diagnosa akan mengalami koma yang begitu lama nak, papa tidak ingin kamu terus menunggu dan dia tidak juga kunjung sadar. Waktu mu bisa habis dan masa muda mu pun hilang sia-sia karena penantian ini. Kamu berhak bahagia, carilah suami baru yang bisa memberikan kebahagiaan dan menyayangimu dengan sangat" Jawab papa Ferdinand sambil memegang pundak Tania.
"Tidak papa! Sampai kapanpun Tania akan tetap menjadi istrinya Rasya Ferdiansyah, apapun yang terjadi akan tetap seperti itu. Biarkan aku menanti hal yang belum pasti. Aku yakin jika Allah akan berbaik hati pada hamba yang selalu sabar menghadapi ujian di dunia ini" Ucap Tania sambil menatap wajah papa mertuanya yang sudah keriput.
Buliran bening jatuh tanpa permisi, jatuh membasahi pipinya dan dengan lembut Tania mengusapnya dari wajah mertuanya. Gelengan kepala cepat dari Tania membuat mertuanya tersenyum tipis padanya.
"Jangan menangis pah, aku yakin pasti ada keajaiban Allah datang. Percayalah padaku, dan kita serahkan pada yang maha kuasa" Ucapnya lalu tersenyum manis.
"Abang...." Teriak Vito memecah saat ia melihat jemari tangan Rasya bergerak.
Sejurus Tania berlari menghampiri branker suaminya. Semua pun sama, ikut mengerubungi seperti ada air gula dan semut berkerumun.
Setelah jemari tangan bergerak, mata pun ikut memberi tanda, pelan-pelan Rasya membuka matanya, memandangi langit-langit ruangan dan setelah itu pandangannya turun. Awal yang ia lihat adalah Tania.
__ADS_1
Mencoba mengingat apa yang sudah ia lalui beberapa waktu lalu, tapi malah membuatnya sakit kepala.
"Kamu sudah bangun, sayang. Aku merindukanmu..." Ucap Tania dengan deraian air mata. Haru biru bercampur kelabu membuat orang termangu, menunggu jawaban yang belum tentu.
"Kamu siapa....?"
Deg
Jantung Tania seakan berhenti berdetak, mendengar pertanyaan dari mulut Rasya.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Hargai karya ku dengan vote like dan komentar serta follow me ya.