
Happy reading 🤗
Kedua sudut mata mereka menghitam karna kurang tidur, jadi mata mereka seperti mata panda. Sangat mengantuk sekali, hingga satu kejapan mata, bisa tertidur pulas, namun mereka saling berjaga dan jika salah satu dari mereka ada yang tidur maka yang satunya akan menepuk paha dan membangunkan supaya tidak ketiduran.
''Apakah masih lama?'' tanya Kevin sambil menguap.
''Entahlah, aku juga tidak tau'' jawab Arka ngeliyer karna sangat mengantuk.
Sampai akhirnya semua di periksa dan semuanya juga tidak ada yang pas. Ya Allah, semua tempat sudah mereka kunjungi, harus kemana lagi ini mencari?
Sudah jam 6 pagi, akhirnya Kevin dan Arka menyerah lalu mereka kembali ke rumah sakit. Saat di perjalanan, Zahra menelpon suaminya jika anaknya sakit demam dan tidak bisa menjaga Famira untuk hari ini.
Dengan berat hati Kevin mengiyakan nya. Dia tidak bisa percaya dengan orang lain yang bisa menjaga istrinya selain Zahra adik iparnya.
Sial
Jalanan tiba-tiba macet dan harus menunggu lama hingga kemacetan berlalu. Mereka melakukan pemeriksaan di lain rumah sakit sehingga harus berputar balik menuju rumah sakit tempat Famira dirawat.
Sudah sangat mengantuk, di tambah macet lagi, hadeuh rasanya mereka ingin berteriak dan marah. Kenapa segala terjadi kemacetan.
Rumah sakit
Orang suruhan sudah datang dan berpenampilan layaknya suster rumah sakit. Ia berjalan menuju tempat dimana Famira di rawat. Berjalan sambil membawa sebuah suntikan yang siap untuk di berikan kepada Famira.
Penjagaan lengah, tidak ada orang disana, Kevin juga lupa untuk meminta suster pilihan untuk menjaga istrinya.
Kebiasaan pagi, pasti Famira selalu di beri vitamin lewat selang infus nya. Tapi kali ini bukan vitamin, melainkan obat yang bisa membunuh dalam waktu singkat dan obat itu cepat sekali bereaksi.
Selagi tidak ada yang melihat dirinya beraksi, dengan cepat ia menyuntikkan cairan obat itu ke selang infus Famira.
__ADS_1
''Rasakan ini, kau akan mati dalam waktu beberapa menit saja'' ucapnya sambil menyentil jarum suntik.
Benar saja, dalam waktu singkat, tubuh Famira bergetar hebat, nafasnya tersengal-sengal. Dengan senyum licik orang suruhan itu keluar tanpa menimbulkan rasa curiga.
Di menit kemudian, ada suster yang asli datang untuk memberikan vitamin untuk Famira. Dia kaget melihat Famira yang tiba-tiba seperti itu, dengan cepat ia menekan tombol bantuan darurat untuk memanggil dokter.
Lalu tak berselang lama, ada yang datang. Namun itu bukan dokter, melainkan Kevin yang datang. Ia yang tadinya mengantuk kini sudah tidak lagi.
''Famiraaa.....'' teriak Kevin kala melihat istrinya yang sedang dalam tanganan suster.
''Kau apakan istriku, hah'' bentak Kevin.
''Maaf, tuan saya tidak tahu. Dan saya juga baru datang'' jawabnya sambil bergetar.
''Dasar bodoh, rumah sakit tanpa penjagaan ketat'' ujar Kevin berteriak marah.
Kemudian, baru datanglah dokter dengan beberapa suster yang mendampinginya.
Famira semakin tak karuan, nafasnya sudah tidak teratur lagi, tersengal-sengal dan matanya juga terbuka, mulutnya juga terbuka. Mungkin saking sakitnya karna obat itu.
''CPR...., ambilkan alat itu....'' teriak dokter Rasya.
Semua langsung kelimpungan, beberapa suster sedang mengambil alat itu, sedangkan Kevin hanya bisa menangis dan marah dengan para perawat di rumah sakit ini.
Saat Famira hendak diperiksa, Kevin di suruh keluar namun ia menolaknya dengan tegas dan mengancam jika nanti Famira kenapa-kenapa maka rumah sakit ini yang akan menjadi taruhannya.
Datanglah para suster sambil membawa alat itu. Dengan cekatan dokter Rasya menggunakannya.
''Daya 300 Joule....'' ucap dokter Rasya.
__ADS_1
''Ya, 300 Joule...." jawab suster memastikan.
''Shoot...." Ucap dokter.
Tubuh Famira pun langsung terangkat dan jatuh kembali sampai tiga kali. Namun detak jantungnya makin melemah dan belum stabil.
Gawat, semua semakin panik, sudah tiga kali melakukan shoot tapi belum ada tanda-tanda kestabilan jantung Famira.
Lalu alat pendeteksi detak jantung pun menampilkan garis strip memanjang, dan bunyinya sangat di kenali oleh banyak orang jika suara itu adalah suara akhir jantung berdetak.
Kemudian sang dokter meletakkan jarinya ke hidung Famira dan juga mengecek denyut nadinya Famira. Namun semuanya kosong, tidak lagi ada yang berdetak ataupun suara nafas.
Dengan berat hati dokter Rasya memberitahu pada Kevin.
''Maaf...., kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya'' ucap dokter Rasya.
Kevin langsung menggeleng dan berteriak.
''Tidakkkk......., kau pasti bohong padaku'' teriak Kevin.
Dokter hanya bisa menggeleng, jika dirinya tidak sedang berbohong.
Pupus sudah harapan Kevin, lalu ia memeluk tubuh istrinya yang sudah terbujur kaku.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.