
Tania yang bajunya sudah basah pun sekalian mandi, Rasya sudah keluar lebih dulu. Hatinya masih bimbang dan tak menentu. Kenapa pernyataan yang Rasya berikan dalam waktu yang baru saja berlalu membuatnya menjadi merasa bersalah.
Rasya sudah lebih dulu menyukainya, dan kini tinggal dirinya saja yang belum ada rasa tuk ungkapkan cinta pada suaminya. Entah menunggu waktu yang tepat atau memang belum ada rasa cinta, itu pun Tania tak mampu memahaminya sendiri.
"Benarkah ini nyata, bukan ilusi ku saja? Siapapun beritahu aku dan katakan ini mimpi!" Ucapnya sambil mencubit pipinya sendiri. Aw sakit, ternyata ini real bukan tipu-tipu belaka.
Kemudian ia melirik lengan kanan yang awalnya memerah pun kini sudah mendingan dan tidak terasa sakit seperti sebelumnya. Ingat, ini juga Rasya yang mengobatinya.
Kau yang melukai dan kau pula yang mengobati. Sungguh, aku tak mengerti dengan jalan pikiran dan hati nurani mu Rasya, dokter dingin dan datar.
Kembali mengingat masa lalu, dimana dulu ia di jodohkan dengan Rasya. Awal pertemuan mereka saja terkesan buruk. Saling cek-cok dan berselisih sampai menikah pun tidak ada yang berubah hanya sikap yang terlihat akan kedewasaan dan kekanak-kanakan dari kedua pasangan ini.
"Aku bingung, lara yang baru kau torehkan di hatiku. Harus kah aku memberimu kesempatan dan tidak lagi suka menuduh tanpa alasan yang jelas"
Tania dilanda dilema, semenjak malam itu, mereka berdua jarang berkomunikasi dan saling cek-cok. Masih canggung untuk bicara normal kembali, new normal sedang mereka lalui agar bisa seperti dulu lagi. Layaknya virus Corona yang datang tanpa diundang, yang suka menyakiti namun enggan untuk mengobati. Dasar kejam!
"Aku berangkat, jaga dirimu baik-baik" Ucap Rasya sambil berpamitan pada istrinya.
"Iya." Singkat, padat dan jelas tanpa embel-embel lagi.
Rasya pun langsung mengangguk dan keluar rumah menuju garasi mobil. Mengendari mobil dan menjauh dari kompleks perumahan elit.
Kini tinggallah satu insan dengan. duduk di belakang rumah. Memandangi apa yang bisa ia pandang. Setiap kali ia pejamkan mata, selalu saja teringat akan tingkah konyol dan kocak dari suaminya. Apalagi saat mengingat Rasya yang terpelanting di lantai kamar mandi.
"Kau sedang apa Rasya?"
__ADS_1
"Aku sedang memeriksa detak jantung keramik, takutnya nanti pecah atau retak"
Kocak bukan, itu yang membuat Tania terpingkal-pingkal karna tawa. Dia baru ngeuh saat Rasya berceramah akan cara mencuci pakaian yang benar.
Semua kedewasaan yang ia miliki adalah kerja keras dari sang suami, yang tak kenal lelah mengajari sampai dia bisa, meskipun masih jauh dari kata standar.
Suami tidak pernah marah jika ia bersalah, selalu dapat teguran positif dan jarang sekali mendapat bentakan darinya. Mungkin bagi Rasya jika masalah rumah, ia masih bisa memaklumi dan sadar bahwa Tania itu butuh bimbingan darinya.
Akan tetapi, apabila sudah urusan out of home, sudah berbeda. Bisa lihat dan bayangkan ketika Rasya mendapat foto dari no asing. Dia begitu geram dan marah. Sudah ada yang berani mencoba memegang kepunyaannya, lebih-lebih lagi wanita yang ia cintai berstatus istri.
"Sebegitu besarkah kau mencintaiku, Rasya?"
Lamunan membuyar, saat ia mendengar suara ponselnya berdering. Dengan cepat ia mengangkat ponselnya. No asing, siapa gerangan yang menelpon?
"Halo," suara dari sebrang saat Tania sudah mengangkat telpon.
Lalu orang itu pun segera menjelaskan maksud menelpon Tania, dengan seksama wanita cantik ini mendengarkan kata demi kata yang terucap. Lalu tubuhnya langsung limbung terkulai lemas, tak sanggup mendengar penuturan yang terakhir kali terucap.
"Apa anda bisa datang, kemari nona?" Tanyanya dari sebrang jauh.
"Segera" Jawabnya dengan nada lemas.
Setelah sambungan telepon terputus, Tania pun langsung ambruk ke tanah, menangis tersedu-sedu sampai tidak bersuara. Ini tidak mungkin, pasti hanya kabar bohongan saja.
Ia masih ingat wajah senyum dan galak dari orang yang baru saja menjadi topik pembicaraan. Tidak mungkin terjadi, tidak mungkin!
__ADS_1
Masih belum percaya akan takdir yang baru saja terjadi. Kau akan menyesal jika lambat menyadari!
Tania tidak ingin terlarut dalam kesedihan lagi, dia bergegas masuk ke dalam rumah, berganti baju dan pergi menuju tempat yang orang itu katakan.
Bersambung
.
.
.
Bersiaplah akan terjadi pertumpahan darah dan air mata. Bisa jadi novel ini akan tamat dengan sad ending bukan happy ending.
Okeeee,๐ฃ๐ฃ๐ฃ๐ฃ
Hargai karya ku dengan vote like dan komentar serta follow me ya.
Pesan satu dari author, jaga kesehatan dan jangan lupa pakai masker kalau keluar rumah.
Satu bab dulu ya, karena author lagi gak enak badan, hidung sumeng, pala nyut-nyutan, tenggorokan sakit dan banyak lagi.
Mohon bersabar kalau di part ini bikin kalian semua penasaran tingkat dewa.
Salam halu dari author gesrek ini, dadah.
__ADS_1
I love you all ๐๐๐.