True Love

True Love
Sesal


__ADS_3

Selang infus berada di sekujur tubuh pak Tio. Haida tidak melepaskan genggaman tangannya, masih menangis. Menyesali waktu dan perbuatannya kepada sang papa.


"Maafin Haida pa. Harusnya Haida tidak bersikap seperti itu pada papa. Haida merasa menjadi anak durhaka".


Ucapan penyesalan ia lontarkan. Namun apalah daya, sang papa tetap setia memejamkan mata. Ketika mengalami keterpurukan, pasti sang papa ada untuknya. Tapi sekarang, berubah. Tuan Tio lah yang saat ini terpuruk sebab penyakitnya.


Usapan lembut dipundak Haida rasakan. Entah sedang bermimpi atau tidak wanita itu tidak menghiraukan.

__ADS_1


"Sabar sayang, pasti papamu akan sembuh".


Haida menghentikan tangisnya, suara ini begitu familiar di telinganya. Melihat ke arah belakang dan ternyata ada Zahra disana.


"Zahra...." Haida memeluk tubuh Zahra dengan erat. Menumpahkan segala kesedihannya. Zahra menjadi orang yang Haida jadikan sasaran. Hanya dengan wanita itu semua masalah bisa terasa ringan.


Zahra membalas pelukan Haida. Membiarkan kemeja yang ia pakai basah sebab air mata yang tumpah.

__ADS_1


“Aku tau ini berat. Tapi kalau disini tidak ada yang kuat, lantas siapa yang nantinya akan menguatkan papamu, Da?” sahut Zahra terus mengusap punggung Haida.


Kini tangisan sudah reda, hanya tersisa napas yang sedikit susah diatur serta wajah yang lumayan sembab.


Wajah sang papa begitu memprihatinkan. Andai Haida bisa menggantikan posisi papanya saat ini, pasti Haida akan memilihnya, tidak rela melihat sang papa terbaring sakit seperti sekarang.


Bersambung

__ADS_1


***Hola genks, aku balik lagi nih. Mon maap Yee baru nongol dan lanjutin cerita ini. Sedikit alias lupa dengan jalan alur, kira-kira 98%aku lupa.


Tapi, setelah ini author lanjut tapi gak janji bakalan banyak, hehehe***.


__ADS_2