
"Dek...." Panggilnya setelah mengunyah buah mangga.
"Kamu memanggilku?" Tanya Tania sambil menunjuk dirinya.
"Iya, apa kamu keberatan jika aku panggil kamu dengan sebutan adek?" Sahut Rasya dan mendapat gelengan dari Tania, berati dia tidak keberatan.
"Terserah mau panggil aku dengan sebutan apa, asalkan kamu tetap milikku" Balas Tania sambil tersenyum manis.
Rasya pun terkekeh geli mendengarnya, istri kecilnya sungguh menggemaskan.
Setelah selesai makan buah, Rasya segera tidur dan Tania kembali ke dapur membawa nampan kotor lalu mencucinya sampai bersih.
๐๐๐๐
Makan malam pun tiba, semua orang datang ke meja makan, untungnya rumah ini lumayan luas, jadi bisa makan bersama. Semua orang makan dengan lahap, dan kini yang pamer keromantisan adalah Rasya dan Tania.
Dengan telaten Tania menyuapi Rasya agar makanan cepat habis dan Rasya bisa kenyang. Makanannya khusus, berbeda dengan orang yang sehat.
"Dek, kamu makan dulu dan setelah itu kamu suapi aku. Kasihan nanti kamu kelaparan" Ucap Rasya menahan lengan tangan Tania.
"Tidak! Mas yang harus makan dulu dan setelah itu baru aku tenang" Jawab Tania dengan gelengan kepala cepat.
"Sudah, jangan ngeyel kamu yang makan dulu" Kata Rasya tegas.
"Sudah, jangan membuatku marah. Kamu buka mulut dan satu suapan ini akan masuk" Jawab Tania, ia tidak takut dengan perkataan Rasya.
Makan malam jadi sedikit ada hiburan, pertengkaran kecil terjadi, membuat ruangan sedikit berbeda.
Mereka berdua belum makan sampai perjamuan selesai.
"Kami selesai, kalian makanlah juga. Jangan bertengkar terus" Ucap ayah Eki dan membuat kedua si joli itu menoleh.
Sudah? Cepat sekali, mereka makan atau apa?
Tanpa menunggu jawaban mereka, semua anggota keluarga pergi dan tidur. Tapi ada yang pulang ke rumah, terutama papa Ferdinand, ayah Eki, Elia serta suami. Sedangkan Arka dan Kevin serta istri mereka sudah pulang, hanya membantu memasakkan saja. Karena anak-anak rewel, jika di rumah orang lain. Jadi di rumah Rasya hanya ketiga saudaranya kandung dan adik ipar.
__ADS_1
Mereka semua meninggalkan ruang makan, ada yang menonton TV dan ada juga yang menidurkan anaknya.
Tania tetap bersikukuh ingin menyuapi Rasya dan membuat pria itu pasrah.
"Biarkan aku membalas semua kebaikan kamu, yang dulu dengan ikhlas merawatku, mas" Ucap Tania di sela menyendok nasi.
"Kau istriku, kewajiban ku dan juga kesayangan ku. Pasti sudah aku jaga sampai raga ini merapuh" Jawab Rasya.
Wanita ini hanya tersenyum menanggapi jawaban dari suaminya. Suapan demi suapan Tania berikan sampai tidak sadar jika nasi dalam piring sudah habis.
"Minum" Ucap Rasya sambil menunjuk arah meja yang ada gelasnya.
"Ini, minumlah" Jawabnya seraya meraih gelas dan Rasya pun mengambilnya dari tangan Tania.
Kini giliran Tania yang makan, dia mengambil nasi dan lauk untuk ia makan. Berdoalah sebelum makan, biar berkah. Kata Rasya.
"Adek bisa sendiri mas, tidak perlu mas suapin" Ujar Tania ketika melihat gerak-gerik suaminya.
"Ini gak adil, tadi kan adek udah suapin mas. Sekarang giliran mas yang suapin" Sahut Rasya kesal.
"Aku udah sembuh kok, ayo berikan piring itu padaku!" Meminta dengan memaksa.
Ya Allah, kenapa Rasya jadi gini sih, habis kecelakaan otak dan pikiran jadi aneh, segala manggil adek dan mas. Duh, gak kebayang dulu Tania kalau kehidupan selanjutnya bakalan gini. But, dia bersyukur apapun perubahan Rasya asal cintanya tetap sama.
"Baiklah, ini piringnya" Kata Tania, ia pasrah. Toh memang ini sebelumnya tidak pernah terjadi.
Malu, makan di suapin, makan diliatin dan di senyumin. Jangan kayak gitu, jantungku rasanya pengen copot.
"Udah ah mas, jangan kayak gitu. Aku jadi malu mau ngunyah makanan. Sini biar aku aja yang makan sendiri" Ucap Tania lalu mengambil piring dari hadapan Rasya.
Rasya menggeleng cepat, di tarik lagi piringnya. Jangan membantah, biarkan aku yang menyuapimu sampai makanan ini habis!
"Buka mulut...." Ucap Rasya layaknya sedang merayu anak kecil untuk makan.
Wanita ini pun langsung buka mulut, suapan sukses masuk. Tambah lebar senyuman Rasya. Please, kondisikan senyuman mu mas. Adek gak kuat liatnya.
__ADS_1
Selepas makan malam di jam yang sudah lewat, mereka segera masuk ke dalam kamar, sudah jam 9 malam. Rasya berbaring lebih dulu, sedangkan Tania pergi ke kamar mandi.
"Adek...., adek udah selesai belum?" Tanya Rasya dari ranjang dengan suara sedikit keras.
"Bentar lagi mas" Jawab Tania saat wajahnya penuh dengan busa sabun wajah.
Dengan cepat ia membasuh wajahnya dan mengelap dengan handuk kecil. Lalu ia berjalan ke arah ranjang. Melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambut tergerai.
"Cantiknya, adek" Puji Rasya dengan sunggingan senyum manis, semanis coklat serenyah rengginang.
"Makasih mas, dah yuk tidur" Jawab Tania lalu menarik selimut.
Pria ini mengaggukkan kepala, dia tidur menghadap wajah istrinya, Tania yang mulai memejamkan matanya pun terbuka kembali, seperti ada yang mengawasi gerak-gerik tidurnya.
"Mas, kok gak tidur?" Tanya Tania.
"Gak bisa tidur, mas minta di puk-puk kepala mas sama adek biar bisa tidur" Jawab Rasya dengan wajah imutnya.
Fix, karma is real. Dulu, Rasya yang bilang kalau Tania itu manjanya luar binasa dan kini setelah kecelakaan Rasya yang berubah menjadi manja.
"Sini, mendekatlah biar adek puk-puk kepala mas" Sahut Tania dan dengan senang hati Rasya bergeser ke arah kanan dan dekat dengan tubuh Tania.
Rambut lurus hitam, dan lebat sudah di puk-puk oleh Tania, membuat pria ini kesenangan dan terlelap tidur dalam posisi miring dengan tangan kiri melingkar di pinggang ramping istrinya.
Andai Rasya tau, gimana perasaan Tania pas dia pegang kepalanya dan juga menghirup aroma tubuh suaminya, membuat Tania jadi ingin berteriak keras, tapi dia urungkan. Udah malem, nanti di kira ada apa-apa.
Wajahnya yang manis, meski galak tetap romantis, eak. Emak mau ngehalu dulu.
Dadah semuanya, salam sayang buat kamu, emmuah.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.