True Love

True Love
Cerita baru


__ADS_3

Happy reading 🤗


Sekelebatan pria menggunakan jas putih berlari menuju ruang UGD dengan tatapan tajam, alis tebal dan hidung yang mancung serta membuat siapa saja yang melihatnya bergidik ngeri, berlari sambil melirik arloji yang ia pakai di tangan sebelah kiri.


Berlari dengan cepat hingga membuat dirinya menjadi sorotan para suster dan keluarga orang sakit terheran juga kagum saat melihat wajah si pria alias dokter tampan. Begitu sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini. Semua kesempurnaan fisik ia punya, derajatnya pun tinggi menyandang gelar sebagai dokter paling kompeten dan profesional.


Menjadi sorotan orang-orang, ia hanya menanggapi dengan tatapan membunuh dan acuh tidak penting dengan tatapan mereka seakan-akan sedang menelanjanginya.


Napasnya masih memburu, namun ia segera masuk kedalam karena sudah di tunggu kedatangannya. Ia membuka pintu ruang UGD. Ada tiga suster yang sedang berdiri cemas dan akhirnya mereka bernapas lega melihat dokter yang si tunggu-tunggu sudah datang.


Tanpa melepas jas yang ia kenakan, pun langsung menyaut baju hijau untuk melakukan operasi. Memakai masker wajah lalu mendekati ketiga suster itu.


"Sudah berapa lama dan apa yang menyebabkan dia seperti ini?" tanya dokter tampan. Seraya memasang sarung tangan lateks berwarna putih.


"Sekitar 15 menit yang lalu dan pembuluh arteringnya pecah, dok" Jawab salah satu suster dengan sedikit bergetar ketakutan akan kemarahan dari dokter tampan itu.


Mata langsung membulat sempurna, tercengang mendengar penuturan suster itu. Tatapan menjadi tambah tajam dan siap untuk memangsa, alisnya menyatu dan tidak bersuara.


Bodoh, bagaimana bisa mereka membiarkan pasien kritis selama 15 menit lamanya dan membiarkan pembuluh arterinya pecah tanpa ada ide sedikit pun mencari solusi agar bisa menahan darah mengalir kemana-mana.


Sarung tangan lateks sudah melekat di tangannya lalu ia mengeluarkan stetoskop untuk memeriksanya, lalu setelah itu barulah ia membuka suara lagi.


"Berikan aku pisau bedah kita akan melakukan operasi sekarang!" perintah dokter tampan.


Dengan cepat suster no 2 mengambil pisau bedah dan memberikannya kepada dokter. ''Ini dokter, pisau nya" Ujar suster sambil menyerahkan pisau bedah itu.


Dengan cepat dokter menyaut pisau bedah dan mulai mengiris kulit dan tangannya yang berlapis sarung tangan lateks langsung masuk ke dalam organ tubuh yang akan dokter itu obati. Dia begitu fokus saat melakukan operasi, tak berbicara sepatah katapun hanya tangan yang menengadah ke atas meminta alat operasi seperti gunting dan pisau bedah.

__ADS_1


Parah. Sangat parah, pembuluh darah arteri sudah pecah dan menimbulkan banyak darah keluar dari saluran darah serta menghambat proses penyaringan darah ke arah jantung terhambat karena darah itu. Tangan dokter sudah masuk ke dalam tubuh pasien itu dengan gerilya dia mencari pembuluh itu dan menyumpalnya menggunakan jari.


Menakutkan


Detak jantungnya mulai melemah, pertolongan kurang cepat diberikan sehingga membuat pasien seperti ini. Napas pasien mulai tersengal-sengal, dan angka yang menunjukan detak jantung pun mulai turun. Dokter semakin panik, baju yang ia kenakan sudah penuh darah pun tak ia hiraukan lagi.


Keselamatan nyawa pasien lebih penting.


"Cepat berikan semua alat operasi padaku!" Detak jantungnya mulai melemah serta pembuluh yang ia cari belum ketemu. Kekhawatirannya semakin menjadi. Tangan sudah bolak-balik mencari dan mengobrak-abrik area jantung. Dari bilik kanan ke bilik kiri, tetap saja belum ketemu.


Namun setelah beberapa saat terakhir, ketemu juga saluran darah itu. Dokter tersenyum dan berkata. "Ketemu....."


Dengan cepat ia mengatasinya dan akhirnya darah sudah kembali normal dan sudah tidak lagi menghambat proses penyaringan darah.


Setelah selesai melakukan operasi, pandangan dokter tertuju pada alat pendeteksi detak jantung, sudah mulai naik dan normal kembali.


Ketiga suster itu pun ikut merasakan lega. Keteledoran yang mereka lakukan ini memang sangat tidak bisa di ampuni.


Kini tatapan dokter tampan itu mengarah pada ketiga suster yang saling bersampingan. Kedua bola matanya merah, rahangnya mengeras dan juga tatapan matanya itu sangat membunuh.


"Kenapa ini bisa terjadi pada pasien ini, hah!" Bentak dokter itu sambil melepas sarung tangan lateks dan membuangnya ke tempat sampah.


Diam senyap, tak ada yang berani menjawab. Badan bergetar hebat. Dan hanya menunduk yang mereka bisa. Ketiga suster itu tau jika dokter sangat murka dengan kinerja mereka yang terkesan tidak bertanggungjawab terhadap pasien.


"Jika aku telat 1 detik saja. Pasien sudah tidak akan selamat. Kemana saja dokter yang ada disini. Apakah kalian tidak bisa memanggil mereka untuk mengatasi operasi ini, dan dengan gampangnya kalian membiarkan nyawa pasien kritis hingga 15 menit lamanya serta hampir tak terselamatkan. Kemana pikiran kalian!" Bentaknya lagi, suara dokter memenuhi ruangan itu. Lagi dan lagi tak ada yang menjawab. Bahkan mereka hendak menangis karena bentakan keras dari dokter itu dan memekakkan telinga.


"Jawab.....!" Teriak dokter dengan gertakan gigi.

__ADS_1


"Ka...kami sudah mencari dokter lain untuk mengatasi ini dok. Tapi tak ada satupun yang bisa, sebab jadwal mereka sama akan melakukan operasi pada pasien lain" Jawab salah satu suster dengan segala keberanian yang ia punya.


"Papa ku memperkerjakan dokter disini sampai 1.000 orang. Dan tidak ada satupun yang bisa? Apakah harus diriku yang mengatasi ini, semua huh" Hardik dokter tampan itu sambil sedikit menyombongkan diri.


"Itu benar dok. Memang tidak ada, lalu kami berusaha untuk menelepon anda untuk datang dan melakukan operasi" Jawab suster satunya.


"Lalu kenapa tidak ada panggilan masuk dalam log panggilan tak terjawab di ponselku. Apa kau pikir telpon itu hanya ilusi belaka?" Tanya dokter dengan nada mengejek. Seketika suster itu diam terpaku dan tak bersuara lagi.


Dokter sangat marah, lalu ia melepas baju hijau yang ia pakai untuk melakukan operasi kesembarang tempat. Berjalan keluar dengan gaya angkuhnya dan wajah datar yang ia tampilkan. Sedangkan dalam ruangan itu, ketiga suster baru bisa bernapas dengan normal, sebab mereka tadi menahan supaya dokter itu tak mendengar suara deru napas mereka yang memburu sebab ketakutan yang


mendominasi.


Oke.


Dokter tampan plus galak tadi adalah Rasya Ferdiansyah. Anak sulung dari tiga bersaudara anak paling membanggakan dan membuat para wanita tergila-gila padanya.


Kini dia sudah menjadi dokter sungguhan dan tidak lagi menjadi anak metal. Perubahan nya sangat signifikan, mulai dari tingkah laku dan cara berpakaiannya sudah berubah. Namun yang belum berubah adalah statusnya yang masih melajang hingga sekarang sudah berusia 30 tahun.


Rasya Ferdiansyah, come back. Selamat menikmati cerita selanjutnya.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2