True Love

True Love
Tabah


__ADS_3

Happy reading 🤗


Berjalan gontai menuju kamar rawat Famira.


Arka dan Zahra sudah menunggu kedatangan Kevin dan menunggu jawaban yang nanti akan Arka dan Zahra tanyakan padanya.


Ceklek


pintu terbuka, menampilkan wajah Kevin yang sembab karna menangis. Arka berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Kevin di ambang pintu.


"Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Arka khawatir.


"Aku bodoh, aku sangat-sangat bodoh,Arka!" ucap Kevin lemas.


"Bodoh, bagaimana hah? Coba kau ceritakan padaku, semua yang Rasya katakan padamu, Kev" pinta Arka yang begitu aneh mendengar jawaban dari Kevin.


Lalu Arka pun menuntun Kevin untuk duduk di sofa ruang rawat Famira. Kevin mulai menceritakan dari Famira sakit hingga ia membutuhkan pendonor tulang sumsum.


Baik Arka maupun Zahra, mereka berdua langsung ternganga mendengarnya, begitu berat sekali beban yang Kevin pikul saat ini.


Sebagai saudara laki-laki satu-satunya yang Kevin miliki, ia pun tersenyum dan memberi semangat untuk Kevin agar kuat dan tegar dalam menghadapi cobaan ini.


"Bersabarlah, aku yakin Allah selalu bersama orang yang sabar. Dan aku akan membantumu untuk mencari pendonor yang pas untuk Famira, aku janji padamu" ucap Arka, ia berjanji akan membantu Kevin dan membuat Kevin bahagia serta Famira dan kedua anak kembarnya.


"Terimakasih, aku tidak tahu jika tidak ada engkau disini, Ar. Aku sangat bersyukur karna memiliki saudara laki-laki sepertimu" jawab Kevin mencoba untuk tersenyum meski hatinya tertusuk seribu duri.


"Apakah ada tanda-tanda, Famira sadarkan diri?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Belum, karna saat ini ia sedang koma, dan butuh waktu untuk bisa membuka matanya, yah dengan cara ketika ia sudah mendapatkan pengganti tulang sumsum belakanganya. Barulah ia bisa sadar dan membuka matanya. Jika belum mendapatkan maka jangan harap Famira membuka matanya." Entah dari mana suara itu berasal, yang pasti itu adalah suara seseorang dari belakang.


Menengok lah mereka semua ke arah pintu, dan ternyata disana sudah ada dokter Rasya yang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putih.


Rasya berjalan menghampiri mereka dan ikut duduk di samping Kevin.


"Aku tau ini sangat berat untukmu, tapi kau jangan menyerah! masih ada jalan keluar meski minim sekali harapannya" ucap Rasya.


Kevin hanya mampu menundukkan kepalanya, menangis dalam diam, sudah tak kuasa lagi mengeluarkan suara tangisannya.


"Apa kau tau siapa dokter yang selama ini selalu memeriksa kandungan istrimu?" tanya Rasya.


Kevin mendongak menatap wajah Rasya. Ia teringat jika selama ini dokter Risa yang selalu memeriksa istrinya dan kandungannya.


"Dokter Risa...." jawab Kevin serak.


Kevin mengangguk kepala, kenapa dia baru kepikiran jika dokter Risa yang selama ini menjadi langganan Famira.


"Baiklah...., besok aku akan kesana menemui dokter Risa dan meminta penjelasannya" ucap Kevin.


"Bagus...., nanti akan aku kabari lagi perkembangan kondisi Famira padamu" kata dokter Rasya.


Dokter pun keluar setelah berbicara pada Kevin. Sebenarnya ia juga teramat sedih melihat Kevin seperti itu. Menangis batin, menjadi pria cengeng dan lemah.


"Arka antar kan aku ke ruang ingkubator untuk melihat kedua anakku" pinta Kevin.


"Baiklah...., aku akan mengantarmu kesana" jawab Arka.

__ADS_1


"Sayang, tolong kamu jaga Famira dulu, kami akan pergi sebentar" pesan Arka sebelum pergi pada Zahra.


"Iya mas, aku akan menjaga adikku ini" jawab Zahra.


Kevin menghampiri istrinya dan mencium keningnya. Membisikan sesuatu pada Famira.


"Sayang, aku tinggal dulu sebentar. Aku ingin melihat anak kita yang sekarang sudah lahir. Kamu harus kuat supaya nanti kita bisa berkumpul kembali dengan anggota keluarga baru, sayang. Ku mohon bertahanlah, aku akan datang bersama pendonor untukmu" ucap Kevin dengan nada seakan hendak menangis sebelum pergi.


Lalu Kevin dan Arka pergi dari ruangan itu dan berjalan menuju ruang ingkubator. Berjalan sambil berzikir kepada Allah, agar Famira bisa bertahan dan mampu melawan sakitnya.


Tak terasa, sampailah mereka didepan ruangan itu, Kevin dan Arka hanya mampu melihat kedua bayi itu dari kaca bening yang tembus pandang. Di sana terdapat banyak bayi, lalu pandangan Kevin tertuju pada kedua bayi yang saling bersebelahan dengan banyak selang infus dan alat kesehatan yang menempel di sekujur tubuh mereka.


"Lihatlah Ar, itu adalah kedua anakku" ucap Kevin sendu sambil menunjuk ke arah bayi itu.


"Kau yang sabar, sebab bayi mu terlahir prematur. Sehingga membutuhkan banyak alat agar mereka bisa bertahan" jawab Arka.


"Ya Allah, tabahkan lah hati hamba, dan selamatkan istri hamba dan kedua anak hamba" ucap Kevin dalam hati.


Begitu miris dan menyakitkan hati ketika melihat kondisi mereka.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2