True Love

True Love
Butik


__ADS_3

Haida kini sudah tidak lagi berlarut dalam sepi, hari-harinya sibuk dengan pena dan kertas. Berkat dulu ia kursus menjahit kini ia sudah bisa membuka butik sendiri dengan rancangan pakaian hasil karyanya. Tidak terlalu besar, namun letak butik itu sangat strategis. Ditengah-tengah kota.


"Selamat datang di Haida boutique" sapa pekerja di butik itu saat melihat ada langganan datang.


"Iya terimakasih, eum dimana nona Haida?"


"Oh, beliau ada di ruangannya. Apakah anda ingin menemuinya?"


"Iya, bisa kau antarkan?"


"Tentu saja, mari ikut saya".


Keadaan butik masih sepi, belum banyak pelanggan yang datang. Haida masih sibuk dengan pena dan tumpukan kertas.


"Kalau begitu saya tinggal dulu".


"Iya. Terimakasih ya mbak".


"Sama-sama nona".


Pintu terketuk oleh wanita yang datang yang baru saja diantarkan oleh salah satu pegawai di butik Haida.


"Masuk!"


Haida mengehentikan kegiatannya, mendongak menatap arah pintu. Ada seorang wanita dan juga dengan anaknya berdiri diambang pintu.


"Tania, masuklah" titahnya saat melihat yang datang adalah Tania.


Membereskan tumpukan kertas yang sedikit berantakan. Menyusun dan memasukkan ke dalam laci meja.


"Sudah lama kau datang?" tanya Haida sambil duduk di sofa.


"Eum tidak juga, aku baru sampai" sahutnya ramah.


Haida mangut-mangut dan menyilangkan kakinya. Cuaca hari ini sepertinya akan panas.


Gibran putra kecil Tania sedang duduk mengamati desain ruang kerja Haida. Bocah itu sangat-sangat suka dengan keadaan di dalam, dingin dan nyaman.


"Apa kamu suka berada disini?" Haida mengulas senyuman ketika mendapati Gibran tengah mengamati ruangan.


"Iya Tante. Giblan syuka sekali" sahutnya cedal.

__ADS_1


"Oh lucunya anakmu, Tan. Pengen cium deh jadinya"


"Hahaha, ya iyalah anaknya siapa dulu dong, Rasya Tania gitu lho. Makanya kalo pengen punya anak. Produksi sendiri dan buat anak yang lucu-lucu"


"Astaga, ingat Tan. Ada Gibran kamu malag ngomong ambyar".


"Oh tidak telinga putraku ternodai".


Tania berlagak kebingungan, menutup kedua telinga putranya. Haida yang melihat hanya memutar bola matanya dengan jengah. Dari dulu sampai sekarang tetap saja Tania tidak berubah. Tetap gesrek meski sudah menjadi ibu beranak tiga.


"Mama kenapa sih, kan nanti giblan gak bisa dengel" bocah itu menggelengkan kepalanya, melepaskan tangan sang mama dari kedua telinganya. Risih.


"Gapapa sayang, tadi ada lalat gede mau masuk ke telinga kamu" seloroh Tania dan Gibran hanya mencebik kesal. Selalu saja jawaban itu yang Tania lontarkan.


Sedang minum, sedang makan dan apapun kegiatan yang Gibran lakukan jika tidak sesuai dengan Tania, maka ia akan mengatakan. Ada lalat gede mau masuk ke telinga kamu.


Kan Gibran jadi kesel, sama emaknya. Cuma papa yang ia anggap serius saat sedang bicara. Papa selalu saja serius, apalagi jika mengancam putranya dengan kalimat. "Nakal. Papa suntik nanti!"


"Alasan. Pasti mama bohong telus"


"Heh, dibilangin sama orang tua kok ngeyel sih."


Gibran tidak menanggapi, ia malah berdiri dan berlari menjauhi mamanya. Pasti nanti dia akan di serang oleh gelitikan maut sang mama jika tidak kabur.


"Oh ya Tan, ada apa. Tumben datang sepagi ini?"


Haida memfokuskan pembicaraan. Ia penasaran dengan datangnya Tania sepagi ini. Tumben sekali, eperibadih.


"Aku datang kesini untuk melihat semua desain kamu. Siapa tau nanti ada yang cocok sama seleraku".


"Sebentar, aku ambilkan".


Haida membuka laci, mengambil setumpuk lembaran yang tadinya ia susun. Membawanya dan menyerahkan pada Tania.


"Bisa kau lihat satu persatu, dan semuanya adalah desain yang baru saja aku buat".


"Oke, mari kita lihat".


Sembari menunggu Tania yang masih sibuk meneliti, Haida menghampiri Gibran yang sedang duduk di depan kaca. Menatap dirinya dari pantulan kaca.


"Lagi ngapain, sayang?" Haida mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Gibran.

__ADS_1


"Ngaca Tante" sahutnya dengan membolak-balikkan badan.


"Hahaha, kau ini seperti orang dewasa saja".


"Giblan kan emang udah gede, Tante"


"Benarkah? emangnya sekarang Gibran umur berapa?"


"Giblan udah umul 5 tahun". Sahutnya dengan menghitung jumlah jarinya.


"Itu namanya masih anak-anak sayang" ucap Haida, mengacak-acak rambut Gibran yang berdiri bak duri landak.


Bocah itu cuma nyengir, lalu menatap kembali ke arah kaca besar.


"Eum..., Tante. Giblan boleh nanya?" tiba-tiba bersuara kembali.


"Apa sayang?" sahut Haida dengan lembut


"Tante udah nikah, belom?"


"Belom, emangnya kenapa?"


"Udah punya pacal?"


"Belom juga, ada apa sih?" Haida begitu gemas dengan Gibran yang tak kunjung menjawab.


"Kalo belom punya pacal, Tante gak usah belsedih. Nanti kalo Giblan udah gede. Giblan yang bakalan nikahin Tante dan jaga Tante. Sama sepelti papa jagain mama Giblan".


Jawabannya mengundang tawa renyah Haida. Wanita itu tak habis pikir dengan Gibran. Bocah masih umur 5 tahun tapi sudah seperti pria dewasa. Tania sama Rasya ngasih makan apa sih kok si Gibran punya pikiran sedewasa itu?


"Allahuma...., kamu kenapa sih Da. Ketawanya ga ketulungan?" Tania merasa terganggu saat Haida tertawa keras.


"Anak kamu ini lho, lucu. Kamu kasih makan apa sih dia?"


"Nasi sayur lauk pauk. Udah itu aja sama vitamin tambahan dari papanya. Kan dia dokter"


"Selain itu, kok anak kamu pintar banget masalah orang dewasa apalagi masalah pasangan hidup?"


"Oh, itu. Tiap malam aku selalu bacain novel online sebagai pengganti buku dongeng. Bosen lah baca kancil dan buaya terus. Ganti dengan bacaan faedah dan bisa di tangkep sama otaknya Gibran".


Bersambung

__ADS_1


Halo-halo kesayangan koh, maap ya baru bisa up. Karena aku lagi mood booster. Please kasih komentar ambyar biar bisa bikin author ngakak. Dan tambah semangat nulis lagi.


__ADS_2