True Love

True Love
Operasi


__ADS_3

Happy reading 🤗


Kevin keluar dari kamar sambil membopong tubuh Famira yang sudah tak sadarkan diri. Wandi yang melihatnya pun kaget dan ikutan panik.


''Wandi tolong saya, bukakan pintu mobil untuknya saya dan Famira'' pinta Kevin.


''Baik pak, mari'' jawab Wandi.


Dengan cekatan, Wandi pun langsung membukakan pintu mobil dan Sindi pindah duduk di samping pengemudi.


''Antar kami kerumah sakit Mahardika!'' perintah Kevin.


Wandi mengangguk dan langsung melesat kesana. Di sepanjang perjalanan, Kevin tak melepaskan genggaman tangannya dengan tangan Famira. Mencium kening istrinya dan berdoa semoga Famira tidak kenapa-kenapa.


''Cepatlah sedikit, menyupirnya!'' ucap Kevin dengan nada khawatir.


''Ini sudah yang paling cepat pak, anda bersabarlah sebentar, dan kita akan segera sampai'' jawab Wandi.


Sindi pun ikut khawatir juga, melihat nona Famira tak sadarkan diri. Kenapa dengan Famira, mengapa dia seperti ini, berlumuran darah hidungnya dan juga kakinya. Apakah saatnya Famira melahirkan? Tapi kandungannya kan masih baru menginjak usia 7 bulan, apakah anaknya akan terlahir prematur?.


Akhirnya mereka sampai didepan rumah sakit. Wandi langsung berteriak memanggil para suster untuk datang kesana.


Para suster yang mendengar pun langsung berlarian sambil membawa branker.


''Letakkan disini pak!'' ucap suster.


Lalu Kevin meletakkan tubuh Famira di branker itu. Semua orang panik, melihat kevjn datang kesana dengan baju yang sudah berlumuran darah.

__ADS_1


''Sayang, bertahanlah. Aku ada disini untukmu" ucap Kevin sambil menggenggam erat tangan istrinya.


Sepanjang perjalanan menuju ruang UGD Kevin tak melepas genggaman tangan hingga sampai didepan pintu UGD.


''Maaf pak, anda tunggu disini,'' ucap suster.


''Tapi saya khawatir dengannya sus'' jawab Kevin.


''Kami, tahu pak. Tapi alangkah baiknya anda tunggu diluar saja, agar dokter bisa fokus saat memeriksa detak istri anda'' jelas suster dan diangguki oleh Kevin.


Sembari menunggu dokter selesai memeriksa, ia tak henti-hentinya mondar-mandir seperti seterika berjalan. Wandi meminta Kevin untuk duduk dan jangan terlalu khawatir.


''Duduklah dulu pak, jangan membuat kaki anda lelah'' ucap Wandi.


''Aku tidak bisa tenang wan, aku sangat khawatir dengan istriku'' jawab Kevin.


Kevin baru ingat lalu ia meminta Sindi dan Wandi tetap keluar kota tanpa dirinya.


''Kalian berdua datanglah ke kota Surabaya dan lakukan pekerjaan disana'' ucap Kevin.


''Tapi, bapak tidak ikut serta, lalu apakah mereka akan percaya pak?" tanya Wandi.


''Nanti akan aku kabari pihak sana dan saat ini kalian berangkat dulu'' ujar Kevin.


''Baiklah pak, kami akan berangkat. Dan semoga istri anda sehat dan anak anda juga selamat'' ucap Sindi dan diaminkan oleh Kevin.


Setelah kepergian Sindi dan Wandi, barulah Arka dan Zahra datang dengan wajah yang begitu khawatir.

__ADS_1


''Bagaimana, keadaan Famira saat ini?'' tanya Zahra.


''Masih dalam pemeriksaan dokter'' jawab Kevin.


''Apa yang terjadi sehingga Famira masuk ke rumah sakit?'' tanya Arka.


''Panjang ceritanya, nanti akan aku jelaskan'' jawab Kevin.


Setelah mengatakan itu, dokter itu keluar dari ruangan.


''Maaf, saat ini pasien harus di operasi untuk bisa menyelamatkan anaknya. Apakah anda menyetujuinya?'' tanya Rasya kebetulan ia yang menangani Famira.


''Operasi?, kenapa dokter?'' tanya Kevin.


''Saat ini dia sedang mengidap leukemia dan itu sudah sangat parah. Jika tidak dilakukan operasi maka akan membahayakan keduanya'' jawab dokter Rasya.


''Operasi? Leukemia?'' ucap Kevin dengan nada lemah dan seketika tubuhnya merosot kebawah dan duduk di lantai rumah sakit.


''Lakukan yang terbaik untuk Famira dok'' ucap Arka pada Rasya.


Kevin tak mampu berkata hanya air mata yang mengalir, bagaimana bisa ia tak mengetahui jika Famira mengidap leukemia dan sekarang sudah sangat parah. Ia merasa seperti suami yang tak berguna dan paling bodoh sampai-sampai istrinya sendiri sedang sakit ia tak mengetahuinya.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2