
Happy reading 🤗
Mulut Kevin langsung menganga dan satu tangannya menutupinya dan yang satunya memegang kertas.
Setelah membaca surat itu, Kevin memejamkan matanya sambil menengadah kan kepalanya ke atas. Lalu pandanganya tertuju pada dokter Risa.
"Dokter, apa tidak ada jalan lain selain operasi?" tanya Kevin.
"Sebenarnya, apa tuan. Tapi..." ucapnya terpotong oleh Kevin.
"Kenapa tidak anda lakukan saja dokter, berapapun jumlahnya nanti pasti akan saya bayar asalkan istri saya sembuh dan anak saya juga lahir dengan normal tidak prematur" ucap Kevin.
Seketika mata dokter Risa membulat sempurna saat mendengar Kevin bicara jika anaknya sudah lahir.
"Apa anak anda sudah lahir tuan?" tanya dokter Risa.
"Ya. Anak saya lahir secara prematur, istriku dalam keadaan kritis dan sekarang membutuhkan donoran tulang sumsum belakang" jawab Kevin.
"Bukan masalah biaya tuan, tapi keberanian untuk melakukan pengobatan yang satu ini" ucap dokter.
__ADS_1
"Pengobatan macam apa yang anda maksud?" tanya Kevin.
"Sangat beresiko tuan, tapi jika istri anda tidak sedang hamil maka tidak apa melakukan pengobatan ini, dengan cara meminum ramuan akar Bajakah. Akar ini sangat langka dan hanya ada di hutan Kalimantan Tengah, tidak ada di hutan lain, sangat langka dan susah untuk di dapat. Akar itu sangat ampuh dalam pengobatan kanker ataupun tumor. Namun waktu itu istri anda sedang hamil dan takut jika meminum ramuan ini bisa membuat masalah dengan bayi yang dikandung oleh istri anda" jawab dokter Risa.
Aaakkkhhhhh
Kevin berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Kenapa begitu berat dan sulit sekali dalam menghadapi ini semua. Oh ini cobaan diluar kemampuan Kevin.
"Sabar tuan, saya pasti nanti ada jalan keluarnya. Dan saya minta maaf karna sudah menutupi ini semua dari anda" ucap dokter Risa.
Kevin tak menjawab ia masih merasa frustasi dan ia juga meremas kertas yang ia pegang.
Namun jalan pikiran Kevin dan Famira berbeda, istrinya begitu antusiasnya ingin punya anak dan ia berikan pada suaminya, berbanding terbalik dengan pikiran Kevin.
"Apakah disini ada orang yang bisa mendonorkan tulang sumsum untuk istriku?" tanya Kevin.
"Maaf tuan, disini tidak ada yang cocok, dulu saya pernah mencoba saat nona Famira datang kesini untuk periksa kandungan" jawab dokter Risa sambil menggelengkan kepalanya.
Hanya helaan nafasnya yang keluar, lalu Kevin pamit keluar dan pergi dari situ.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih dokter. Kalau begitu saya keluar" ucap Kevin.
"Silahkan, maaf sekali lagi tidak dapat membantu anda" ucap dokter Risa tak enak hati pada Kevin.
Kevin hanya mengangguk dan ia berjalan keluar dari ruangan itu. Dokter Risa kembali duduk dan menghela nafasnya, sungguh baru kali ini ada pasangan suami istri seperti Kevin dan Famira.
"Dasar keras kepala, sudah ku bilang gugurkan saja kandungnya. Tapi dia tetap ngeyel dan sekarang malah seperti ini. Aku harap Famira sehat dan sembuh, Tuhan" gumam dokter Risa.
Kevin mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sambil menangis, ia masih terngiang-ngiang dengan isi surat itu. Kenapa ini bisa terjadi padanya, kenapa selama ini Kevin tak curiga dengan perubahan istrinya yang akhir-akhir ini terlihat aneh dan sangat manja.
Begitu banyak penyesalan dalam dirinya, sungguh Kevin rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya. Meluapkan semua beban yang ia pikul.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1