True Love

True Love
Lelah


__ADS_3

Happy reading 🤗


Semua orang saling bicara kecuali Rasya dan Tania. Mereka berdua hanya diam dan menyimak pembicaraan pada orang tua. Elia sebagai kakak dari Tania pun mengerti kenapa adiknya tidak ikut campur, apalagi dia terkenal pendiam dan jarang berkomunikasi dengan orang lain selain ayah dan dirinya.


"Bagaimana, apa kalian setuju jika menikah di akhir bulan ini?" Tanya papa Ferdinand.


"Akhir bulan ini.....?" Tanya Rasya dan Tania bersamaan.


"Iya...., kenapa apa kalian keberatan?" Tanya papa Ferdinand dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Tentu saja, keberatan. Akhir bulan ini tinggal satu minggu lagi. Apakah kami akan menikah minggu depan?" Tanya Rasya.


"Good boy, itu benar. Kalian akan menikah dalam waktu satu minggu lagi" Jawab papa Ferdinand dengan enteng tanpa beban.


"Maaf, saya tidak bisa" Ujar Tania dengan nada suara lemah.


"Kenapa nak, kenapa tidak mau, hem?" Tanya ayah Eki.

__ADS_1


"Itu terlalu cepat bagiku, yah. Kami berdua belum saling mengenal dan dalam sekejam kami menikah. Itu sulit bagiku, yah" Jawab Tania dengan kepala menunduk.


"Nah, dia saja menolak. Please jangan terlalu cepat" Timpal Rasya yang ikut membenarkan ucapan Tania.


"Baiklah, kalau begitu bulan depan saja, kita adakan acara pernikahan kalian. Sudah kami tidak ingin mendengar bantahan lagi!" Ujar papa Ferdinand.


Lalu setelah itu tidak ada lagi pembicaraan yang serius hanya ada canda tawa. Apalagi saat papa dan ayah menceritakan masa muda mereka dulu. Begitu mengasyikkan sepertinya, hingga sampai dalam waktu lama Rasya dan papa Ferdinand bertamu.


"Ya sudah hanya itu yang ingin aku sampaikan. Terima kasih sudah menjamu kami dengan makanan yang lezat" Ujar papa Ferdinand sebelum pergi.


"Kau benar, baiklah kami pamit jaga kesehatan dan jangan lupa berolahraga" Pesan papa Ferdinand pada ayah Eki.


"Baik dokter Ferdinand Syah, saya akan selalu menjaga kesehatan dan rajin olahraga" Jawab ayah.


Papa Ferdinand menanggapinya dengan senyuman dan barulah ia pergi bersama putranya. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Rasya. Ia hanya menganggukkan kepala dan akan menjawab seperlunya tanpa basa-basi.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Rasya hanya diam saja. Tak mengekspresikan perasaannya, entah itu senang, kecewa atau sedih. "Ada apa nak, kenapa sedari tadi kamu hanya diam?" Tanya papa Ferdinand sambil memegang lengan putranya.

__ADS_1


"Lelah. Aku hanya merasa lelah, pah" Jawab Rasya tanpa menoleh.


"Apa kamu tidak suka dengan perjodohan ini?" Tanya papa dengan nada suara lemah.


Tentu saja tidak. Mana ada orang yang mau di jodohkan oleh wanita asing dan belum sama sekali di kenal. Oh, kenapa aku harus berada di posisi seperti ini, aku ingin menolak namun takut jika nanti bisa melukai perasaan papa. Akhh, rasanya ingin lari dari kenyataan.


"Tidak pah, Rasya tidak mengatakan tidak suka. Hanya saja saat ini aku merasa lelah dan tidak ingin berbicara pada siapapun saat ini, pah" Jawab Rasya.


"Oh, papa kira kamu tidak suka" Ujar papa dengan napas lega. Seulas senyuman mengembangkan di bibir papa Ferdinand. Rasya yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecut, tak apa ia harus menikah dengan wanita asing. Asalkan dia wanita baik dan bisa menjadi penyemangat hidupnya.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2