True Love

True Love
Semua sudah berakhir


__ADS_3

Harapan hidup bahagia sudah tidak ada lagi dalam lembaran hidup Haida. Semua terasa sudah sirna. Kini wanita itu terpaksa harus kembali ke rumah orangtuanya lagi. Meski ada rasa tak sudi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Kau sudah kembali, jadi kau harus nurut dengan ucapan papa!"


"Kapan Haida membantah ucapan papa?"


"Terus saja menjawab, kau memang sudah tidak memiliki adab setelah pergi dari rumah ini".


"Cukup pa! Haida bukan anak kecil lagi yang selalu papa kekang dan marahi sesuka hati papa".


Haida berjalan menjauhi papanya, dia begitu muak berada di rumah ini. Restu saat berpacaran dengan Riko saja tidak di beri. Dari situlah Haida membenci sang papa.


Niat sang papa bukanlah mengekang, tapi saat itu Haida masih kelas 1 SMA. Dia seharusnya fokus belajar. Jangan pacaran, tidak boleh.


Riko memang pemuda baik, tidak masalah. Tapi takutnya nanti mengganggu waktu yang seharusnya Haida fokuskan belajar malah tersia-siakan karena memakan cinta.


Hanya berpesan jika sudah lulus, barulah mereka boleh berhubungan. Pacaran maupun menikah pun tidak di larang. Asalkan sekolah sampai lulus, membawa nilai baik.


"Sampai kapan kamu membenci papa, sayang?"

__ADS_1


Pria tua itu duduk di kursi sambil menyesap teh. Putri semata wayangnya sudah tumbuh dewasa. Mungkin memang seharusnya tidak ia atur lagi. Biarlah mencari masa depannya sendiri.


Saat di kamar, Haida mengambil foto itu. Rasanya kangen sekali dengan Rama. Pria berlesung pipi itu membuatnya ingin menangis.


"Rama, aku kangen kamu''


Jika ada Rama, pasti sekarang mereka bisa bersama-sama. Haida lupa jika dirinya pergi, maka Rama juga harus pergi dari desa itu. Bukankah Rama sudah bilang jika pergi dari desa itu, mereka tidak punya tempat tinggal lagi.


"Ya Allah, aku lupa. Sekarang gimana keadaan Rama dan ibunya?. Oh Tuhan aku merasa bersalah lagi. Atau mungkin kemarin dia ngejar-ngejar mobilku mau bilang kalau dia juga akan pergi. Sebab aku memilih pergi?"


Wanita itu mencari ponsel dan menelpon Rama. Tidak bisa tersambung, ia berdecak kesal. Kenapa tidak bisa dihubungi?


Kembali ke desa itu pun Haida rasa percuma. Rama pasti sudah pergi juga. Kini perasaannya tidak tenang. Kepikiran terus dengan nasib Rama dengan ibu sambungnya.


Mungkin jika memilih menikah, nasib mereka bahagia. Bersama-sama. Rasa cinta terbalaskan. Menikah dengan Rama. Tapi takdir tidak mudah menggariskan nasib Haida. Dia harus melewati banyak jalanan yang membuatnya berkali-kali tersandung.


Sedangkan di tempat yang dulunya di tinggali oleh Haida sedang dikerumuni banyak orang. Pak RT memutuskan jika tidak akan terjadi pernikahan antara Rama dan Haida. Wanita itu memilih pergi.


"Semua sudah clear. Jadi saya harap ini terakhir kalinya dan tidak akan ada lagi"

__ADS_1


"Iya pak, maaf sebelumnya jika membuat resah".


Rama pulang ke rumah, sang ibu membelai lembut pipi putranya. Untungnya pak RT berbaik hati. Tidak juga mengusir dirinya dari desa ini. Tapi Rama harus membuat perjanjian jika ini terulang kembali, maka dia tidak akan diampuni lagi.


"Jangan kau pikirkan lagi. Semua sudah berakhir".


"Tapi bu, yang saya sesalkan bukan kepergian Haida. Hanya saja...."


"Jangan bohongi ibumu. Semua terlihat jelas di matamu. Sebenarnya kamu menyukai Haida kan. Tapi rasa malu kamu yang tidak kamu singkirkan. Sekarang dia sudah pergi"


Rama diam, membiarkan sang ibu berbicara, memang apa yang dikatakan oleh ibu benar. Dia suka Haida, tapi tidak berani mengungkapkan. Mungkin saat Haida bertanya seharusnya ia menjawab, karena dirinya mencintai Haida.


Pasti semua akan menjadi akhir bahagia. Rasa malu yang ia miliki serta berpikir jika Haida hanya milik Riko. Dia hanya menjaga amanat. Mungkin sampai sini amanat ia emban. Selepas itu, biarkan Haida pergi dari kehidupannya.


"Maafkan saya Riko, saya sudah tidak bisa lagi menjaga Haida. Semoga saja dia tetap dalam lindungan Allah".


Saatnya membuka lembaran hidup baru tanpa adanya Haida. Seharusnya dia bebas, tidak lagi menjaga anak orang. Ponsel Rama rusak, jadi tidak bisa menghubungi Haida.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2