
Happy reading ๐ค
Satu minggu kemudian, ayah sudah sehat. Sesuai janji Tania, hari ini akan mengadakan pertemuan keluarga. Tania dan Elia membantu bibi untuk bersih-bersih rumah karena nanti siang ada tamu yang akan datang.
"Nanti tamu dari pihak pria akan datang, ayah minta kamu bersiap untuk menyambut mereka, nak" Ucap ayah pada Tania.
"Iya ayah, nanti Tania akan melakukannya" Jawab Tania.
Rumah mereka terkesan tidak terlalu mewah, tapi sangat nyaman jika bertamu disana. Kerjasama mereka depankan, jadi dalam waktu singkat mereka sudah selesai melakukan bersih-bersih. Semua bersih dan kinclong.
"Akhirnya bersih, sekarang saatnya mandi'' Kata Elia sambil mengelap keringat yang membasahi dahinya.
"Iya kak, melelahkan juga hari ini" Jawab Tania.
"Ayo semuanya mandi" Ajak ayah yang melihat kedua putrinya masih terduduk di sofa.
"Baik ayah....." Jawab mereka sambil mengacungkan jempol.
๐๐๐๐
"Rasya, ayo bersiap sebentar lagi kita akan berangkat ke rumah tuan Eki" Ucap papa Ferdinand.
"Apakah harus sekarang pah? Aku tidak ingin menikah" Jawab Rasya sambil menyipit kan matanya.
"Umurmu sudah tidak muda lagi. Di usia 30 tahun seharunya sudah punya anak 2. Tapi lihatlah dirimu ini, tidak memiliki seorang kekasih dan sekarang untuk apa kau terus melajang nak. Jika sudah cukup umur, maka sudah seharusnya kita melakukan sunah nabi Muhammad yaitu menikah. Menikah itu adalah ibadah yang harus ditunaikan. Jika menundanya maka kita akan mendapatkan dosa" Ceriwis papa Ferdinand pada anak sulungnya itu.
__ADS_1
"Iya, Rasya tau jika menikah adalah salah satu ibadah yang harus di tunaikan. Namun jika wanita pilihan papa tidak pas di hatiku bagaimana?" Alasan Rasya.
"Tidak ada yang tidak pas untukmu. Sudah jangan banyak alasan cepat bersiap dan kita akan berangkat" Perintah papa Ferdinand.
Dengan langkah gontai Rasya masuk ke dalam kamarnya. Menuju kamar mandi membersihkan diri, mengguyur tubuh dengan air dingin.
Rasya sudah selesai bersiap, ia memakai stelan jas warna hitam dan sepatu pantofel. Papa Ferdinand sudah menunggunya di ruang tamu. Suara derapan langkah Rasya terdengar dari bawah.
"Ayo pah, kita berangkat" Ajak Rasya sambil mengancing jasnya.
"Sungguh tampan anak papa" Pujinya sambil tersenyum tipis.
"Tentu saja, kan papa adalah orang tuaku" Jawab Rasya.
Lalu mereka pun segera masuk ke dalam mobil, kedua adik Rasya sedang bekerja si luar negeri. Di sana mereka menjadi pemimpin perusahaan. Hanya mereka berdua saja yang bebas memilih jalan hidup, sedangkan Rasya berbeda. Ia harus mengikuti kehendak dari papa Ferdinand.
"Jauh juga rumahnya...." Gumam Rasya.
30 menit kemudian, mereka berdua sudah sampai, tuan Eki sudah menunggu kedatangan mereka di teras rumah, sedangkan kedua putrinya sedang bersiap di kamar.
"Selamat siang, tuan Ferdinand" Ucap ayah sambil berjabat tangan.
"Siang juga tuan Eki. Senang akhirnya anak kita bisa menerima ini" Jawabnya sembari menerima jabatan tangan.
"Wah, apakah ini putramu?" Tanya ayah saat melihat Rasya menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Tentu saja, dia Rasya putraku. Lalu dimana putrimu?" Balik bertanya.
"Ada di dalam. Ayo masuk semua" Jawab ayah sambil mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
Mereka duduk dengan tenang, bik Suni datang memberikan minuman serta makanan kecil untuk Rasya dan papa Ferdinand. Lalu tak berselang lama, Elia dan Tania turun bersama dan menghampiri ayah mereka.
"Selamat siang semuanya....," Ucap Elia dan Tania bersamaan.
"Siang, wah cantik-cantik sekali kalian" Jawab papa Ferdinand.
Semburat merah di wajah Elia dan Tania muncul, mereka tersenyum malu sebab pujian dari papa Ferdinand.
"Ayo duduk.....!" Ajak ayah.
"Apakah kamu yang bernama Tania?" Tanya papa Ferdinand pada Elia.
"Hehehe, bukan om. Nama saya Elia Oliveira dan ini yang namanya Tania" Jawab Elia.
"Oh, salah orang ternyata" Ujar papa Ferdinand sambil tertawa kecil.
Rasya hanya cuek tak ingin ikut nimbrung dalam percakapan mereka. Hanya menatap sekilas wajah Tania lalu ia melengos ke arah samping sambil membuang napas.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.