
Happy reading ๐ค
Sudah satu minggu mereka tinggal di rumah tuan Eki. Rasya tidak mau berlama-lama disana, jadi ia mengajak istrinya untuk tinggal di rumah minimalis modern, yang tidak jauh dari rumah sakit.
Semua anggota keluarga sudah menyetujui untuk membiarkan Rasya mengayomi Tania seorang diri dan bisa mendidiknya menjadi istri yang baik.
"Kami pamit ayah, papa...." Ucap Rasya sembari menyalami tangan mereka.
"Iya nak, kalian hati-hati dan pesan ayah tolong jaga Tania. Ayah tau jika Tania adalah gadis manja maklumi dia, ya nak" Kata tuan Eki sebelum melepas kepergian Tania dan Rasya.
"Baik ayah, aku janji akan menjaga Tania" Ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Rasya kamu sebagai lelaki harus bisa lebih dewasa lagi dan jika ingin menegur istrimu pakailah cara yang baik tanpa kekerasan!"
"Baik pah, Rasya akan selalu ingat itu"
Kemudian mereka pun pergi dari kediaman rumah tuan Eki, yang kebetulan papa Ferdinand sedang berkunjung disana. Sebenarnya ini keputusan yang berat untuk Tania, dia tidak ingin berjauhan dari ayahnya. Tapi ia harus ikut suami kemanapun dia pergi dan tinggal. Tanggung jawab seorang ayah untuk menjaga putrinya sudah di gantikan oleh Rasya. Kini dia lah yang harus bisa menjaga Tania, sang ayah saja bisa tentu saja Rasya akan mencobanya, menyayangi dan mencintai istrinya.
"Kau kenapa, Tania....?" Tanya Rasya tanpa menoleh.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja sedih" Jawabnya lesu.
"Sudah jangan bersedih, aku suamimu yang akan menjagamu" Kata Rasya menenangkan hati istrinya.
"Kau memang suamiku tapi sang ayah tidak ada disamping ku" Sahut Tania sambil menatap wajah suaminya.
Kemudian Rasya pun membelokkan mobilnya di tepi jalan untuk menepi sebentar. Pandangannya tertuju pada wajah masam istrinya, terlihat sekali jika ia tidak bisa berpisah dari ayahnya. Jari Rasya mengusap wajah Tania dengan lembut dan merangkup nya sehingga mata mereka saling bertemu.
"Aku akan menjadi suami sekaligus ayahmu. Menjagamu dan menyayangimu selamanya. Jangan bersedih, meski belum ada benih cinta diantara kita, aku akan tetap selalu ada untukmu, Tania". Ucap Rasya pelan dan terdengar bermakna sekali.
Nyes, hati Tania kayak di siram air dingin. Kata-kata Rasya barusan membuat hatinya menjadi tenang, nyaman dan juga rasa sedih terselip disana. Apakah dokter galak ini bisa membuatnya bahagia? Cinta tidak ada diantara mereka, hanya ada ikatan pernikahan suci yang mengikat mereka berdua.
"Benarkah? Benarkah kau akan selalu ada untukku?" Tanya Tania berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Iya, jadi kau jangan bersedih lagi" Jawab Rasya yang kemudian mencium kening istrinya.
Tania sempat kaget, namun ia tidak menolaknya. Ia menikmati saat bibir Rasya menyentuh keningnya dengan lembut. Lalu air mata pun jatuh, tangisan bahagia menyelimuti suasana didalam mobil.
"Apa kau sudah merasa lebih tenang?" Tanya Rasya sambil mengusap wajah istrinya.
Wanita itu pun langsung mengangguk lalu tersenyum manis padanya. Seperti ada benteng yang akan menjaga Tania dan juga melindunginya dari segala apapun yang membahayakan dirinya.
Lalu Rasya pun mengaggukkan kepala, ia sudah merasa jika Tania tidak seperti tadi yang terlihat sedih. Mobil pun sudah membelah jalanan hingga akhirnya mereka sampai di rumah yang Rasya beli untuknya dan juga keluarga kecilnya nanti.
Tania keluar dan melihat rumah itu, minimalis namun indah sekali pemandangan disekitarnya. Sedangkan Rasya pergi ke bagasi mobil untuk mengambil koper yang berisi pakaiannya dan juga punya Tania.
"Apa kau suka dengan rumah ini?" Tanya Rasya sambil menarik koper.
"Iya, aku menyukainya..." Jawab Tania seraya menoleh.
"Bagus, tolong buka pintunya! Aku akan menarik koper ini" Titah Rasya sambil menyerahkan kunci rumah.
Tania segera mengambilnya dan berusaha membuka pintu. Seketika sudah terbuka Tania merasa kagum, rumah sudah disini dengan segala keperluan, seperti sofa, TV, dan juga bingkai foto pernikahannya. yang terpampang jelas di ruang tamu.
"Assalamualaikum...." Ucap Rasya ketika melangkah masuk sebagai awal ia tinggal di rumah barunya.
"Apakah ini kau yang mempersiapkan segalanya?" Tanya Tania dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Iya, ini aku sudah siapkan untuk kita berdua. Semoga kau bisa betah tinggal disini" Jawab Rasya.
''Tapi aku tidak akan pernah menyewa pembantu rumah tangga disini'' Ucapnya lagi.
"Kenapa....?" Tanya Tania tak mengerti.
"Maaf kan aku Tania, bukannya ingin menjadikan dirimu sebagai pembantu dirumah ini. Tapi aku ingin melatih dirimu untuk menjadi wanita yang serba bisa dan pandai mengurus suami" Jawab Rasya dengan hembusan napas beratnya.
"Oh...., aku mengerti. Memang benar yang kau katakan" Ujar Tania.
"Ya sudah mari masuk ke kamar. Bereskan semua pakaiannya. Dan aku akan membantumu" Ajak Rasya pada istrinya.
__ADS_1
Sang istri pun langsung mengangguk dan mereka berjalan mengarah pintu kamar. Membuka pintu lemari dan mulai menyusun pakaian. Rasya memberitahu istirnya bagaimana cara menyusun yang rapi dan enak di pandang. Tania hanya mangut-mangut saat Rasya berceramah ria.
Lalu setelah itu, Rasya memberikan secarik kertas yang berisi peraturan yang harus Tania patuhi. Semuanya bertujuan agar Tania menjadi mandiri dan tidak manja lagi menggantungkan semuanya pada orang lain.
Ya, kini Rasya tidak lagi memanggil nama istrinya dengan sebutan gadis manja, tapi berganti dengan sebutan istri kecilku yang manja. Tapi meski manja, sebenarnya Tania itu orangnya setia banget lho dan gak marah jika ada orang yang menegurnya jika ia salah. Asal dengan cara yang lembut sehingga hatinya tidak terasa nyeri ketika mendapat lontaran kata.
"Ini semua aku yang melakukannya...?" Tanya Tania seakan tak percaya.
"Tidak, aku akan membantumu juga. Nanti aku akan fokus mengajarimu dan istirahat dari dunia kedokteran" Jawab Rasya.
"Tapi apakah itu tidak mengganggu pekerjaan mu dan apakah nanti tidak terbengkalai?"
"Tenang lah, ada banyak dokter andalan di rumah sakit papa".
"Maaf, aku bukan istri yang kau idamkan". Ucapnya dengan nada rendah.
"Hei, jangan berkata seperti itu Tania. Meski kau bukan idaman ku, tapi sekarang status mu adalah istri dari Rasya Ferdiansyah. Maka aku akan melakukan apa saja agar kau bisa menjadi wanita idaman ku".
"Benar kah? Jadi kau rela mundur dari dunia kedokteran hanya demi merubah diriku?"
"Iya, aku sudah berjanji pada ayah dan papa untuk menjagamu dan menyayangimu".
"Tapi jika aku tidak bisa menjadi wanita yang kau idamkan, bagaimana?"
"Jika tidak bisa maka aku akan terima, setiap orang punya kemampuan masing-masing. Apapun nantinya, kau akan tetap menjadi istriku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu".
Tulus sekali Rasya mengucapkan kalimat itu dari lubuk hati yang paling dalam. Tidak ada paksaan atau hanya ilusi. Itu semua nyata dan tidak ada settingan.
Waktu sudah menjelang sore, Rasya mengajak Tania ke dapur untuk tes memasak. Celemek sudah terpasang di tubuh kedua insan tersebut.
"Tania, tolong ambilkan satu sayur di dalam kulkas!"
"Iya sebentar, aku ambilkan"
Tania membuka kulkas dan mengambil sayur kacang panjang. Ia letakan di atas meja, dan Rasya memintanya untuk memotong kacang itu menjadi bagian kecil-kecil.
''Sudah ku potong, lalu apa yang harus aku lakukan?"
Oke, Tania mengerti lalu ia membawa sayur kacang itu untuk di bersihkan. Sedangkan Rasya sibuk memotong bawang merah dan putih serta cabai untuk membumbui sayurnya.
"Ini sayurnya sudah aku cuci bersih"
"Letakan disana dan sekarang tumis bumbu ini!"
"Aku takut, nanti gosong kalau aku yang melakukannya"
"Tenang saja, jika gosong, maka coba lagi sampai bisa dan tidak gosong lagi''.
Dengan hati-hati Tania menuangkan minyak goreng di atas wajan dan Rasya yang memperhatikan dari samping. Kemudian setelah sudah panas, ia memasukan bumbu itu.
"Apakah ini sudah....?"
"Belum, tunggu sampai warnanya berubah dan baunya yang harum".
"Okee....."
Beberapa menit kemudian.
"Sudah harum dan warnanya juga berubah".
"Bagus, masukan sayurnya dan tutup wajan itu jangan diaduk-aduk dulu''.
"Lho nanti gak matang sayurnya?"
"Nanti akan aku beritahu caranya agar matang".
"Sekarang beritahu aku, kenapa bisa tumisan kangkung mu itu menghitam?"
"Saat aku memasak nya aku selalu membuka tutup wajan dan membolak-balikkan sayur itu, eh malah seperti itu jadinya".
__ADS_1
"Ya Tuhan.... Memangnya bibi dan kakakmu tidak memberitahu jika memasaknya seperti itu tidak benar?"
"Sudah, tapi aku ngeyel..." Sambil nyengir lebar.
"Dasar keras kepala..." menepuk jidatnya karena mendengar jawaban dari Tania.
Kemudian Rasya membuka tutup itu dan bumbu lain pun ia masukkan ke dalam, seperti garam, dan gula secukupnya.
"Sekarang kau aduk itu...!"
"Oke, akan aku aduk"
"Pelan-pelan Tania, lihat lah sayurnya banyak yang keluar dari wajan" ucap pelan tapi tegas.
"Maaf, aku tidak sengaja..."
Lalu Rasya pun beranjak dari duduknya dan menghampiri istrinya yang sedang berdiri di depan kompor gas. Berdiri dibelakangnya, tangan kanannya meraih tangan Tania yang memegang spatula.
"Seperti ini caranya, agar sayurannya tidak keluar...." Lembut sekali ia bicara di telinganya dan membuat bulu kuduk Tania berdiri.
Dengan pelan ia mengaduk dan Tania pun mengikutinya. Kepala Tania bersandar pada dada bidang suaminya. Romantis ya, tapi mereka berdua gak nyadar.
Readers bayangin deh, pas kalian masak tiba-tiba suami datang dan membantu kalian masak kayak yang dilakukan sama Rasya ke istrinya.
"Sudah matang belum ini...?"
"Mana, coba ambilkan satu biar ku coba"
Lalu Tania pun mengambil garpu yang sudah ia siapkan. Menusukkan satu potong dan meniupnya dengan pelan. Kompor pun sudah dikecilkan volumenya sehingga tidak akan gosong.
Merasa sudah tidak panas lagi, kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Tubuhnya yang kalah tinggi oleh Rasya terpaksa harus berjingkit untuk bisa menyuapinya. Posisi mereka seperti sedang berpelukan, sampai-sampai Rasya tidak sadar jika tangan kirinya meraih pinggang istrinya agar lebih mudah ia menerima suapan sayur.
Menguyah sambil menimang rasa. Pas, sudah matang.
''Gimana rasanya beritahu aku?"
"Enak, sudah matang dan sudah bisa dihidangkan"
"Haah, benarkah biar ku coba juga". Hendak berputar badan, tapi Rasya menahannya.
"Sini berikan garpu itu, biarkan aku yang mengambilnya".
"Baiklah ini garpu nya" Tania hanya patuh.
Dengan cepat Rasya mengambilnya dan ia mematikan kompor gas.
"Ini, sudah ku tiup. Buka mulutmu....!''
Beberapa detik kemudian
"Emmm, enak lho rasanya"
"Sungguh? Berati kita berhasil memasaknya dan kau bisa belajar dari hari ini".
''Iya kau benar, baiklah sekarang aku sudah tau cara menumis sayuran yang benar".
"Bagus, istri kecilku yang manja...." Sambil mengusap rambut Tania.
Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya, sudah biasa dengan sebutan manja. Memang begitu kenyataannya, Tania tidak marah.
Bersambung
.
.
.
Part selanjutnya, masih ya si Rasya ngajarin istri kecilnya untuk berubah menjadi wanita serba bisa dan tidak manja lagi. Kalo sekarang tentang memasak, nah selanjut masih rahasia.
__ADS_1
Agak aneh ya di part ini wkwkwkwk, mohon maap aja ya๐