True Love

True Love
Belajar


__ADS_3

Happy reading 🤗


Tidur dengan nyenyak tanpa ada yang menggangu. Dentingan jarum jam yang terdengar dan hanya ada suara dengkuran halus Tania dan Rasya tidur. Hingga menjelang waktu shalat subuh, Rasya bangun lebih dulu. Dia mandi membersihkan tubuhnya sebelum menghadap sang khalik. Setelah di rasa sudah cukup bersih ia pun segera mengambil air wudhu dan keluar dari sana menggunakan sarung serta baju koko. Peci hitam sudah melekat di kepalanya.


"Tania, bangun! Waktu subuh t'lah tiba" Ucap Rasya sambil menarik selimut.


"Haaaah, udah subuh ya 5 menit lagi aku bangun" Jawab Tania seraya menggeliatkan tubuhnya dan kembali menarik selimut.


Sabar Rasya, melihat tingkah istrimu ini. Jangan pakai kekasaran untuk membuatnya menurut padamu. Cukup menasihatinya dengan lembut. Mencoba lagi membangunkan Tania dengan cara yang lembut.


"Tania, ayo bangun. Jangan menunda-nunda waktu shalat. Dosa besar hukumnya, ayo bangun, sebelum aku menyu....."


"Baik-baik aku bangun. Jangan dilanjutkan lagi ucapan mu itu" Sergah Tania dengan menyibak selimut tebal itu dan berjalan menuju kamar mandi.


Alhamdulillah berhasil, kamu berhasil membujuk istrimu. Meski harus sedikit mengancamnya. Tak apa, asal istrinya bisa menurut dan patuh dengan titahnya.


Lalu mereka berdua pun segera melaksanakan shalat subuh berjamaah di dalam kamar. Rasya menjadi imamnya, dan Tania makmumnya. Melantunkan ayat-ayat Allah dengan fasih dan benar membuat kantuk Tania hilang seketika. Ternyata di balik sikap galaknya dia punya jiwa religi yang tinggi. Membaca ayat-ayat Allah dengan benar, yah meski Tania tidak terlalu pandai menilainya.


Setelah selesai shalat subuh, Rasya berganti pakaian joging. Ia akan mengajak sang ayah untuk joging bersama untuk olahraga pagi. Pukul 05.00, Tania hendak menuju ranjang untuk tidur kembali. Dengan cepat Rasya mencegahnya.


"Kau mau kemana, Tania?" Tanya Rasya sambil mengalungkan handuk kecil dilehernya.


"Mau apalagi selain tidur. Aku mengantuk sekali dan ingin tidur" Jawab Tania terus berjalan.


"Stop! Jangan tidur dulu, ini sudah pagi dan tugas seorang istri adalah pergi ke dapur dan memasak untuk suaminya" Ucap Rasya ketika melihat Tania sudah di samping ranjang.


Dengan rada cuek Tania menjawab sambil memutar kepalanya menghadap wajah Rasya.


"Aku mengantuk dan tidak bisa memasak. Lagian di rumah ini ada pembantu yang bisa masak" Jawab Tania lalu kembali ingin mendudukkan diri di kasur.


"Mulai dari sekarang kau harus bisa masak, mencuci pakaian kalau tidak bisa, bagaimana nanti kau akan mengurus keluarga?" Ujar Rasya dengan tegas.


Tania pun langsung menghela napasnya dengan hembusan berat. Dia lupa kalau sekarang dia sudah menikah dan punya tanggung jawab sebagai seorang istri. Tapi apalah daya, Tania memang tidak bisa memasak, mencuci pakaian saja tidak pernah. Selalu mengandalkan pembantu.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak bisa keduanya" Jawab Tania sambil menoleh ke arah pria itu.


"Belum bisa bukan tidak bisa! Dan sekarang kau bisa mencobanya, dengan memasak sesuatu atau membantu bibi memasak. Dan kau bisa belajar darinya. Apa kau mengerti?" Tanya Rasya pada istrinya yang masih menunduk.


"Tapi......."


Dengan cepat Rasya menarik tangan Tania dan membawanya keluar kamar dan menuju dapur. Tania tidak bisa memberontak, dia pasrah saja karena apa yang di katakan oleh Rasya itu benar.


Sesampainya di dapur, bibi Eni pun kaget pasangan pengantin baru ini datang ke dapur bahkan ini masih sangat pagi untuk bangun.


"Lho non, aden kok malah ke dapur ini kan masih pagi?" Tanya bibi dengan heran.


"Tania ingin belajar memasak bik, apa bibi bisa mengajarkan padanya bagaimana cara memasak?" Sahut Rasya dengan tersenyum sambil melirik sekilas wajah Tania.


Lalu pandangan bibi tertuju pada Tania yang sedari tadi menunduk lemas. Apa benar yang dikatakan oleh Rasya jika Tania ingin belajar?


"Memasak? Sejak kapan non Tania mau belajar masak. Pergi ke dapur saja tidak pernah apalagi memasak?" Ucapnya dalam hati, masih tak percaya jika Tania ingin belajar masak.


"Astaghfirullah, iya den bibi bisa" Jawab bibi kaget.


"Bagus ya sudah kalau gitu saya tinggal dulu untuk joging bersama ayah" Ucap Rasya lega.


Sepeninggalan Rasya, istrinya kini sedang belajar bersama bibi Eni dan tak lama kemudian di susul oleh Elia. Dia juga kaget kok adik manjanya ada di dapur. "Kamu ngapain dek, disini?" Tanya Elia sambil menuangkan air minum.


"Belajar masak...." Singkat dan membuat Elia ternganga tak percaya.


"Masak...?" Ucapnya dengan tertawa.


"Heeemmm...."


"Sejak kapan kau kepikiran untuk belajar masak?"


"Tidak ada, aku hanya menuruti perintah suamiku"

__ADS_1


"Bagus sekali perintah suamimu. Patut diacungi jempol untuknya"


"Terserah, lalu apa yang kakak lakukan disini?"


"Aku mengambil air minum karena di kamar tidak ada"


"Suamimu, dimana...?"


"Joging bersama ayah dan adik ipar"


"Ya sudah ayo kita masak bersama, bibi tolong bantu kami ya"


"Baik non, saya siap membantu" Jawab bibi Eni dengan semangat. Kedua nona muda di rumah ini bisa sedikit dewasa setelah menikah.


Elia dan Tania banyak sekali melakukan kesalahan, tapi masih mending Elia ketimbang Tania. Ia melakukan kesalahan karena Tania kurang hati-hati saat memasak.


Menggoreng ikan gosong, memasak sayur terlalu lama hingga sudah tak layak untuk di makan. Tidak ada yang beres jika Tania yang mengurus. Tapi dengan sabar bibi Eni dan Elia membantu Tania agar tidak mudah menyerah begitu saja.


"Aku tidak bisa memasak, selalu saja gagal" Ucap Tania menyerah pada keadaan.


"Jangan seperti itu dek, inikan masih awal kamu di dapur. Masih ada waktu agar bisa memperbaiki cara memasakmu" Sahut Elia.


"Benar non, ini masih awal mula. Bibi juga dulu kayak gitu. Bahkan lebih parah dari non Tania"


Tania hanya tersenyum kecut, entahlah dia mudah sekali menyerah. Mungkin mencoba sekali lagi, boleh lah ya.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2