
Happy reading 🤗
Kevin sudah pulang ke rumah dan berniat malam ini untuk menanyakan pada Famira, apakah dia marah ketika ia berdekatan dengan Zevana tadi.
''Assalamualaikum,'' ucap Kevin.
''Waalaikumsalam,'' jawab bik Sarmi sambil membuka pintu rumah.
''Famira dimana bik?'' tanya Kevin
''Ada dikamar non Famira den, enggak keluar kamar dari tadi'' jawab bik Sarmi
''Oh...., ya sudah kalau begitu. Kevin ke atas dulu bik'' ucap Kevin dan diangguki oleh bik Sarmi
Kevin berjalan menaiki anak tangga sedangkan bik Sarmi menutup pintu.
Kevin mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada sahutan. Lalu ia memegang handle pintu dan ternyata tidak terkunci. Langsung saja Kevin masuk dan melihat Famira sedang tertidur pulas di atas ranjang.
Kevin menghampirinya dan duduk di tepi ranjang, memerhatikan wajah Famira yang teduh. Saat didalam kamar Famira melepas hijabnya dan membiarkan rambutnya yang panjang itu terurai.
Kevin mengelus pucuk kepala Famira dengan lembut. Bahagia saat melihat Famira sedang tidur dan ia terlihat sangat cantik meski sedang tidur.
''Sayang, maafkan aku jika selama ini aku sudah menyakiti hatimu.'' ucap Kevin sambil mengelus rambut istrinya
Famira dapat merasakannya tapi ia hanya diam tak merespon dan membiarkan Kevin bicara panjang lebar. Kevin berbicara sangat panjang sekali hingga terlihat sedang mendongengkan sebuah cerita untuk Famira tidur.
''Selamat tidur sayang'' ucap Kevin lalu mencium kening istrinya.
Kevin masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.
Sampai didalam kamar mandi, Kevin baru ingat kalau ia belum mengabari Wandi jika ia tidak kembali ke kantor lagi.
Setelah selesai mandi, Kevin keluar dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya dan berjalan menuju nakas dan mengambil ponselnya.
Kevin mengirimkan pesan singkat kepada Wandi. Setelah itu ia pergi menuju ruang ganti pakaian. Mengganti pakaian dengan pakaian santai, pikirannya masih kacau. Dan akan menetralisir nya nanti malam, supaya masalah cepat selesai dan tak berkepanjangan.
Malam harinya
Setelah selesai makan malam, Famira lebih dulu masuk kedalam kamar, mengganti pakaian dengan piyama tidur, sedangkan Kevin masih sibuk dengan pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan.
Akhirnya selesai, saatnya ia kembali ke kamarnya dan mengajak Famira bicara.
Ketika memasuki kamarnya, Kevin melihat Famira sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel.
''Aku mau bicara sama kamu, sayang'' ucap Kevin lembut
''Katakan, ada apa?'' tanya Famira dingin
''Apa kamu marah padaku?'' tanya Kevin
Tak menjawab pertanyaan dari Kevin
__ADS_1
Sabar Kevin kamu harus sabar untuk bisa menaklukkan hati istrimu.
''Sekali lagi aku tanya, apa kamu marah padaku'' ucap Kevin
Famira hanya memandang wajah Kevin lalu ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah ponsel.
Kevin geram lalu ia menyaut ponsel yang Famira pegang dan menyembunyikannya di balik bajunya.
''Kembalikan ponselku...'' ucap Famira berusaha mengambil ponsel yang Kevin rampas.
''Jika ingin ponsel kembali, maka jawablah dulu pertanyaan ku'' ujar Kevin
''Pertanyaan macam apa yang harus aku jawab sedangkan kamu sudah tau jawabannya'' ucap Famira sambil sedikit berteriak
''Apa seperti ini cara seorang istri menjawab pertanyaan dari suaminya?'' tanya Kevin.
Barulah Famira sadar jika tadi ia berkata dengan menggunakan nada tinggi pada suaminya. Astaghfirullah, Famira khilaf.
''Maaf....'' satu kata yang terucap
''Aku ingin membicarakan dan menjelaskan hal tadi saat di kantor'' ucap Kevin
''Apa yang perlu kamu bicarakan dan jelaskan padaku. Semuanya sudah jelas'' jawab Famira
''Belum....'' ujar Kevin
''Aku tidak ingin bicara padamu'' ucap Famira hendak beranjak dari duduknya. Dengan cepat Kevin menarik tangan Famira agar tetap duduk di tempatnya.
''Tidak....Aku tidak mau, lepaskan tanganku'' ucap Famira sambil memberontak.
Kevin tak melepaskan genggaman tangannya, justru ia menarik tangan Famira dan membuat jatuh dalam pangkuannya.
Famira semakin memberontak dan memukul bahu Kevin. Tak berpengaruh bagi Kevin karna menurutnya itu tidak sakit.
''Lepaskan aku...., apa mau mu?'' tanya Famira seakan ingin menangis
''Dengarkan penjelasan ku'' jawab Kevin
''Aku tidak mau, semuanya sudah jelas'' ucap Famira dan air matanya pun tumpah
Melihat Famira menangis lalu Kevin langsung memeluknya dengan erat dan Famira pun langsung memukul dada bidangnya, tak apa biarkan Famira meluapkan emosi nya terlebih dahulu, jika sudah puas maka Kevin akan membuat suara.
Akhirnya Famira menyerah dan berhenti memukuli dada Kevin. Ia diam tak memberontak dan menyembunyikannya kepalanya di dada Kevin.
Kevin menambah erat pelukannya dan sesekali mencium kening istrinya. Lalu ia merangkup wajah Famira dan menyatukan keningnya dengan kening istrinya, hingga wajah mereka saling bertemu dan napas mereka saling bertabrakan.
''Jangan menangis lagi, tolong dengarkan penjelasanku dulu'' ucap Kevin
Famira diam tak merespon ucapan Kevin tapi pandangannya tetap menatap wajah Kevin.
''Terkadang apa yang kita lihat tak selalu sama dengan yang kita dengar. Kamu tau kan pepatah itu'' ucap Kevin
__ADS_1
''Lalu, apa hubungannya denganku?'' tanya Famira
''Kamu hanya melihat tapi tak mendengar apa yang aku katakan pada Zevana saat di ruangan tadi. Kamu salah paham sayang'' jawab Kevin
''Benarkah...., apa kamu tidak sedang berbohong padaku?'' tanya Famira
''Lillahitaala, aku tidak berbohong padamu, sayang'' jawab Kevin
Lalu ia menceritakan semua kisah awal saat ia bertemu dengan Zevana dan hubungannya sampai saat ini. Menceritakan sedetail-detailnya agar Famira percaya padanya.
''Bagaimana, apa kamu percaya padaku?'' tanya Kevin
Famira belum menjawab, ia masih memikirkan nya dan belum memberikan jawabannya pada Kevin.
''Tataplah mataku, apakah disini ada kebohongan yang aku sembunyikan darimu'' ucap Kevin
Famira mendongak menatap wajah Kevin dengan sangat intens, netra mata mereka bertemu, tidak berkedip hingga beberapa detik.
"Apakah suamiku ini tidak berbohong, atau hanya sekedar ingin menenangkan diriku saja" gumam Famira
Lalu ia teringat dengan perkataan Zahra beberapa bulan lalu, jika Kevin belum pernah berpacaran dan baru kali ini ia dekat dengan wanita dan sekarang sudah menjadi istrinya.
Famira harus percaya dengan suaminya. Karna pernikahan itu harus dilandasi dengan rasa kepercayaan pada pasangan masing-masing.
''Apa kamu masih meragukan cintaku padamu, sayang?'' tanya Kevin
''Aku percaya padamu. Tapi ku mohon jauhilah Zevana itu. Aku tidak suka dengannya'' jawab Famira
Kevin langsung tersenyum dan mengangguk, lalu ia memeluk tubuh Famira. Kali ini Famira membalas pelukannya. Di sela pelukannya Famira mengaduh.
''Aduh...'' ucap Famira
''Kenapa sayang?'' tanya Kevin
''Anak kita nendang perut aku mas'' jawab Famira
''Benarkah...., bagaimana rasanya ditendang, oleh bayi?'' tanya Kevin
''Geli banget...'' jawab Famira
lalu Kevin menempel kan wajahnya di perut Famira dan menciumnya berulang kali sampai puas.
Famira belajar dari peristiwa ini, jika tak selamanya apa yang kita lihat itu selalu benar. Karna mungkin bisa saja jika saat kita melihat sesuatu dan kita langsung salah tanggap maka nanti akan menimbulkan rasa saling curiga. Dengarkan lah penjelasan dari orang yang bersangkutan sebelum kamu menyesal karna sudah menaruh rasa curiga padanya dan kamu belum tentu tau jawaban yang sebenarnya.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1