True Love

True Love
Don't leave me alone hubby!


__ADS_3

"Suami anda, tid..." Masih menggantung dan membuat Tania hilang kendali. Sudah tidak sabar dia menunggu jawaban dari bibir dokter Ari.


"Minggir!" Bentaknya mendorong tubuh dokter Ari untuk menjauh dari hadapannya.


Ia akan tau jika sudah melihat keadaan suaminya. Penjelasan dokter itu hanya muter-muter, gak selesai-selesai. Ibarat lagi nyuci baju di mesin, lambat!.


Ruang IGD sudah terbuka dengan kasar, Tania menerobos masuk dan di sana masih ada beberapa suster sedang mengelap beberapa luka darah yang mulai mengering dan bekas jahitan di pelipis kening Rasya.


"Rasya...!" Teriaknya dan membuat beberapa suster terlonjak kaget.


Ada wanita yang berani masuk tanpa izin dokter. Sempat menghalangi Tania masuk, tapi dokter Ari datang dan memberi isyarat pada suster agar membiarkan Tania masuk ke dalam untuk mengecek kondisi Rasya saat ini.


Para suster patuh, mereka keluar dan membiarkan Rasya dan Tania berdua di dalam sana.


Air mata wanita ini jatuh membasahi pipi, mengalir sederas sungai yamuna, secepat kilat ia berlari menuju branker, di lihatnya pria tak berdaya, wajah tidak rupa lagi dan juga pakaian yang berubah warna.


Ingin berteriak tapi sudah tidak kuasa, hanya air mata yang keluar. Wanita ini membelai wajah suaminya dengan tangan yang bergetar hebat, bahkan bercak darah masih ada di wajahnya belum sempat terbersih kan oleh suster itu.


Telapak tangan Tania penuh dengan noda merah, semakin tak kuasa ia membendung air matanya. Sudah berkali-kali mencoba untuk tenang, tapi tetap saja tidak bisa.


"Rasya suamiku...., no kamu gak boleh tinggalin aku" Ucapnya dan langsung memeluk tubuh suaminya. Menangis di atas dadanya, menumpahkan segala kepedihan yang ia rasa akan tidak berdayanya Rasya saat ini.


Dulu kau pernah bilang bukan, hanya aku yang kau cintai dan sayangi. Tapi kenapa kau sekarang mau meninggalkan ku sendiri saat benih cinta mulai tumbuh di hatiku.


"Don't leave me alone hubby, please wake up now...." Ucapnya sesegukan sampai matanya Tania membengkak.


Apakah ini sudah terlambat untuk menyatakan cinta kepada suami? Tidak adakah lagi waktu untuk bisa bersamanya walau hanya dalam kedipan mata?


Saat ini perasaan takut akan kehilangan sosok pria yang sudah bersama hingga satu bulan belakang ini pun muncul. Siapapun tidak akan pernah rela jika orang yang mulai kita cintai tiba-tiba pergi.


Maka dari itu Tania belajar untuk bisa menghargai orang lain. Ketika dirinya masih labil, belum mengerti akan arti rumah tangga. Ada sosok yang bisa menjadi ayah plus ibu baginya. Mengajari tanpa lelah dan mengeluh, menjaga di kala ia sakit dan melindungi kala ia terancam.


Kokohnya rumah tangga sebab Rasya yang pandai mendidik istri, jangan manja dan lakukan hal yang sudah menjadi kewajibannya. Lambat laun, semua berubah dengan mengikuti alur kehidupan dari sang pencipta.


"Tuan Rasya masih hidup nona, akan tetapi keadaannya tidak baik-baik saja. Beliau kehilangan banyak darah, butuh sekali saat ini pendonor darah.


Tania yang masih terisak menangis pun membuka matanya dan berdiri menghadap dokter Ari yang berdiri di belakangnya.


"Benarkah? Lalu kenapa anda tidak lakukan pendonoran darah itu?" Tanya Tania sambil mengelap wajahnya dan mengatur napas akibat menangis tiada henti. Membuat jantungnya sedikit nyeri.


"Golongan darahnya itu langka dan hanya beberapa orang saja yang memiliki golongan yang sama dengan tuan Rasya" Jawabnya memberi penjelasan pada Tania.


"Apa golongan darah yang suamiku miliki?" Tanya Tania dengan raut wajah serius.


"AB-, golongan darah ini sangat langka sekali, nona. Hanya dimiliki oleh 0,36 persen di seluruh dunia. Dalam hal transfusi dan pendonoran darah golongan AB-, bisa dibantu oleh beberapa golongan diantaranya adalah AB-, A-, B-, dan O-. Dan jika selain orang yang punya golongan itu maka tidak akan bisa terobati" Jawabnya dengan rinci sekali agar Tania mengerti.


Prang

__ADS_1


Sejuta penderitaan datang dan membuat wanita ini lemas tak berdaya. Ia pingsan saat mendengar jawaban dari dokter Ari.


Syok dan hancur hatinya beleburan tak ada yang utuh. Ibarat kaca yang sudah pecah, tidak bisa di benahi lagi.


Dokter Ari sudah menduga jika Tania akan pingsan, wanita manapun yang mendengar kabar bahwa suaminya dalam keadaan kritis dan butuh segera pertolongan maka akan histeris apalagi ini sangat langka pengobatannya.


Kemudian ia memanggil suster untuk membawa branker untuk membopong tubuh Tania.


Tak lupa juga dokter Ari menyuntikkan obat penenang agar Tania bisa istirahat dan pikirannya pun bisa tenang kembali.


"Ini akan membantu pemulihan anda, nona. Maaf saya lancang menyuntikan ini ke dalam tubuh anda" Ujarnya lalu suntikan itu pun masuk ke lengan Tania.


Di lain tempat


Arka dan Zahra serta Kevin dan Famira sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Medika Utama. Syok dan tidak menyangka jika korban yang sempat beredar di internet adalah Rasya Ferdiansyah sahabat mereka sendiri. Bahkan kini papa Ferdinand yang berada di luar negeri pun tau dan beliau sama syok nya hingga di larikan ke rumah sakit yang ada di kota London.


"Ya Allah, selamatkan dokter Rasya. Dia sudah banyak membantu kami ya Allah" Doa para wanita dan kedua pria itu pun ikut mengaminkannya. Kevin menyetir dengan kecepatan tinggi, karena jalanan masih lenggang, anak-anak mereka di tinggal di rumah dalam pengawasan baby sitter.


Lalu, dalam waktu singkat mereka sudah sampai, pasangan ini saling bergandengan saat memasuki koridor pintu rumah sakit.


Mencari dokter yang menangani Rasya lewat resepsionis.


"Sus, di mana dokter yang mengatasi pasien atas nama Rasya Ferdiansyah?" Tanya Arka dengan tatapan tajam.


"Beliau ada di ruangannya tuan, dan baru saja selesai menangani tuan Rasya" Jawabnya sedikit kikuk, takut dengan tatapan membunuh yang Arka lempar.


"Ada di sana tuan, anda berjalan saja lurus dan ada persimpangan, pilih sebelah kanan nanti anda akan menemukan ruangan dokter Ari" Jawabnya sekali lagi.


Semua orang langsung menganggukkan kepala, berlari namun tak melepas genggaman tangan. Sudah berjalan jauh dan akhirnya sampai.


Dengan tidak sabar Arka mengetuk pintu dan membuat dokter Ari segera keluar. Ia kaget atas kedatangan Arka, Kevin serta istri mereka.


"Ada apa ini, tuan?" Tanya dokter Ari.


"Anda, bukan orang yang menangani Rasya?"


"Iya benar saya orangnya, tapi ada apa yah?"


"Kami sanak saudaranya, dan ingin menemui dia, dok. Bisa kah anda antar kan kami ke dalam ruang rawatnya?"


"Baik tuan, akan saya antar kan"


Lalu mereka pun pergi ke ruangan VIP untuk menemui Rasya.


Pintu terbuka, mereka masuk. Zahra dan Famira berteriak saat melihat wajah Rasya.


Penuh luka gores dan juga tubuhnya yang di penuhi perban.

__ADS_1


"Jangan berteriak!" Ucap Arka dan Kevin bersamaan dengan nada tegas.


"Maaf, kami kelepasan" Jawab mereka bersama.


"Separah ini dokter luka yang ia alami?" Tanya Kevin pada dokter Ari.


"Iya tuan, dan sekarang ini beliau butuh sekali donoran darah yang pas. Akan tetapi kami tidak bisa membantu sebab golongan darahnya adalah AB-, kami tidak punya dan harus mencari di tempat lain" Jawabnya rinci agar tidak ada hal yang kurang jelas.


"Jangan bilang kalau itu langka!" Ucap Arka.


"Benar tuan, itu sangat langka. Maka dari itu kami tidak bisa membantu. Hanya Tuhan yang bisa, kami pihak dokter cuma bisa membantu dan takdir berada di tangan Tuhan" Sahutnya lagi.


Arka dan Kevin pun langsung menghela napas berat, ini bukan hal yang mudah untuk di lewati. Banyak sekali rintangan yang harus dihadapi.


"Lalu, di mana istrinya dokter?" Tanya Zahra sambil sesegukan tak tega melihat kondisi Rasya.


"Nona Tania kan, orangnya?" Tanya dokter Ari dan mendapat anggukan dari Zahra.


"Ada di ruang rawat sebelah, beliau begitu syok hingga akhirnya pingsan setelah saya jelaskan padanya mengenai apa yang menimpa suaminya"


Zahra pun mengerti, lalu ia mengajak Famira untuk datang ke sana dan melihat kondisi Tania saat ini.


"Dek, ayo kita lihat kondisi Tania" Ajaknya sambil menggenggam erat tangan Famira.


"Iya mba, ayo" Balasnya sambil mengangguk.


Mereka berdua sudah keluar dari ruangan Rasya. Beralih menuju ruangan sebelah. Masuk lah mereka berdua, alangkah terkejutnya saat melihat kondisi Tania, wajah sembab. Sudah di pastikan jika Tania menangis sangat lama.


Zahra dan Famira memeluk tubuh Tania, memberikan kehangatan untuknya. Wajah wanita ini sangat pucat, dan saat di peluk ia tersadar, obat penenang tidak terlalu manjur. Kembali mengingat dan menangis dalam dekapan.


"Suamiku...." Ucapnya pelan dengan deraian air mata.


"Tania, sabar sayang. Suamimu dalam tanganan dokter" Sahut Famira sambil mengelus rambut Tania.


"Suamiku...." Lagi-lagi ia berkata demikian dan membuat hati Zahra dan Famira teriris. Sesama wanita mereka bisa merasakan apa yang Tania kini rasakan.


Dukungan dari mereka lah yang bisa membuat Tania bangkit dan berpikir positif, pasti keadilan Tuhan akan datang.


Bersambung


.


.


.


Hargai karya ku dengan vote like dan komentar serta follow me ya.

__ADS_1


__ADS_2