True Love

True Love
Terima


__ADS_3

Ketika sudah sampai di bawah, Elia pun sama dengan Tania ia berteriak kencang dan menghampiri ayahnya dan juga Tania. Menggoyangkan lengan ayahnya dan tak ada tanda-tanda ayahnya sadar.


"Apa yang terjadi Tania?" Tanya Elia sambil melirik ke arah Tania.


"Gak tau kak, tadi pas aku pergi ke kamar, ayah belum pingsan dan masih duduk" Jawab Tania. Memang seperti itu kenyataannya.


"Cepat, bawa ayah ke dalam kamar. Aku akan memanggil dokter untuk datang kemari!" Perintah Elia pada satpam yang kebetulan masuk ke dalam rumah.


Semua orang mengangguk, Tania begitu cemas dengan keadaan ayahnya saat ini. Sedangkan Elia ia sibuk menelpon dokter untuk datang ke rumah. "Halo dokter, tolong datang ke rumah saya. Ayah saat ini sedang sakit" Pinta Elia pada dokter dalam sambungan telepon itu.


''Baik, saya akan datang ke rumah anda"Jawab dari sebrang telpon.


Elia pun langsung bernapas lega dan ia menutup telpon serta bergegas masuk ke dalam kamar ayahnya. Di sana, Tania sedang berusaha untuk membuat ayahnya tersadar dari pingsan dengan membukanya dan meletakkan botol minyak kayu putih di dekat hidungnya.


''Apa ayah sudah sadar...?" Tanya Elia pada adiknya itu.


"Belum, kak. Tapi apakah kakak sudah memanggil dokter untuk kemari?" Tanya Tania.


"Sudah, kau tenang saja. Semoga saja nanti dokter cepat datang dan memeriksa kondisi ayah" Jawab Elia dan diaminkan oleh Tania.


Selang beberapa waktu, datanglah seorang dokter berserta satu orang perawat. Mereka pun segera masuk ke dalam kamar. "Maaf kami datang terlambat" Ucap dokter sembari menenteng tasnya.


"Alhamdulillah, gapapa dokter. Ini juga belum terlalu lama" Jawab Elia.

__ADS_1


Kemudian dirinya dan juga Tania pergi dari tepi ranjang dan membiarkan dokter serta perawatan beraksi. Lama dokter memeriksa hingga membuat Elia dan Tania khawatir, mereka saling berpelukan. Banyak sekali pikiran negatif yang datang menghantui mereka.


Lalu, ketika pemeriksaan telah selesai, barulah dokter menyimpan stetoskop nya di saku jas putihnya. "Bagaimana keadaan ayah, dokter?" Tanya Elia.


"Penyakitnya kambuh lagi, nona. Saya mohon pada nona Elia dan Tania, buat beliau bahagia dan tidak banyak pikiran" Jawab dokter.


"Benarkah....? Ya Tuhan, tolong sembuhkan ayah" Ucap Tania.


''Apakah sebelum beliau pingsan ada pembicaraan yang dilakukan?" Tanya dokter


Lalu Tania menganggukkan kepalanya. "Ada dokter" Jawab Tania.


"Mungkin ini yang memicu penyakitnya kambuh" Ujar dokter menyimpulkan masalah.


"Baiklah, kalau begitu saya pergi dan ini resep obatnya, nanti anda tebus di apotek" Ucap dokter sambil menyerahkan secarik kertas. Sedangkan perawat memasang infus untuk pak Eki.


"Terimakasih dokter, baiklah mari saya antar" Sahut Elia, dia pergi keluar kamar mengantar dokter serta perawatan itu, dan Tania berada didalam kamar menjaga ayahnya.


''Ayah..., cepat sembuh ya. Tania akan selalu ada untuk ayah" Ucap Tania sambil mencium punggung tangan ayahnya.


Melihat ayahnya tiba-tiba terbaring sakit, membuat hati Tania sakit dan sedih. Ia yakin pasti pemicu ayahnya sakit adalah saat dirinya tadi menolak untuk menerima perjodohan yang ayahnya ajukan.


"Ayah, cepat sembuh. Aku akan terima perjodohan ini, asalkan ayah sembuh dan bahagia" Ujar Tania sembari membenarkan selimut. Lalu ia mencium kening pak Eki.

__ADS_1


Elia yang melihatnya pun segera menghampiri Tania. "Maafkan kakak dek, mungkin ini semua salah kakak. Ayah sakit pasti gara-gara aku menolak perjodohan itu" Ucap Elia sembari memeluk tubuh adiknya.


"Gak kak,


ini juga salahku sudah membuat ayah sakit" Jawab Tania membalas pelukan kakaknya.


"Kamu tau kan, dan bisa merasakan jika berada diposisi kakak" Ucap Elia.


"Iya kak, aku paham. Dan aku akan menggantikan kakak untuk menikah dengan pria pilihan ayah" Jawab Tania dan membuat kakaknya kaget.


"Benarkah? Apa kamu yakin, dek?" Tanya Elia sambil melepas pelukannya.


"Insyaallah, yakin kak" Jawab Tania, namun tidak dapat menyembunyikan kesedihannya dihadapan sang kakak. Berat hati rasanya menerima perjodohan ini.


"Maafkan kakakmu ini dek, andai jika kakak belum punya kekasih. Pasti kakak akan terima dan tidak akan mengorbankan kebahagiaan kamu" Ujar Elia sambil mengusap wajah Tania.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2