True Love

True Love
Posesif


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, membangunkan kedua insan yang masih setia bersembunyi di balik selimut. Siapa lagi kalau bukan Tania dan Rasya. Pagi ini mereka habiskan dengan saling diam, Tania masih marah pada Rasya, tapi jika di pikir-pikir lagi Rasya tidak bersalah toh memang sudah haknya menjadi suami.


Berbeda dengan Tania, dia masih belum bisa mengerti makna dari sebuah pernikahan dan ikatan suci. Pikirannya masih labil, ingin kebebasan hidup dan juga malas meladeni hal yang sakral itu.


"Bangun....! Ini sudah pagi" Ucap Rasya sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya.


"Heemm..." Jawabnya dengan deheman.


"Cepat bangun! Siapkan aku air mandi dan sarapan" Titahnya lagi.


"Oke, tapi sebentar lagi 10 menit deh baru aku bangun" Ujarnya bernegosiasi dengan suaminya.


"Big no! Mau 10, 15, 20 menit gak ada. Cepat bangun, sebelum aku..."


"Oke, oke aku bangun. Dasar cerewet..." Tukasnya sambil menyibak selimut dan berjalan menuju kamar mandi.


Ngedumel, baru aja denger suara ayam berkokok dan kini sudah harus mendengar suara radio bodol milik Rasya. Yaitu, berpidato ria dihadapannya.


Sudah selesai dengan urusan mandi, lalu Tania pun melanjutkan dengan urusan kitchen. Memasak adalah hal yang perlu ia pelajari setiap waktu.


"Tania masak dengan asal, memasukkan bumbu dan sayuran.


Tumbenan Rasya cepat mandinya dan memakai kemeja warna biru. Melihat sang istri belum kembali ke dalam kamar, ia pun langsung turun dan melihat apakah Tania masih di dapur atau tidak.


Rasya sudah turun, dia menyenderkan tubuhnya dengan posisi miring di tiang tembok dan memperhatikan istrinya yang sedang memasak. Ia ingin melihat apakah Tania masak dengan benar atau salah.


Lucu sekali saat melihat wanita itu cemberut dengan menggelembungkan pipinya, fix mirip bakpao.


Mungkin sedikit semangat kali ya, biar Tania gak ngedumel terus pas masak. Suami berjalan dengan langkah lebar, menghampiri sang istri yang sedang berkecimpung dengan bahan masakan.


Melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya dan meletakkan dagunya di bahu Tania. Kaget bukan kepalang dibuatnya, Tania pikir ada orang asing yang ada di belakangnya.


"Jangan kaget, aku suamimu bukan orang lain" Ucap Rasya.


"Kau ini kenapa, hah. Tiba-tiba memelukku?" Tanya Tania sambil mematikan kompor.


"Aku tidak memelukmu, aku hanya saja ingin menempel padamu" Jawab Rasya.


"Dasar aneh....! Ucapnya dan berusaha melepas pelukan Rasya.


"Jangan dilepas, nanti aku akan hilang" Ujarnya dengan menambahkan erat pelukan itu.


"Aku ingin menghidangkan makanan ini, bukannya kau ingin makan?"


"Iya tapi morning kiss dulu dong"


"Kau ini kenapa jadi manja sih, aku saja tidak pernah seperti itu"


"Entahlah aku juga tidak tahu, tapi ku mohon beri aku satu kecupan" Wajah puppy eyes di keluarkan, jurus andalan Rasya.


Tania memutar bola matanya dengan jengah, sikap manja berangsur-angsur pindah kepada Rasya. Bahkan manjanya lebih dari dirinya, dan apalah daya yang bisa Tania lakukan selain menurutinya. Mungkin jika kecupan boleh kali ya, cuman kalo MP, Tania masih berat.


"Menunduk....!'' Titahnya meminta suami menundukkan kepalanya.


"Kenapa harus menunduk, apakah ada yang salah?"


"Sudah, menunduk saja, jangan bawel!" Jawabnya ketus.


Rasya pun langsung mengangguk, ia menundukkan kepalanya, wajah saja tingginya sangat jauh oleh Tania, jadi susah kalau mau mencium.


Cup


Kecupan manis mendarat di pipi pria itu, wajahnya pun menjadi berseri. Ternyata Tania meminta dirinya menunduk adalah hanya ingin mencium.


"Sudah bukan, apa kau puas?"


"Belum..., tapi lumayan lah"


Barulah Rasya melepas pelukannya dan membiarkan Tania menyiapkan makanan di atas meja. Masakan pagi hari sudah Rasya cicipi dan rasanya juga sama, tapi kok kemarin siang enak capcay nya, wah mungkin karena mood Tania lagi good jadi masakannya ikutan enak, kalau sekarang karena terpaksa, jadi rasanya pun ikutan ambyar.


"Oh ya aku ingin meminta izin padamu, bolehkah aku nanti bertemu dengan Liana sahabatku?" Ucap Tania di sela makannya.


"Kemana, jam berapa, dan kapan pulangnya?"


"Ke cafe, jam 10 pagi dan aku tidak tahu jam berapa aku akan pulang''


"Aku beri waktu pada jam 5 sore dan jika di waktu itu kau belum pulang, maka aku akan menghukum mu dengan pekerjaan berat!"

__ADS_1


"Insya Allah, aku akan pulang sebelum jam 5 sore"


Rasya pun langsung mengangguk, dan menyelesaikan makannya begitu juga dengan Tania.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sesuai perjanjian, Tania pun pergi ke sebuah cafe untuk bertemu dengan Liana, dia adalah sahabat plus pemilik cafe itu.


Liana sudah menunggu kedatangannya sambil mengawasi pekerjanya dalam melayani para pengunjung cafe. Kadang ia juga yang bermain gitar sambil bernyanyi menghibur para pengunjung, jadi tak ayal di cafe Liana selalu ramai anak muda dan juga orang yang sudah menikah.


"Wah, ramai sekali cafe mu, Liana" Ucap Tania saat sudah sampai di dalam cafe.


"Iya aku juga sangat heran, tapi senang. Oh ya di mana suamimu?"


"Dia kan dokter ya pastinya di rumah sakit"


"Apakah dia mengizinkanmu datang kemari?"


"Tentu saja, dia mengizinkanku asal jangan sampai lewat jam 5 sore, saja"


"Okeee...."


Lalu mereka berdua pun duduk di kursi dan bercerita, bernostalgia saat bersekolah dulu.


Tiba-tiba, ada pria berjalan dan tak sengaja jus yang ia bawa tumpah dan menimpa tubuh Tania, bajunya menjadi kotor dan basah, seketika Tania dan Liana bangkit dari duduknya dan menghadap pria itu.


"Maaf nona, saya tidak sengaja...." Ucapnya dan berusaha membersihkan tumpahan jus yang kena tangan Tania.


"Iya mas, tidak apa-apa lain kali hati-hati lagi" Jawab Tania menolak kala tangannya hendak di sentuh oleh pria itu.


"Saya akan bayar baju anda nona, sebab karena ulah saya baju anda jadi kotor"


"Never mind, saya bisa bersihkan sendiri dan anda tidak perlu mengganti rugi"


"Hah, anda baik sekali nona, sekali lagi saya minta maaf"


Tania pun langsung mengangguk dan tersenyum, dan pria itu pun segera pergi sambil tersenyum licik dengan menatap wajah wanita yang ada di ujung pintu.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Rasya baru saja selesai memeriksa pasien yang kemarin operasi Caesar, dia duduk sambil membaca artikel tentang kesehatan.


"Siapa ya yang mengirim pesan, nomor saja masih asing" Gumamnya dan tidak menggubris pesan itu.


Tapi lagi-lagi ponselnya berdering sampai 3 kali, Rasya pun jadi penasaran, ia segera membuka layar ponselnya.


"Lihatlah istrimu yang sudah berani berselingkuh dibelakang mu"


"Apa-apaan ini, apa maksudnya?" Ucap Rasya dan langsung melihat sebuah foto yang di kirim oleh orang asing itu.


Di sana terdapat Tania, Liana dan pria. Yang membuat Rasya heran adalah pria itu. Kenapa ada pria diantara mereka. Bukankah Tania bilang dia hanya bertemu dengan Liana saja.


Karena penasaran lagi, lalu ia melihat satu foto lagi, karena memfoto dari samping jadi terlihat jika Tania dan pria itu sedang bermesraan.


Rasya tidak marah dengan Tania, justru ia marah dengan pria yang sudah berani menyentuh istrinya tanpa izin. Rahangnya mengeras dan matanya berubah menjadi merah menyala, tatapan elang, dan juga gertakan gigi yang kuat menandakan jika dirinya sedang dalam keadaan marah.


"Dasar brengsek!" Umpatnya lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


Kemudian dia pergi dari rumah sakit itu dan pergi menuju cafe dimana istrinya singgah, perasaan marah dan kecewa bercampur aduk, ada sedikit rasa marah pada Tania, sebab ia kira jika Tania tidak menolak saat pria itu mencoba menyentuh lengannya.


Tak butuh waktu lama ia sampai di depan cafe, masih dengan pakaian dokter dia masuk ke dalam sana. Membuka pintu cafe dengan kasar, mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Para pengunjung lain pun kaget dibuatnya.


Lalu mata elangnya menangkap suara Tania sedang mengobrol di sudut ruangan, melangkah lebar masuk ke dalam ruangan itu.


"Taniaaa!" Panggilnya dengan sedikit berteriak.


Tania dan Liana pun langsung menoleh ke arah suara. Di lihatnya Rasya sedang berdiri di ambang pintu masuk, wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras.


Wanita itu pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Rasya, menanyai kenapa dirinya di cari.


"Ada apa kau mencari ku, bukankah ini masih jam 12 siang?" Tanya Tania pelan.


Bukannya segera menjawab, Rasya justru menatap wajah Tania dengan tajam.


"Pulang!" Jawabnya dengan nada tegas.


"Tidak mau, ini masih siang" Tolak Tania dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tania aku bilang, pulang!" Bentak Rasya dan membuat Tania kaget begitu juga dengan Liana.


Rasya pun jadi geram, lalu ia mencengkram erat lengan Tania dan menyeretnya keluar dari dalam cafe. Wanita itu meringis kesakitan sebab cengkraman tangan suaminya.


Liana yang melihat betapa murkanya Rasya pada Tania pun langsung bergidik ngeri, wajah tampan itu kini di penuhi kobaran api emosi.


"Semoga Tuhan melindungi mu, Tania" Ucapnya saat melihat Tania dan Rasya menjauh.


Tamu menjadi diam, melihat Rasya dan Tania keluar dengan wajah istrinya memerah.


"Akh sakit, lepaskan tanganku Rasya, kau menyakitiku!" Berontak Tania saat sudah sampai di luar cafe.


"Masuk!" Titahnya tanpa menghiraukan rintihan Tania.


"Tidak mau!" Tolaknya sambil memegang lengannya.


"Jangan membuatku tambah emosi Tania!" Bentaknya lagi dan mau tak mau Tania harus menurutinya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Rasya menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, buku-buku tangannya memutih seperti tidak ada darah yang mengalir disana, kemudi yang ia pegang pun membekas saking eratnya ia mencengkram.


Tania menjadi ketakutan plus bingung, ada apa dan mengapa Rasya bersikap seperti ini.


Hendak bertanya tapi ia urungkan, kali ini Rasya sedang dalam emosi yang meluap dan jangan sesekali mengusik orang yang sedang marah.


Sesampainya di rumah, Rasya membuka pintu mobil dengan kasar, membuat kaget Tania. Ia juga segera keluar dan membuntuti suaminya dari belakang.


"Kau kenapa Rasya?" Tanya Tania pelan.


"Kau bilang kenapa, hah! Ini apa maksud dari semua ini. Jelaskan padaku, Nia!" Jawabnya dengan nada tinggi.


Mata Tania pun langsung menatap ponsel yang Rasya sodorkan. Ia membelalakkan matanya saat melihat foto itu. Siapa yang berani menangkap gambar dirinya saat di cafe?


"Tidak! Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak berselingkuh" Ucap Tania dengan gelengan kepala cepat.


"Jika bukan selingkuh, lalu apa maksud dari foto itu?"


"Itu memang terjadi, tapi aku tidak berselingkuh dengannya, pria itu tidak sengaja menumpahkan jus di baju dan kena tanganku. Lihatlah jika kau tidak percaya, bajuku basah olehnya. Dan aku menolak saat pria itu hendak menyentuh tubuhku, aku berani bersumpah" Jawabnya mencoba menjelaskan yang sebenarnya pada suaminya.


"Jangan bohong padaku Tania, pantas saja selama ini kau selalu tertutup padaku ternyata kau sudah punya pria lain di belakangku" Ucapnya masih tidak percaya dengan penjelasan Tania.


"Aku tidak berbohong, sumpah demi Tuhan aku tidak pernah berselingkuh dibelakang mu, Rasya percayalah padaku..." Jawabnya dengan suara bergetar dan matanya pun menitikkan air mata.


"Sungguh aku tidak selingkuh, jika kau tidak percaya kau bisa bertanya pada Liana, dia menjadi saksi saat ada pria itu" Tambahnya lagi sambil memerosotkan tubuhnya ke bawah lantai.


Rasya diam, dia tidak menjawab. Lalu ia keluar dari rumah dan meninggalkan Tania yang sedang menangis tersedu-sedu di bawah lantai.


Pria itu segera melajukan mobilnya keluar dari kompleks perumahan, entah kemana dia pergi. Saat ini emosinya masih meluap-luap, dia akan mencari siapa orang yang berani mencoba menggoyangkan dan membuat retak bahtera rumah tangganya.


Sedangkan Tania, dia masih menangis sambil memegang lengan yang memar sebab ulah Rasya di cafe tadi. Begitu erat cengkeraman itu, membuatnya meringis kesakitan dan hampir membuatnya menangis disana.


"Kau menyakitiku Rasya..." Ucapnya lalu pandangannya pun mulai kabur dan kemudian ia pingsan tak sadarkan diri di lantai itu.


Hari pun semakin larut, Rasya pulang dari kelayapan sampai jam 9 malam. Rumah dalam keadaan gelap, pintu pun masih tertutup rapat, Rasya segera turun dan membuka pintu, tidak terkunci.


Rasya mencari saklar lampu dan menyalakannya. Saat mencari sesuatu tak sengaja matanya melihat ke bawah lantai dan melihat Tania disana sedang tak sadarkan diri.


Segera ia membopong tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Perasaannya kini menjadi khawatir, dia percaya jika Tania tidak melakukan perselingkuhan. Hanya saja tadi dia belum bisa berpikir jernih dan belum bisa mencerna setiap kata mana yang benar dan yang salah.


Emosi menguasai dirinya sehingga tanpa sadar dia sudah melukai istrinya dan melanggar sumpahnya pada ayah dan papa jika akan merawat dan melindungi Tania.


Perasaan bersalah pun bertambah saat melihat lebam di lengan Tania sebelah kanan.


Lalu ia segera mengambil air hangat dan mengompres lengan Tania. Ia melihat wajah istrinya yang sembab dan juga baju yang kotor sesuai dengan cerita yang Tania beritahu, cuma saat itu Rasya belum percaya 100%.


"Maafkan aku istriku sudah membuatmu terluka seperti ini. Aku lakukan hanya tidak ingin ada orang yang mengambilmu dariku, kau istriku, milikku dan selamanya akan selalu begitu. Tapi sikap posesif ku sudah menghancurkan semuanya, kau terluka karena diriku" Ucapnya menyesali semua perbuatannya itu.


Saat Rasya berkata demikian, Tania sudah sadar namun enggan untuk membuka mata. Dia masih marah akan sikap Rasya yang terbilang kasar dan tidak memberikan kepercayaan dan kesempatan dirinya untuk menjelaskan semua peristiwa itu.


Apakah harus dengan kekerasan semua masalah bisa terselesaikan? Bahkan suaminya saja tidak memberi kesempatan untuk dirinya bicara, hanya bentakan yang ia terima dan menghujam hatinya dengan beribu pisau.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


Hargai karya ku dengan vote, like dan komentar serta follow me ya. Thanks for reading my story Ketulusan Dan Kesetiaan,muah.


__ADS_2