
Malam pun semakin larut. Rama membawa senter untuk pulang ke rumah sebab listrik tiba-tiba padam.
Haida yang sama-sama baru pulang dari mushola pun kebingungan, ia tidak membawa ponsel maupun senter untuk menerangi jalan.
"Ya Allah, jalanan gelap banget'' ucap Haida sambil merinding.
Ia melangkahkan kakinya pelan-pelan agar tidak tersandung ketika berjalan. Meraba samping kanan dan kiri, hingga akhirnya ia selamat sampai di tengah jalan.
Tak ada orang lain yang lewat selain dirinya. Rama sudah pulang lebih dulu darinya, sebab ada urusan mendadak.
Kicauan burung hantu menambah seramnya malam ini, suara guntur terdengar menggelegar, mungkin itu alasannya mengapa listrik padam.
"Ya Allah, selamatkan lah hamba sampai rumah ya Allah" doa Haida di sepanjang perjalanan pulang.
Dari arah berlawanan tanpa Haida sadari ada kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi, Haida terkejut dan reflek berteriak, sebab kendaraan itu begitu cepat melintas.
Tuhan masih sayang pada Haida, seorang pahlawan datang dengan gagah berani menarik tangan Haida menjauh dari jalan dan melindunginya dari maut yang hampir saja datang menjemput.
Haida merasa hangat dalam dekapan seseorang. Dengan kuat ia memejamkan mata dan menggenggam tangan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya orang itu dengan masih mendekap.
"Aku tidak apa-apa, kamu siapa?" sahut Haida seraya melepaskan diri dari pelukan itu.
"Aku adalah pria yang siap memerawani dirimu, hahaha" jawaban itu membuat Haida melongo tak percaya.
Dengan sekuat tenaga ia berlari untuk menghindari orang gila itu, tapi tenaganya sudah habis terkuras karena berlari tak tentu arah.
__ADS_1
"Rama......, tolong aku"
Entah kenapa nama pria itu yang ada di dalam pikiran Haida, hanya Rama yang ia kenal dengan baik dan juga pria yang selalu ada untuknya.
Haida memberontak ketakutan, air matanya lolos beberapa kali, suara pun semakin serak karena berteriak tiada henti meminta pertolongan dijalan sepi.
"Rama....., Ramaaaaa....!"
"Berteriak lah sekeras mungkin, Rama tidak akan datang menolongmu, Haida."
"Siapa kau, hah jangan sentuh tanganku!"
"Apa kau lupa dengan pemilik suara ini, hem?"
Evan!
Ya nama pria itu adalah Evan, pria yang dulu Haida tolak sebab buruk rupa. Namun sekarang Evan sudah tampan dan ingin membalaskan sakit hatinya sebab ucapan Haida yang dulu teramat pedas.
"Tidak akan, aku akan balas dendam dengan mengambil kesucian mu, Haida"
"Enggak.....! lepasin Evan, lepasin!"
"Hahahaha........" Evan justru tertawa terbahak-bahak. Ia menyeret Haida masuk ke dalam sebuah rumah kosong dan melempar tubuh Haida ke atas ranjang.
Haida begitu ketakutan, badannya bergetar, matanya sembab akibat menangis tiada henti.
Kini tubuhnya sudah di tindih oleh Evan, pria dengan badan perkasa itu sudah mengunci semua pergerakan Haida, sehingga tidak memungkinkan Haida bisa kabur darinya.
__ADS_1
'Ya Allah, inikah jalanku selanjutnya. Di perkosa oleh orang yang dulu menjadi teman masa SMP?' batin Haida.
Ketika tangan Evan memegang hijab yang Haida pakai, dari belakang ada yang memukul kepalanya menggunakan kayu balok dengan sangat keras.
Bugh
Pria itu langsung tumbang seketika, cahaya remang-remang membuat Haida membuka mata lebar dan mencari sumber cahaya.
"Haida, apa benar itu kau?" suara yang teramat sangat Haida kenal membuatnya tersenyum miris untuk berlari menghampiri orang itu.
"Rama....." ucapnya dan langsung memeluk tubuhnya.
"Maafkan aku Haida, telah meninggalkan kamu saat di mushola. Andai aku tahu jika akan terjadi pemadaman listrik pasti aku akan............" ucapan terpotong saat mendengar isakkan tangis Haida.
Lalu Rama tak jadi melanjutkan kata-katanya dan lebih memilih untuk memeluk tubuh Haida. Menepuk-nepuk punggungnya dan memberikan pelukan hangat untuknya.
Masalah Evan, biar Rama yang mengurus. Ini menjadi akhir dari pria hidung belang yang hendak mengambil kesucian Haida. Setelah ini tidak akan terjadi lagi, itulah janji Rama.
Ia berfirasat buruk saat pulang tadi, pikiran gelisah memikirkan Haida. Dan benar saja, Haida hampir celaka karena perbuat Evan yang tak senonoh itu.
"Tenanglah Haida, aku ada untukmu. Jangan takut" ucap Rama, sontak Haida yang mendengarnya pun menambah menangis keras.
Tak seberapa lama, listrik masih padam, hujan deras mengguyur. Haida mengajak Rama pulang, tak peduli dengan derasnya hujan.
Ia sangat takut berada di sana. Untung saja Rama membawa payung untuk pulang. Pria dengan jiwa super power, itu sangat menjadi idaman.
Sedia payung sebelum hujan.
__ADS_1
Bersambung
Makasih ya manteman yang udah mau mampir. Promosikan novel ini di akun sosial media kalian dong, biar semua orang pada tau dan kasih krisan untuk novel ini, terimakasih 🤧