True Love

True Love
Pilihan


__ADS_3

Wajah Haida begitu pucat. Menggigil, butuh kehangatan. Rama membawanya ke rumah tempat Haida tinggal.


"Sudah sampai, sekarang kamu harus istirahat".


Baru sekali melangkah, baju Rama ditahan oleh Haida. Wanita itu tidak mau ditinggal oleh Rama. Masih merasa trauma.


"Jangan pergi, aku takut".


Tanpa sungkan Haida memeluk tubuh Rama dengan erat, menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik Rama. Pria itu diam membatu. Perasaannya tiba-tiba tak menentu.


Begitu canggung berdekatan dengan Haida. Jantungnya berpacu dengan cepat. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya.


Bisa mati berdiri jika terus seperti ini. Lalu Rama melepaskan pelukan Haida.


"Tapi ini sudah malam. Tidak baik laki-laki bermalam di rumah wanita".


"Aku ga peduli, aku takut Rama. Takut...." suara isak tangis terdengar kembali membuat hati Rama melemah seketika. Tidak tega melihat Haida seperti itu.


Ia duduk di samping Haida, menarik badan Haida untuk ia peluk. Mengelus rambut wanita itu dengan lembut. Haida merasa begitu nyaman. Kembali bernostalgia saat bersama dengan Riko.


"Jangan menangis lagi, aku ada disini. Aku tidak akan pergi darimu lagi"


"Janji?"


"Janji, jangan ragukan diriku".


Jari kelingking mereka saling bertautan erat. Janji yang akan selalu di jaga bersama.


Haida baru bisa tidur saat Rama mengelus rambutnya. Sungguh mirip anak kecil. Sama persis dengan apa yang dulu Riko bicarakan mengenai Haida.


'Pantas saja Riko menyukai gadis ini. Dia humoris, baik dan setia. Jarang bisa mendapatkan gadis sesempurna dia, menurutku".

__ADS_1


Rama mengalah, dia tidur di bawah lantai. Beralaskan karpet yang begitu dingin. Tak apa dia pria. Pasti kuat.


Tengah malam Haida terbangun, tenggorokan terasa kering. Kakinya hampir saja menindas kepala dari pemilik motor yang pengemudi itu jalankan.


"Ya Allah, kenapa Rama ada disini?"


Mencoba mengingat, kepalanya ia pukul-pukul pelan. Sadar jika tadi malam ia meminta agar Rama menemani dirinya. Malunya setengah mati.


"Kau sudah bangun, bagaimana perasaanmu?"


Rama duduk sambil mengucek mata. Memandangi wajah Haida yang tertunduk.


"Apa kau sakit, kenapa menunduk?"


Rama berdiri, duduk disamping Haida. Mengangkat kepalanya untuk mengecek suhu tubuh wanita itu.


Netra mereka bertemu, Haida merasakan gelenyar aneh dalam hatinya. Kenapa dia merasa gugup jika berhadapan dengan Rama sedekat ini.


Rama memundurkan tubuhnya, memberi jarak. Haida hanya tersenyum melihat tingkah Rama. Ia juga terlihat sedikit malu.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa tidak enak padamu. Tadi malam tanpa sadar aku memintamu untuk menemaniku tidur di rumah. Pasti ibumu mencarimu"


"Tenang saja, ibu saya sudah saya beritahu lewat pesan SMS".


"Syukurlah, sekali lagi aku minta maaf".


"Tidak perlu sungkan, saya juga tau posisimu saat malam tadi".


"Terimakasih, sudah mengerti ku".


Rama membalas dengan senyuman, lalu ia bangkit dan pamit keluar. Baru sampai depan pintu ada banyak orang yang menggedor-gedor pintu rumah. Haida dan Rama saling tukar pandang.

__ADS_1


Rama membuka pintu, semua orang diam. Menatap Rama dan Haida dengan tatapan mengintimidasi.


"Ini bapak-bapak ibu-ibu, pasangan ini yang tidak punya status hubungan resmi tidur satu rumah tanpa meminta izin dari ketua RT. Saya melihatnya sendiri''ucap ibu-ibu rempong dengan berkecak pinggang.


"Wah-wah, Rama yang di kenal polos ternyata suka berbuat zina juga ya". Celetuk ibu-ibu lain.


"Jangan ucapan anda, kami berdua tidak melakukan apa-apa. Itu semua fitnah. Saya memang menemani Haida tidur sebab tadi malam ada insiden. Mau tidak mau saya harus menemani dia".


Rama mencoba membela dirinya. Tuduhan itu tidak terjadi padanya.


"Benar semuanya, kami tidak melakukan zina. Demi Tuhan". Haida ikut angkat bicara. Menyakinkan mereka yang menaruh curiga.


"Halah emang sekarang masih sadar. Lama-lama juga nanti bakalan khilaf dan melakukan hal seperti itu. Lebih baik usir saja mereka dari desa ini pak RT".


Pak RT hanya diam, memandangi wajah Rama dan Haida bergantian. Memang sangat aneh jika mereka berdua tidak melakukan apa-apa, secara ketika Haida keluar, wajahnya pucat dan juga rada acak-acakan.


Tapi mengingat kembali jika Rama bukanlah pria yang suka dekat dengan wanita. Haida wanita baik-baik, sungguh sulit untuk membuat keputusan untuk mereka semua.


"Pak RT, angkat bicara dong pak. Masa diem aja".


"Eum, baiklah saya punya dua pilihan untuk kalian. Antara pergi dari desa ini atau kalian menikah demi menutup kabar ini dari orang selain yang ada disini".


Keputusan yang sulit, jika Haida keluar dari desa ini, dia harus kemana. Tidak mungkin kembali ke kota yang akan mengingatkan masa percintaannya yang pupus itu. Dan jika menikah dengan Rama, apakah itu akan lebih baik?


Pikiran Rama berkecamuk, pergi dari desa, kasihan ibu pasti nanti ibu akan menderita. Disini adalah tempat terakhir mereka bisa tinggal dan mencari rezeki. Jika menikah dengan Haida, maka dia akan membuat Riko marah. Kekasih hatinya ia nikahi tanpa restu dari Riko. Ya bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Andai Rama bersikukuh untuk pulang pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.


"Gimana, apa yang akan kalian pilih?" pak RT menunggu jawaban dari mereka berdua.


Rama berbisik pada Haida, apa yang harus dilakukan sekarang. Haida pun tidak tahu, ia hanya menggelengkan kepalanya. Menyerahkan semua pada Rama. Biarkan dia yang menjawab. Haida manut pada keputusan Rama nantinya.


"Saya memilih...."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2