True Love

True Love
Salah


__ADS_3

Permainan macam apa ini?!


Perasaan Haida saat itu juga tidak bisa digambarkan. Merasa di permainkan oleh laki-laki yang selama ini ia rindukan. Beberapa kali ia membanting setir juga laju mobilnya tidak terkendali. Air mata terus jatuh membasahi pipi mulusnya itu.


Kepala mendadak berdenyut nyeri. Penglihatan mulai kabur sehingga membuat fokus Haida benar-benar pecah. Jalanan yang lenggang juga tidak ada kendaraan lain yang melintas menjadi saksi bisu kecelakaan tunggal di malam yang sangat gelap.


Takdir buruk menimpa wanita malang itu. Mobilnya menabrak pembatas jalan hingga body mobil sedikit ringsek di bagian depan. Tidak banyak yang bisa Haida lakukan. Bahkan ia kesusahan untuk membuka pintu mobil. Dalam keadaan setengah sadar ia merintih. Berharap ada orang yang lewat dan membantu dirinya.


Nihil. Hanya seorang diri di gelapnya malam. Cidera di kening tidak ia pedulikan. Walau jalan sedikit terseok-seok Haida terus berusaha.


Ini masih jauh dari jarak rumah, jika ditempuh dengan berjalan kaki tentu akan sangat lama tiba di rumah. Tetapi hanya satu yang bisa ia lakukan terus berjalan tak peduli rasa sakit terus menyerang.


"Kuat... jangan lemah, Haida!" ucapnya menyemangati diri sendiri. Ponsel dalam genggaman tidak berguna sebab low bat. Mobil ia biarkan tetap di sana.


"Di mana sekarang. Jalur mana yang harus aku pilih?" Haida memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah. Ada dua jalur di hadapannya saat ini. Rintikan hujan pun turun.


Haida mendongakkan kepalanya, "sungguh drama yang menyedihkan sekali. Tuhan, kau telah berhasil membuatku kembali jatuh pada lubang harapan yang sama. Berharap dijadikan seseorang yang penting untuk orang lain dan berakhir menyedihkan karena sebuah permainan."


Jeda sejenak, "Terimakasih Tuhan. Ini untuk terakhir kalinya aku berharap."


......................


Sedangkan di tempat lain, Rama sibuk mengendarai mobil dengan ugal-ugalan demi mengejar laju mobil Haida. Perasaan bersalah pun menghantuinya.


Seharusnya tidak perlu pesta konyol untuk menyatakan cintanya untuk Haida. Jika sudah begini, kan, repot jadinya. Yuri pun merasa bersalah, jika Rama berhasil menemukan Haida maka ia akan berjanji untuk menyatukan keduanya. Walau harapan itu sangat minim untuk terwujudkan.

__ADS_1


"Haida kamu di mana?" entah kenapa perasaan Rama mendadak tidak enak. Terus dirundung cemas. Matanya menyipit saat tidak sengaja melihat mobil terparkir menyerong di jalan.


Ia hanya menebak saja, mungkin orang mengantuk sehingga oleng membawa kendaraan. Namun setelah diamati lebih, Rama kenal siapa pemilik mobil ini.


"Jangan-jangan... enggak gak mungkin!"


Rama segera menghentikan mobilnya tepat disamping mobil itu. Rama mengecek dengan langkah gemetar. Takut korban masih berada di dalam mobil yang terus mengeluarkan asap itu.


"Tidak ada. Di mana Haida?"


Rama melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda, selain bercak darah di bagian setir mobil.


Ponselnya bergetar di dalam saku, Rama merogoh sambil merapal doa. Semoga Haida yang menelponnya.


Kedua bahunya merosot. Ternyata bukan. Tentu saja, Rama menertawai kebodohannya itu.


Kedua bahu itu kembali terangkat, bola mata berbinar. Perasaan bercampur aduk. Tanpa banyak tanya lagi, Rama segera berlari menuju mobil untuk datang memenuhi panggilan Rasya. Masalah mobil, ia serahkan pada beberapa kenalan yang ia miliki.


"Tolong kalian urus mobil Haida. Saya ada urusan." Beritahunya pada salah satu teman lewat pesan.


Saat sudah sampai, hujan pun reda. Tersisa rintikan gerimis yang entah kapan berhenti. Kepalanya terus berotasi mencari sosok Rasya.


Dokter yang sedikit kocak gaming itu melambaikan tangan. Memberi code untuknya. Rama yang cepat tanggap menoleh sempurna.


Ternyata di sana tidak hanya ada dokter Rasya. Melainkan berapa wanita yang tak lain istri Rasya, Kevin, juga istri bos besar Arka. Semua menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Nanti saya jelaskan. Bolehkan saya bertemu dengan Haida sebentar?" ucap Rama. Ia peka dengan keadaan sekitar.


"Awas aja kalo Haida sampai kenapa-kenapa, aku gites kamu," emosi Tania dengan bibir yang dimonyongkan. Lucu sekali.


"Jangan buat Haida kecewa untuk kesekian kalinya," pesan Famira dengan tutur bahasa yang sangat sopan. Tidak mengutamakan emosi dalam setiap hal.


"Bijaklah sebagai kaum lelaki, Rama" imbuh Zahra.


"Baik mba-mba semua" sahur Rama yang terus mengangguk setiap ketiga wanita itu buka suara.


"Kondisi Haida masih lemah. Dia saya temukan di persimpangan jalan dalam keadaan menyedihkan. Saat ini ia masih belum siuman juga pengaruh obat penenang. Jadi, bersabarlah" tohok Rasya setelah selesai memeriksa kondisi Haida.


Ini ada hal keganjalan, namun untuk menguliknya saat ini dirasa waktunya tidak tepat. Mungkin di waktu tertentu Rasya akan meminta penjelasan pada Rama.


"Tapi, bolehkah saya masuk sebentar dok. Saya ingin melihat Haida" pinta Rama lirih. Dengan sekali anggukan kepala dari Rasya sebagai jawabannya.


Langkah gontai menuju bangsal. Terdapat wanita cantik terlelap dengan sejuta rasa lelah menumpuk. Bulir bening itu jatuh.


Katakan saja Rama adalah pemuda cengeng jika dalam hal ini. Ia telah berhasil menjadi lelaki brengsek. Menyakiti perasaan wanita. Memberi kejutan dengan cara yang salah.


"Apakah diriku pantas untuk dimaafkan?"


Bersambung


Bentar dulu ya gaes ya. Otak aing masih susah sinkron untuk nulis lanjutan cerita ini. Lama gak nulis jadi masih bingung kudu ottoke.

__ADS_1


Tapi semoga kalian suka, kalo ada bagian part gak nyambung atau nyeleneh. Komen aja ya. Spam deh like nya biar aing semangat atuh, ceunah.


Btw aku apdet jam 22:316


__ADS_2