True Love

True Love
Logo


__ADS_3

Happy reading 🤗


Setelah istirahat dan merasa tubuhnya mulai segar kembali Rasya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Daripada sumpek di rumah ia lebih memilih untuk ke rumah sakit dan disana pastinya ada pekerjaan yang bisa menghibur dirinya dan melupakan masalah perjodohan konyol ini.


Tanpa berpamitan dia pergi dan hanya pembantu rumah yang melihat kepergiannya. Pergi dari rumah sekitar jam 15.25, dan niat untuk pulang jam 22.00 malam. Tak ada halangan apapun dan hanya dalam waktu sebentar ia sudah sampai di depan gedung rumah sakit.


''Selamat sore pak....." Sapa salah satu supir ambulans.


"Sore....." Singkat dan judes Rasya menjawabnya.


Supir ambulans itu hanya menelan ludah dengan kasar, gitu banget sih jawabnya bisa kan di kasih senyum gak harus pake muka judes.


Rasya masuk ke dalam ruangannya dan duduk disana sambil membuka berkas hasil operasi. Semua perfect tidak ada yang membuat dirinya kecewa.


"Bagus, rumah sakit ini harus lebih berkembang lagi dan kinerja para suster dan dokter lain harus lebih baik lagi. Tapi kenapa aku masih merasa ada yang mengganjal mengenai pasien itu. Banyak dokter namun tak ada satupun yang menangani dia. Harus diselidiki" Ucap Rasya bermonolog sambil memegang dagunya yang sedikit runcing.


Demi ingin mengetahui kebenaran yang pasti, dia meminta salah satu resepsionis rumah sakit untuk datang ke ruangannya untuk menanyakan hal itu.

__ADS_1


Dengan langkah gemetaran, suster di bagian resepsionis itu pun akhirnya masuk ke dalam memenuhi panggilan dari dokter Rasya Ferdiansyah.


"Siapa nama pasien yang kemarin telat mendapat pertolongan?" Tanya Rasya to the point ketika sudah melihat kedatangan suster itu.


Sambil mengingat pasti, resepsionis itu pun akhirnya ingat. "Cika Permatasari, dok namanya"


"Di mana semua dokter sehingga tidak ada yang menangani pasien itu, huh" Hardik Rasya menaikan salah satu alisnya.


"Maaf dokter saya hanya menjalankan amanat saja" Jawab suster itu dan membuat Rasya semakin bingung.


"Maksudmu apa, hah. Jelaskan yang benar dan jangan berbelit-belit!" Tukas Rasya dengan gebrakan meja sehingga membuat suster itu kaget.


Siapa yang mengatakan seperti itu, hah?" Tanya Rasya dengan sedikit ngegas gak ada santai-santai nya blas.


"Tuan Feri (Adiknya papa Ferdinand yang sok berkuasa di rumah sakit ini) yang mengatakannya dok" Jawabnya dengan menundukkan kepala.


"Disini yang menjadi atasan Feri atau Ferdinand Syah hah, sehingga kau lebih menurut pada dirinya?" Bentak lagi sampe gendang telinga suster itu pengen pecah.

__ADS_1


"Tuan Ferdinand atasan kami, namun saat itu kami di perintahkan untuk menuruti kemauannya saat anda belum datang dengan tidak memberikan pengobatan bagi pasien yang belum membayar biaya administrasi nya dok" Jawab suster itu apa adanya, ya memang si setiap rumah sakit aturannya selalu begitu, bukan? Masuk rumah sakit itu disana bukan dibantu namun di gencet untuk bisa mengeluarkan uang banyak terlebih lagi jika mengenai operasi, beuh bisa abis tuh kantong uangnya.


Namun dalam rumah sakit yang tuan Ferdinand naungi berbeda dengan rumah sakit lainnya. Tidak terlalu mempermasalahkan biaya asalkan bisa pasien bisa terselamatkan. Bagi keluarga Ferdinand, uang itu bisa di cari sedangkan nyawa tidak bisa di ganti dan dicari. Itulah yang membuat rumah sakit ini menjadi rumah sakit terbaik, selain para dokternya yang piawai disini juga perawatannya terjamin.


"Dengar aku baik-baik, jika ini terulang kembali, aku akan memecat mu dan juga seluruh perawat dokter yang ada di sini. Bukankah rumah sakit ini mempunyai logo, apa kau tidak ingat, hem?" Tanya Rasya.


"In...ingat dok" Jawabnya sedikit terbata.


"Katakan jika kau mengingatnya....!"


Lalu suster itu pun menyebutkan isi logo dari rumah sakit ini. Setelah itu, Rasya mempersilahkan untuk suster kembali ke tempatnya dan menjalankan tugasnya sebagai resepsionis rumah sakit.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2