
Berjalan seperti tidak punya niatan untuk hidup, Haida terus melangkah. Butik memerlukan dirinya. Para pegawainya menyambut kedatangannya dengan suka cita, meski raut wajah Haida masih sama. Pucat.
“Akhirnya mbak Haida datang. Para pelanggan terus nanyain tentang desain yang mbak buat.”
Bagaikan baru bangun tidur, linglung seketika. Menoleh sambil mengangkat satu alisnya, “benarkah?”
Respon itu keluar dari mulut Haida. Dan pegawai itu mengangguk, menyerahkan beberapa lembar kertas berisi coretan Haida yang belum terselesaikan.
“Kapan aku membuatnya?”
Haida mencoba mengingat, tapi susah karena pikiran dipenuhi oleh sang papa. Wajahnya terus terngiang-ngiang.
“Permisi”
__ADS_1
Suara seseorang mengejutkan keduanya. Pria bertubuh tinggi, berpakaian casual serta wajah tampan berdiri diambang pintu.
“Iya mas” sahut pegawai spontan.
“Rama” begitu juga dengan Haida. Menganga lebar tak percaya.
Pria itu sudah berbeda. Bertambah tampan saja. Haida sama sekali tidak mengedipkan mata. Benarkah ini dia? seseorang yang terus ia rindukan dan doakan sepanjang malam?
“Sayang, main tinggal aja!”
“Maaf” kata Rama singkat.
“Kamu—?”
__ADS_1
“Apa kabar Haida, lama tidak bertemu. Kenalkan ini Yuri,”
“Pacarnya Rama” potong Yuri cepat dan memeluk lengan Rama dengan manja.
“Oh...” sahut Haida tak tahu harus merespon bagaimana lagi. Ingin memeluk pria itu tidak mungkin, sudah memiliki pendamping.
“Kemarin aku pesan model baju pengantin. Apakah sudah jadi?” tanya Rama melihat sekeliling sebelum menatap netra Haida.
“Pernikahan? Kamu mau nikah?” tanya Haida seolah tak percaya dengan semua ini.
“Iya, aku dan Yuri akan menikah Minggu depan. Karena pemilik butik ini temanku, maka spesial buat kamu menjadi tamu dalam pernikahan ku nanti. Ini undangannya, datang ya”
Haida melirik ke arah pegawai, apa mungkin gambaran desain ini yang mereka maksud. Tapi kenapa ia tidak tahu jika yang pesan adalah Rama?
__ADS_1
Bersambung