
Happy reading 🤗
Dengan cepat dokter Rasya mengambil tindakan dengan mengoperasi Famira. Ia melakukan operasi caesar pada Famira demi menyelamatkan nyawa anak yang ada dikandungnya serta nyawa Famira.
Operasi berlangsung lama dan membuat ketar-ketir hati semua orang yang menunggu diluar ruangan.
Kevin tak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir tanpa permisi.
Kesal
Marah
Sedih
Ketiga perasaan itu bercampur aduk dalam hati Kevin ia tak menyangka jika cobaan datang bertubi-tubi menghampiri dirinya dan juga istrinya. Entah rencana apa yang akan Allah berikan pada pasangan ini jika mereka sama-sama kuat dan tabah.
Sekitar 2 jam, barulah dokter keluar, dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Kevin beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter Rasya.
"Gimana keadaan istriku?" tanya Kevin tidak sabar.
"Istrimu sekarang dalam keadaan kritis dan juga anakmu terlahir prematur. Tapi selamat aku ucapkan karna kau sudah menjadi papa sekaligus mempunyai 2 orang anak kembar." jawab dokter Rasya.
"Boleh aku melihat keadaan anakku sekarang?" tanya Kevin.
"Maaf, untuk sekarang ini belum bisa bertatap muka langsung dan kau hanya bisa melihat dari luar ruangan ingkubator tempat dimana bayi di rawat" jawab dokter Rasya.
"Kalau istriku, apakah aku boleh menemuinya?" tanya Kevin terakhir kalinya.
"Tentu saja bisa, tapi setelah kami pindahkan keruang rawat" jawab dokter dan diangguki oleh Kevin.
__ADS_1
Lalu dokter pun kembali masuk ke dalam ruangan. Lalu dari belakang Arka menepuk pundak Kevin dan membuat Kevin menoleh kearah belakang.
"Selamat, akhirnya kau menjadi orang tua" ucap Arka sembari memeluk tubuh Kevin.
"Terimakasih, tapi aku sangat khawatir dengan keadaan Famira saat ini Ar" jawab Kevin.
"Pasrahkan saja pada yang kuasa. Aku yakin pasti istrimu akan baik-baik saja dan dia akan sembuh" ucap Arka memenangkan hati Kevin yang berselimut kekhawatiran.
Lalu setelah itu, mereka pindah ke ruang rawat, disana Famira sudah terbaring lemah di atas kasur.
Wajah pucat sangat terlihat dan lingkaran hitam di matanya pun semakin terlihat jelas.
Seketika kedua sudut mata Kevin mengeluarkan air mata, sumpah demi Allah, Kevin begitu tak kuasa melihat istrinya seperti itu.
Kevin menghampirinya lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat. Mencium kening, pipi dan bibir Famira.
"Maaf, maafkan aku yang selama ini lalai mejaga mu, sayang" ucap Kevin disela mencium kening istrinya.
"Jangan menangis sayang, aku akan mencari apapun yang bisa menyembuhkan dirimu, tunggulah sayang, aku pasti datang dan menyembuhkan luka mu" ujar Kevin.
Zahra dan Arka pun tak kuasa melihat betapa rapuhnya Kevin saat ini, ketika Famira tak berdaya.
Dokter Rasya masuk ke dalam ruangan dan memanggil Kevin untuk membicarakan hal yang sangat penting bagi Kevin.
"Maaf, mengganggu waktunya sebentar. Kevin apakah kau ada waktu? Aku ingin bicara mengenai Famira" ucap dokter Rasya.
"Baiklah, mari kita bicarakan" jawab Kevin, dan dengan berat hati Kevin melepas pelukannya pada tubuh Famira.
Dokter mengajak Kevin ke ruangannya dan menitipkan Famira pada Zahra dan Arka.
__ADS_1
Dokter mempersilahkan Kevin untuk duduk berhadapan dengannya. Menarik napas dalam-dalam untuk bisa menetralkan pikirannya.
"Apa kau tau, maksud dariku mengajakmu bicara?" tanya dokter.
"Ingin membahas mengenai kondisi istriku" jawab Kevin pasti.
"Benar. Dan aku ingin menyampaikan jika istrimu saat ini butuh pendonor tulang sumsum belakang. Di sini tidak ada yang cocok dengan tulang belakang milik Famira. Apakah kau punya atau tau saudara dari Famira?" tanya dokter Rasya.
"Pendonor? Tentu saja aku tidak tau, dan setahuku jika Famira adalah wanita yang hidup sebatang kara tanpa orang tua disampingnya" jawab Kevin.
"Kalau begitu, maka kau harus bisa mencari pendonor yang siap untuk mendonorkan tulang sumsum untuk Famira!" ujar dokter Rasya.
"Di mana aku harus mencarinya, sedangkan aku tak tahu kerabat Famira" ucap Kevin frustasi.
"Aku tidak tau, tapi satu info untukmu. Aku akan info kan jika dalam satu Minggu kau belum juga menemukan pendonor yang pas, maka aku tidak bisa menjamin keselamatan Famira. Sebab sakitnya ini sudah parah dan mendekati stadium lanjut" ungkap dokter Rasya.
Wajah Kevin seperti mendapat tamparan keras dari mana saja, semakin terisak Kevin menangis ketika mendengar penuturan dokter Rasya.
"Ku mohon, lakukan yang terbaik untuk istriku dan juga anakku. Aku akan mencari pendonor itu. Secepatnya aku akan mencari sebelum satu minggu berlalu" janji Kevin pada dokter Rasya.
"Akan aku tunggu, jangan sampai telat dari minggu ini. Namun jika sampai telat, Wallahu alam, aku tidak bisa menjamin jika nyawa istrimu terselamatkan" ucap dokter Rasya.
Kevin langsung mengangguk dan pamit keluar dari ruangan itu. Sesampainya di luar, Kevin merosot kan tubuhnya di dinding, ia bingung harus mencari pendonor itu dimana, sedangkan waktu yang ia miliki hanya 1 minggu, secepat apapun Kevin mencarinya, tapi tetap saja akan memakan waktu hingga lebih dari minggu. Tapi dokter hanya memberi waktu 1 minggu. Oh Tuhan, Kevin sangat bingung. Bantulah Kevin berpikir.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.