True Love

True Love
Macet


__ADS_3

Jalan raya mulai dipadati pengendara, dan kemacetan pun terjadi begitu lama. Sudah satu jam, Rasya berada di dalam mobilnya. Sambil melirik jam tangan sudah menunjukan pukul 2 siang.


Melelahkan, kemudian ponselnya berdering Tania menelpon dan dengan cepat ia mengangkatnya. Tania sedang duduk di ranjang sambil memakan cemilan.


"Assalamualaikum, mas" Ucap Tania sambil tersenyum manis pada suaminya.


"Waalaikumsalam, dek. Kamu lagi apa?" Jawab Rasya tersenyum tipis melihat wajah istrinya.


"Sedang menunggumu pulang. Kapan kamu pulangnya mas?" Sahut Tania dengan wajah muram.


"Bentar lagi, jalanan masih macet. Mungkin lambat dikit" Balas Rasya dengan nada rendah.


"Baiklah, nanti kalau pulang bawa buah-buahan segar ya" Pinta istrinya dengan wajah memelas.


"Jangan seperti itu. Nanti akan aku belikan satu keranjang buah dengan berbagai macam buah"


"Horeee, aku sayang kamu!"


Rasya hanya geleng-geleng melihatnya dari layar ponsel. Tingkah anak kecil kembali melekat pada Tania. Biasanya jika ada wanita yang menggoda dirinya pasti hanya acuh tak acuh. Berbeda dengan sekarang setelah sudah ada istrinya dia selalu menunggu saat sang istri menggodanya, bermanja padanya.


"Alhamdulillah, jalanan udah lenggang lagi. Aku tutup dulu ya"


"Iya mas, cepat pulang dan bawa buah"


Rasya mengaggukkan kepala, telpon pun di tutup, ia melajukan mobilnya kembali membelah jalanan menuju rumah dan membawa pesanan sang istri.


Sesuai dengan ucapannya ia membeli satu keranjang buah dengan berbagai macam jenis. Sampai rumah jam 3 sore, Tania sudah menunggunya di teras rumah. Jenuh berada di dalam kamar terus. Sesekali melihat luar rumah, menyiram tanaman dan juga memotong rumput liar.


"Assalamualaikum, mas pulang" Ucap Rasya sambil melambaikan tangannya.


"Waalaikumsalam" , jawab Tania dan ia pun segera memeluk tubuh suaminya, menciumi aroma tubuh khas Rasya.


"Eh kok main peluk, aku bau lho belum mandi"

__ADS_1


"Biarin, aku malah suka baunya. Enak di hirup tau"


"Enak? Baunya bikin muntah gini kok di bilang enak?"


"Gak tau, pokoknya aku suka"


Lalu, mereka masuk dan meminta satpam untuk membawa buah itu masuk ke dalam rumah dan meletakkannya di dalam kulkas.


"Mas kamu mandi sekarang apa nanti setelah minum teh?"


"Emm, mendingan kamu buatin teh dan aku mandi jadi pas udah mandi kan seger mau minum tehnya"


"Oke, aku siapin dulu airnya"


Rasya melepas semua pakaiannya dan hanya menggunakan celana pendek sambil menunggu istrinya keluar dari dalam sana.


"Mas air udah siap. Sini masuk aku udah siapin!"


Pria ini pun segera masuk, sang istri sedang membenarkan hijabnya dan hendak berbalik badan dia kaget, melihat sang suami ada di belakangnya.


"Kamu juga mas, bikin aku kaget. Coba kamu tadi tidak berdiri di situ pasti aku gak bakalan kayak gini"


"Nah, sekarang nyalain aku. Maka kamu tadi yang minta aku masuk?"


Oh iya, Tania lupa bahwa dirinya yang meminta suami agar masuk. Ia pun segera berdiri dan keluar membiarkan Rasya bersih-bersih badan.


Di dalam dapur, Tania mengambil buah dan membuat teh untuk suaminya. Meski sudah ada pembantu, Tania tidak pernah memintanya untuk melayani suaminya.


"Nyonya ingin, membuat teh?" Tanya pembantu.


"Iya...." Jawab Tania sambil menakar gula untuk teh.


"Biarkan saya bantu nyonya" Tawarnya dan mendapat gelengan kepala dari Tania.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa. Kau kerjakan yang lain saja, ya" Tolak Tania dan teh pun sudah jadi.


Pembantunya pun langsung mengangguk, ia pergi mengerjakan pekerjaan lain. Tania segera membawa teh itu, pasti Rasya sudah lama menunggu di dalam kamar.


Berjalan sambil bershalawat pelan, membawa nampan dengan isi teh plus buah mangga muda.


"Mas, ini tehnya aku taruh sini"


"Iya, nanti aku minum"


"Okeeee"


Tania duduk di kursi balkon kamar, menikmati hembusan angin sore, dan mengupas kulit buah mangga. Sangat nyaman sekali, sampai-sampai Rasya duduk disampingnya ia tidak sadar.


"Tidak ngajak-ngajak untuk duduk disini"


"Eh, kamu udah selesai ganti baju"


"Iya udah, dan tehnya udah aku abisin. Aku kira kamu kemana"


"Aku di hatimu, dan sekarang izin keluar dulu"


"Dasar bucin!"


"Sama suami, gak ada kata haram"


Rasya pun langsung mengangguk dan tersenyum, ia duduk di samping istrinya. Membantu mengupas kulit mangga, dan Tania duduk bersandar di bahu Rasya. Setelah selesai di kupas, Rasya mengiris daging buah, menyuapi istrinya sambil bercerita saat bekerja di rumah sakit.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Part selanjutnya Tania hamil, habis itu lahiran dan tamat.


__ADS_2