
Happy reading 🤗
Sore harinya, Tania terbangun dengan kain yang awalnya basah mulai mengering di keningnya. Diliriknya ada Rasya tertidur di sebelahnya dengan posisi duduk dan menggenggam erat tangan kirinya.
"Kau sadari pagi telah merawatku dengan ikhlas, apakah ini sisi lembut mu yang tidak pernah kau tunjukkan padaku?" Gumamnya dalam hati. Kepalanya sudah tidak terasa berat lagi, pusingnya pun sudah berkurang. Tapi badan masih lemas dan juga suhu tubuh tidak sepanas tadi pagi.
Karena merasa ada pergerakan, akhirnya Rasya pun terbangun dan menatap wajah Tania yang pucat itu. Dia tersenyum gaes, saat melihat Rasya terbangun.
"Apa yang kau rasakan saat ini, Tania?" Tanya Rasya sambil mengucek matanya berulangkali.
"Sedikit enakan dan tidak terlalu pusing lagi" Jawab Tania pelan.
"Syukurlah, biar ku cek lagi kondisi mu" Ujar Rasya dengan meraba kening istrinya. Sudah tidak panas lagi, mendingan lah dan Tania juga sudah tidak terlalu kelihatan pucat.
"Malam ini kau harus makan dan minum obat agar besok cepat sembuh" Katanya lagi setelah pemeriksaan.
"Lagi? Oh no, aku merasa ingin mual ketika obat itu masuk ke dalam mulutku" Ucap Tania menggeleng cepat.
"Itu buat kebaikan mu juga, Nia. Kau akan cepat sembuh jika tidak banyak cing cong" Sahut Rasya dengan helaan napas panjang.
"Baiklah aku akan minum. Tapi sebelumnya aku ingin makan yang seger-seger dulu, Sya" Jawab Tania sepakat dengan ucapan Rasya.
"Katakan, apa yang ingin kau makan?" Ucap Rasya perhatian sekali dengan istrinya yang sedang terbaring sakit.
"Buah pir, aku ingin buah itu" Jawab Tania antusias sekali.
__ADS_1
"Apa kau ingin memakannya sekarang?" Tanya Rasya sekali lagi.
"Iya, aku ingin sekarang, sepertinya enak" Jawab Tania sambil membayangkan saat ia makan buah pir itu.
Tanpa bertanya lagi, Rasya pun segera pergi ke dapur dan mengambilkan beberapa buah dan pisau kecil untuk mengupas kulit buah.
Sifat galak dan sok ngatur tiba-tiba hilang seketika kala istrinya sakit. Wah hebat si Tania karena sakitnya si Rasya udah gak galak lagi.
Sesampainya di dalam kamar, Rasya mendudukkan Tania dengan sandaran bantal. Tania memandang buah itu, awalnya dia ingin sekali makan, tapi setelah melihatnya dia sudah tidak ingin lagi.
"Kenapa kau menatap buah itu dengan tatapan tajam?" Tanya Rasya keheranan dengan Tania.
"Aku jadi tidak nafsu lagi ingin makan buah itu, Sya..." Jawab Tania.
"Lalu kau ingin makan apa, hem....?" Tanya Rasya sesabar mungkin. Kalau tidak sedang sakit mungkin Rasya tidak akan sabar dan selembut ini.
Orang sakit pasti permintaannya aneh-aneh dan jika sudah di kabulkan pasti ada lagi yang ia inginkan. Membuat orang yang waras harus sabar menghadapinya.
Tapi Rasya tetap mengupas kulit buah pir itu dan memotongnya kecil-kecil diletakan dalam mangkuk kecil. Lalu ia menaiki ranjang duduk di samping Tania dan membawa mangkuk itu.
"Sini, aku suapi mungkin kau berselera lagi nanti" Usul Rasya dan semoga berhasil ya.
"Aku tidak ingin lagi, Sya untuk makan buah pir. Jika kau ingin, maka makan saja buah itu" Balas Tania dengan menggelengkan kepalanya.
"Coba satu kali saja, apa kau tidak kasihan denganku. Sudah capek-capek pergi ke dapur hanya untuk mengambil buah ini untukmu, lalu kau malah tidak jadi memakannya?"
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu Rasya. Oke, aku akan makan tapi...."
"Aku yang akan menyuapimu...." Potong Rasya cepat tanpa bantahan.
Tania hanya menurut saja, dia masih malas membuka suara lagi.
Baru saja dua buah potong, sudah tidak mau lagi dan perutnya terasa bergejolak tak karuan. Lalu ia segera beranjak dari duduknya, tak peduli betapa sakit dan pusing kepalanya saat berlari. Ia mencari kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
Rasya pun ikut panik, ia mengikuti Tania dan kaget melihat Tania yang begitu lemas, keringat dingin mengucur deras dari kening dan wajahnya kembali memucat. Rasya menepuk pelan tengkuk leher Tania supaya memudahkan untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh.
"Sudah...., sudah aku tidak mau muntah lagi" Ucap Tania dengan memberi isyarat kepada Rasya.
"Apa kau sudah tidak ingin muntah lagi?"
"Tidak, ini sudah cukup..." Jawab Tania lemas sekali.
Rasya pun merasa bersalah telah memaksa istrinya untuk makan buah pir itu. Dia membalikkan tubuhnya Tania, mengelap bibir dan keringat di wajahnya dengan lembut.
Wajah yang sering membuatnya jengkel, saat ini terlihat sangat memprihatinkan. Membasuh wajah dengan air agar lebih segar saja.
Tania sudah tidak kuasa lagi untuk berjalan, tubuhnya sempoyongan dan detik kemudian pandangannya berkunang-kunang, dan dengan cepat Rasya menangkap tubuh istrinya yang hampir terhuyung jatuh ke lantai.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.