
Sore hari menjelang, saatnya Haida menutup butik. Semua pegawai masih sibuk menyimpun ruangan. Tidak ada yang spesial, hanya saja kedatangan Tania dan Gibran membuat dirinya merasa bahagia. Terutama dengan adanya Gibran. Kalau bisa ia ingin membawa Gibran ke rumahnya. Pasti seru.
"Semuanya sudah rapi, mbak Haida" ucap Siti pegawai setianya.
"Oh, ya sudah sekarang kamu boleh pulang dan bilangin juga pegawai lain".
"Siap mbak".
Setelah semuanya pulang. Keadaan butik benar-benar sangat sepi. Kini tinggal Haida yang masih berada di ruangan. Ia menyiapkan beberapa kertas untuk di bawa pulang. Tania memilih beberapa lembar kertas dan ia begitu minat dengan desain yang Haida gambar.
"Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang tertarik dengan desainku. Berati aku tidak sia-sia belajar".
Butik sudah ditutup oleh Haida. Saatnya ia berjalan menuju mobil yang terparkir di samping butik.
Adzan magrib berkumandang, baru saja Haida keluar dari area butiknya membelah jalanan. Melihat ada masjid, Haida sengaja membelokkan mobilnya dan memakirkan di parkiran yang sudah disediakan.
Langkah pasti menuju rumah Allah. Bersujud syukur kepada-nya. Semoga rezeki hari ini menjadi barokah.
Tak hanya singgah sembahyang, Haida juga menyelipkan uang dan memasukkan ke dalam kotak amal. Walaupun nominalnya tidak terlalu banyak, asalkan ikhlas.
Jarak yang harus ditempuh sekitar 30 menit lagi. Jalanan pun sudah tidak terlalu macet memudahkan mobil Haida melaju dengan cepat.
Sesampainya dirumah, Haida langsung masuk ke dalam kamarnya. Hubungan dengan sang papa masih sama. Belum juga ada perubahan.
Apalagi dengan keadaannya yang sekarang menjadi sibuk. Tidak ada waktu untuk bicara lebih dengan papanya.
"Nak, papa mau bicara"
"Maaf pa, Haida capek"
"Nak, papa mohon kali ini tolong luangkan waktumu untuk papa. Satu menit saja, apakah tidak bisa?"
Haida berhenti berjalan saat sudah sampai di depan pintu kamarnya. Menoleh ke arah belakang.
"Ada apa, pa?" tanyanya datar.
__ADS_1
"Apa kamu masih marah sama papa?" tanyanya pelan.
Haida memejamkan matanya sejenak. Lalu ia kembali menatap wajah sang papa.
"Papa pikir aja sendiri".
Haida masuk dan membanting pintu kamar dengan keras. Papa hanya bisa mengelus dada. Kaget apalagi dengan penyakitnya, ia menderita serangan jantung.
Entah kenapa Haida susah sekali berbaikan dengan papanya, padahal itu sudah menjadi masa lalu yang tidak sepatutnya di ulak-alik kembali.
Wanita itu segera memasuki kamar mandi, mendinginkan otak dan pikiran. Terbesit rasa bersalah sudah bersikap seperti itu pada papa. Seharusnya ia bisa lebih lembut.
Baru saja ia selesai mandi dan hendak berganti pakaian, ada suara gedoran keras di pintu kamarnya.
"Duh siapa sih, berisik banget"
Berjalan sambil berdecak sebal. Ia masih memakai kimono dengan rambut dibungkus handuk.
"Ada apa mbok?" ucap Haida ketika melihat mbok Yem datang dengan wajahnya yang dihiasi kekhawatiran.
"Iya anu kenapa. Ngomong yang jelas dong mbok"
"Tuan non, tuan...."
"Astaghfirullah mbok. Kalo kayak gitu terus. Aku tutup nih pintu"
Haida sudah memundurkan tubuhnya dan hendak menutup pintu. Mbok Yem menggangu waktunya saja untuk berganti pakaian.
"Jangan ditutup dulu non. Itu tuan pingsan".
Secepat kilat Haida kembali membuka pintu, mengguncangkan kedua bahu mbok Yem.
"Apa?! papa pingsan? dimana sekarang papa mbok?"
"Tuan ada di kamarnya non. Tadi saya masuk hendak memberikan obat yang biasa tuan konsumsi"
__ADS_1
Haida tidak peduli dengan keadaannya sekarang yang belum memakai baju hanya memakai kimono berlari menuju kamar papanya. Membuka dengan kasar dan melihat sang papa terbaring lemah di atas ranjang dengan memejamkan mata.
"Papa......!" teriaknya menggema seraya memeluk tubuh papanya.
Sang papa hanya diam dan tidak ada reaksi. Haida segera menghubungi dokter untuk datang dan memeriksa kondisi papanya saat ini.
Sembari menunggu dokter datang, Haida mengganti pakaian dengan baju daster. Asal ambil dari dalam lemari. Tidak ada waktu untuk mencari baju yang pas untuk dipakai malam hari.
Dokter pun datang, ia memeriksa kondisi tuan Tio. Papanya Haida. Perasaan wanita itu mulai tak tenang, saat melihat dokter belum juga kunjung selesai memeriksa. Pasti ini tidak baik-baik saja.
"Papa saya kenapa dok?" Haida sudah tidak sabar menunggu jawaban dari dokter.
"Begini nona, penyakit yang di derita tuan sudah parah. Jadi saya sarankan untuk dibawa ke rumah sakit, karena disana banyak alat dan kemungkinan bisa menyembuhkan penyakit tuan Tio".
"Penyakit? Kok saya tidak tahu. Memangnya penyakit apa yang papa saya derita, dok?"
"Serangan jantung, nona. Sudah beberapa bulan ini penyakit itu diderita oleh papa anda".
Haida langsung lemas, tidak kuat menopang tubuhnya sendiri hingga mbok Yem yang berada dibelakang menahan Haida agar tidak jatuh ke lantai.
Kenapa Haida baru tau kalau sang papa sedang sakit. Apalagi tadi saat dokter mengatakan jika sudah beberapa bulan papa sakit.
"Lakukan yang terbaik dokter. Sekarang juga saya akan bawa papa ke rumah sakit"
"Baik nona, saya akan panggilkan ambulan untuk menjemput tuan".
Haida mengangguk, tak terasa buliran air mata jatuh dari pelupuk matanya. Mbok Yem mengusap pundak Haida, ia juga ikutan prihatin dengan kondisi pemilik rumah itu.
"Yang sabar non. Semoga tuan nanti bisa sembuh".
Haida tidak bisa menjawab, hanya air mata yang mengalir deras. Rasa dosa pun datang. Jika saja waktu bisa diputar kembali, pastinya tadi dia tidak akan berbicara dengan nada datar. Meminta maaf pada papa serta menyayangi papanya.
Bersambung
Jangan lupa klik like dan komentar yak. Kasih semangat buat aku, biar aku juga ngelirik cerita ini dan bisa berlanjut sampai banyak.
__ADS_1