
Lampu hias menyala dengan kerlap-kerlip nya, suasana romantis pun sedang berlangsung, kini Tania sudah berubah penampilan dengan mengenakan hijab. Aura kecantikannya pun terlihat sangat jelas setelah ia menutupi semua auratnya.
"Mas, kita mau ngapain sih sebenarnya. Segala pakai tutup mata, lagi?" Tanya Tania yang kedua kalinya.
Namun, sepertinya suami dari wanita ini enggan untuk menjawab, dia sedang irit bicara jadi dia akan bicara hanya seperlunya dan secukupnya saja. Dasar garam!
Setelah sampai tujuan, Tania di persilahkan untuk duduk, dengan mata tertutup kain.
"Duduklah, aku akan membuka kain ini" Barulah Rasya angkat bicara.
Tania mengaggukkan kepala, dia meraba bawah, siapa tau dia di bohongi dan bisa kejengkang.
"Tenanglah, ini ada kursinya jadi kamu gak perlu khawatir"
Wah, ternyata dia tau apa yang di batin sama istrinya. Hebat, kamu Rasya.
Pria ini tersenyum simpul, dan dia berjalan lalu berdiri di belakang Tania. Perlahan tangannya meraih pengait kain dan berusaha melepasnya.
Tara
Pemandangan yang indah, alunan musik yang enak didengar dan juga background juga lumayan bagus.
"Indah, bukan?" Ucapnya tiba-tiba sambil tersenyum manis padanya.
Duh, tolong dong dikondisikan senyuman mu itu.
"Iya, sangat indah. Pintar kamu mas buatnya" Jawab Tania dengan lemparan senyum.
"Bukan aku yang buat, dek. Tapi orang lain tapi yang aku desain" Sahut Rasya.
Iya lah sama saja, indah.
Tania hanya mengaggukkan kepala seraya mengedarkan pandangannya, sayang kalau dilewatkan.
Kemudian Rasya menarik kursi yang berhadapan dengan Tania, tangannya meraih saku jas warna hitam dan mengambil sesuatu. Berupa kotak.
Tania penasaran, apa gerangan isinya yah?
__ADS_1
Dia hanya diam saja, biarkan sang suami yang menjelaskan tanpa ia bertanya terlebih dahulu. Nanti takutnya di bilang cerewet.
Di buat kaget lagi, tangan kanan Tania di tarik, lalu kotak itu di buka, dan uwau isinya cincin berlian mahal, gaes. Jual rumah elit baru bisa kebeli tuh cincin. Emak jika misquen meronta.
Jari manis menjadi sasaran sematan cincin. Pas, melingkar di jarinya. Cantik, putih dan indah.
"Aku ingin kamu selalu memakai cincin ini dan jangan pernah di lepas" Ucap Rasya setelah selesai menyematkan cincin itu.
''Kan kita masih punya cincin kawin itu mas, buat apa beli lagi?" Tanya Tania. Memang benar, cincin itu masih tersemat di jari tangan kirinya.
"Punyaku hilang saat kecelakaan terjadi dan kini aku beli lagi. Untuk cincin tunggal itu, jadikan bandul kalung mu, saja dek" Jawab Rasya.
Oh iya, Tania baru ingat jika selama ini jari Rasya kosong melompong gak ada ganjelannya blas.
"Ini adalah bukti cintaku padamu. Akan selalu aku pasang, dulu aku ragu untuk memakainya, sebab tiada cinta yang ikut melingkar di jari ini. Hanya benda saja dan hati tidak. Tapi sekarang, aku yakin dan percaya jika pernikahan ini akan abadi sampai maut datang menjemput" Kata Rasya dan hati Tania merasa terenyuh sekali mendengarnya.
"Aku juga mas, ini bukti cintaku padamu. Setelah insiden itu terjadi aku merasa seperti dalam dilema panjang. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tetap menjadi istrimu dan mencintaimu yang aku mampu" Balas Tania.
Malam ini jadi melow, lalu Rasya beranjak dari duduknya menghampiri Tania dan mengajaknya untuk berdansa. Tangan kanannya terulur membuat Tania tersipu malu. Dengan gaya malunya dia menerima uluran tangan suaminya.
Berdansa lah mereka berdua, dengan lihainya Rasya memutar tubuh Tania, membuat wanita itu seperti sedang di mabuk cinta.
"Tidak tau, memangnya apa?"
"Kenakalan mu"
"Benarkah, buat apa kamu mencintaiku hanya karena nakal?"
"Kau nakal dan berhasil membuat hatiku terbangun dan melihat betapa indahnya dari sisi seorang istri. Wanita yang pertama kali membuat debaran jantungku tak karuan, panas dingin dan darah berdesir hebat"
"Ya Tuhan, aku merasa tersempona mendengarnya.
"Terpesona, bodoh!"
"Ah dasar kau ini, tidak bisa di ajak bercanda"
Rasya tidak menjawab, lalu di akhir gerakan dia mengangkat tubuh Tania ke atas secara lama lalu menurunkannya dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, mas Rasya!"
Pelukan semakin erat, hingga Tania bisa mendengar suara detak jantung suaminya. Cepat sekali, dag dig dug ser jantungnya berdetak.
"Aku lebih mencintaimu, dek Nia"
Usapan lembut jatuh di hijab Tania, sentuhan itu yang membuat Tania meleleh. Kini sang suami bersikap sangat lembut dan juga tegas.
Setelah sebulan ini, rumah tangga mereka berjalan dengan baik. Hanya saja jika urusan ranjang, mereka masih ragu dan malu untuk mengungkapkannya.
Ngapain ragu dan malu. Udah halal kok, nanti ke embat orang lho.
Pelaku sudah di tangkap, ternyata dia dulunya adalah anak dari pasien yang ia tangani. Orang tuanya sakit parah, saat itu Rasya kelimpungan mengobati banyak pasien. Rumah sakitnya belum berkembang pesat masih tahap awal, nyawa orang tuanya tidak tertolong dan membuatnya meninggal di depan mata anak itu.
Dan juga faktor ekonomi mereka yang kurang, jadi kurang juga perawatan yang di beri, hanya sekadar nya saja.
Anak ini menjadi marah dan dendam dengan rumah sakit tempat Rasya menjadi dokter.
Mengutuk semua dokter dan suster yang ada, dia berjanji akan membunuh satu persatu orang yang ia pandang.
Kini membuatnya tumbuh menjadi psikopat dan juga mafia bayaran.
Alhamdulillah nya, orang itu sudah dalam tanganan polisi dan membiarkan mereka yang mengurusnya. Rasya hanya menjadi saksi saja dan tidak ada niatan untuk membahasnya lebih lanjut. Hanya saja meminta agar pria itu di hukum sesuai perbuatannya, penjara seumur hidup atau mati di Nusa Kambangan.
Saat ini yang terpenting adalah hubungan dengan istrinya menjadi harmonis dan mereka segara punya anak. Bentar lagi anak nyusul kok. Maunya cewek apa cowok, nih?
Bersambung
.
.
.
Jika di part ini ada lebih 10 komentar, author bakalan crazy up tapi bertahap, dan sekarang juga dan buat debay untuk mereka berdua.
Bentar, aku mau nanya nih kira-kira anak mereka cowok apa cewek ya yang pas?
__ADS_1
Salam sayang dari aku buat kamu, emmuah.