
Happy reading 🤗
Keesokan paginya Tania bangun lebih dulu, dia pergi ke dalam kamar mandi. Namun saat kakinya menginjak lantai, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan badannya menggigil. Pasti gara-gara tadi malam dia kaget dan tidak minum air putih untuk menetralkan jantungnya. Kejam! Sungguh Rasya tidak punya hati.
"Syaaa, bangun....." Ucap Tania lemah seraya mengguncangkan lengan Rasya.
"Heeemmm, ada apa....?" Tanya Rasya yang tetap memejamkan mata.
"Kepalaku pusing....." Jawab Tania.
Langsung mata Rasya yang tadinya terpejam mendadak terbuka lebar sampai bola matanya hampir copot. Pusing? Jika di jalur kan lagi nanti pasti akan menimbulkan badan lemas dan suhu tubuh meningkat serta ujung-ujungnya demam.
Seketika dia duduk menghadap Tania yang sedari tadi menunduk, jangan lupa rambutnya yang acak-acakan. Kemudian Rasya mengangkat dagu Tania dan tangan kanannya memegang kening istrinya, mengecek suhu tubuh.
Ya Tuhan, panas banget. Nih bocah demam, duh kan seharusnya yang demam kan aku bukan dia?
"Kau demam, Tania. Berbaringlah, aku akan mengompres mu!" Ucap Rasya sambil berusaha menidurkan Tania.
"Aku tidak bisa tidur...." Sergah Tania dengan gelengan kepala.
"Hei, kau sedang demam. Jangan ngeyel....!"
"Aku pengen pipis, tapi kepalaku pusing"
"Oh...., ya sudah ayo ku antar ke kamar mandi" Ajak Rasya beranjak dari duduknya menuju tepi ranjang dan akan menggendong istrinya.
Gendong? Ya Tuhan, selama ini Tania tidak pernah di gendong. Hanya waktu masih anak-anak saja dia di gendong oleh ayah dan kini di gantikan oleh suami.
"Kau yakin ingin menggendong ku, aku berat lho" Ucap Tania ragu dengan kekuatan suaminya.
"Memang berapa berat badanmu, hah. Palingan juga gak sampai 100 kg" Sahut Rasya.
"50 kg....."
"Ringan, aku bisa menggendong mu setiap hari jika kau mau"
"Gayamu lele...."
Katanya pengen pipis, kok malah asyik ngobrol tuh mereka berdua.
__ADS_1
Tania minta gendong belakang tidak mau depan, males katanya. Jadi kayak anak kecil ya. Sesampainya di dalam kamar mandi, Rasya di mintai untuk tunggu di luar. Cukup lama ia menunggu, Tania di dalam sana berjalan sempoyongan, perutnya terasa mual dan ingin memuntahkan semua isi perutnya.
Pintu kamar mandi pun terbuka lebar, menampilkan Tania dengan wajah pucat apalagi setelah mencuci wajahnya.
Wajahnya pucat sekali dia, kasihan deh liatnya. Apa mungkin karena malam tadi ya. Kaget dan tidak minum air putih? Ya Tania kena sawan.
"Sudah lega....?"
Tania hanya mengaggukkan kepala, tidak kuat berbicara lagi. Kali ini Rasya menggendong di depan. Lambat soalnya di Tania jalannya, jadi Rasya gak sabar nunggunya.
Dengan sangat hati-hati berjalan hingga sampailah di tepi ranjang. Tania ia baringkan, lalu Rasya pergi ke tempat di mana alat kesehatan di simpan.
Lalu setelah itu Rasya kembali masuk kedalam kamarnya. Memeriksa kondisi istrinya yang katanya demam. Dan benar saja, suhu tubuh Tania naik, ia menggigil juga. Kening panas namun telapak kakinya terasa dingin sekali.
"Apa yang terjadi padaku, Sya...?" Tanya Tania lemah.
"Kau demam Tania. Dan aku akan buatkan bubur hangat untukmu...." Jawab Rasya sambil tersenyum.
"Ih, istri lagi demam malah senyum...."
"Lah, kan biar gak tegang aja gituh..."
Kemudian Rasya pun pergi keluar menuju dapur, membuat bubur khusus orang sakit. Sedangkan Tania memejamkan mata, meski kepalanya terasa berat dan pusing.
"Tania ayo bangun, makan bubur ini dan minum obat....!" Ucap Rasya pelan dengan menepuk pipi Tania.
Tania mulai mengerjapkan matanya, melihat wajah sang suami yang tersenyum. Baru kali ini dia bersikap baik dan tidak berpidato ria lagi di hadapanku. Lalu, tatapan matanya tertuju pada bubur itu. Mulut terasa pahit dan tidak selera untuk makan.
"Mulutku terasa pahit, aku tidak mau makan itu..." Jawab Tania menggelengkan kepalanya.
"Lalu jika kau tidak mau makan bubur bagaimana nanti bisa minum obat dan sembuh, Tania?"
"Pokoknya aku gak mau, pahit lidahku" Kekeuh sekali dia, ya memang kok. Kalo lagi sakit, liat makanan yang lezatnya tiada duanya tetap tidak akan selera lidah tidak bisa mentolerir rasa makanan yang masuk.
Rasya pun menghela napasnya, sabar menghadapi orang sakit. Memang itulah resikonya jika menjadi seorang dokter atau bidan. Dengan lembut Rasya berkata pada istrinya. "Tania, ayo makan sedikit saja untuk mengisi perut mu. Jika kau menolaknya kapan kau akan sembuh, yuk makan ya buburnya" Ajaknya lagi dengan sangat lembut. Ingin muntah rasanya si Rasya setelah mengatakan kalimat itu. Baru kali ini dia membujuk, merayu orang untuk makan.
"Baiklah hanya sedikit saja ya..." Akhirnya si Tania luluh, oh jadi dia mau makan kalo di alem sama orang. Duh manjanya istri kecilku ini. Gemes deh pen jitak keningnya, astaghfirullah Rasya sadar, dia lagi sakit dan itu semua gara-gara kamu.
Hanya tiga suap Tania bisa menerima, suapan keempat sudah menggelengkan kepala, tidak mau. Pahit rasanya, tidak enak.
__ADS_1
lalu Rasya mengambil obat penurun panas, harus membujuk lagi agar luluh.
"Sekarang minum obatnya ya, nanti biar cepat turun suhu tubuhmu" Selembut dan semanis mungkin agar Tania bisa nurut.
"Tidak mau, rasa obat pasti pahit. Aku tidak mau Rasya...."
"Ya emang pahit Tania, kecuali sirup anak, parasetamol. Itu baru manis rasanya...."
"Tidak mau...." Ucap Tania lagi dan menutup rapat mulutnya.
"Tidak akan pahit, setelah minum obat kau memakan bubur lagi untuk menghilangkan rasa pahit dari obat itu" Bujuknya agar makan mau minum obat dan menghabiskan buburnya. Wah cerdas juga otaknya si Rasya, membujuk orang agar Tania mau menurut.
"Benarkah.....? Tapi aku tidak percaya?"
"Iya Tania, aku ini dokter dan paham apa yang harus di lakukan"
Oh ya, kok Tania bisa lupa sih, punya suami dokter dan gak perlu keluarin duit buat bayar biaya rumah sakit.
"Berikan obat itu, aku akan meminumnya"
Dengan senang hati Rasya menyerahkan obat itu, sekali telan obat masuk ke dalam mulutnya, gelas yang penuh air pun langsung tandas habis tak tersisa, obatnya begitu pahit air minum tidak cukup.
"Bubur...mana buburnya?" Tanya Tania kelimpungan mencari bubur dan menahan gejolak perut.
Setelah melihat bubur itu, Tania pun segera menyendok dengan cepat dan akhirnya rasa pahit pun hilang, bubur pun habis ia makan.
Senyum simpul terbit di sudut bibir Rasya. Tidak susah membujuk Tania agar mau minum obat.
"Alhamdulillah, habis...."
Kemudian dia pun mengambil alih nampan, membawanya ke dapur untuk di cuci serta mengambil air untuk mengompres. Kini peran ibu yang Rasya mainkan demi Tania dia rela dan sanggup menjadi orang tua yang setia menemani kala senang dan susah.
Saat masuk, ternyata istrinya sudah tidur. Efek dari obat itu menjadi cepat ngantuk.
Menarik kursi untuk duduk, baskom berisi air hangat ia letakan di meja, kain ia peras untuk di letakan di kening istrinya. Tania tida bergerak, dia diam saja.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.