True Love

True Love
Bulan madu


__ADS_3

Sinar mentari menyeruak masuk lewat fentilasi, silau tapi indah. Dua insan sedang tertidur pun langsung terbangun bersama, memiringkan tubuh berhadapan sehingga bisa saling tatap, tangan Tania meraih pucuk kepala suaminya, mengelusnya secara lembut.


"Kamu tampan" Ucap Tania pelan.


"Memang, aku tampan. Dokter cinta paling tampan"


"Narsisnya kamu"


"This is fact, bukan kebohongan belaka"


Lalu mereka pun segera bergegas bangun dan mandi bergantian sebelum turun ke bawah untuk sarapan. Mulai hari ini, Tania tidak perlu memasak sudah ada pembantu.


Selesai mandi, mereka turun sambil bergandengan tangan dan bercanda ria, makanan sudah tersaji tinggal menunggu orang yang akan makan.


Rasya menarik kursi untuk istrinya duduk, bak tuan putri Tania di perlakukan, tapi meski begitu, dia juga tidak melalaikan tugas seorang istri untuk melayani suami, dia mengambilkan makanan untuk suaminya, makan dengan tenang dan tidak ada yang bicara.


"Nanti aku akan pergi ke rumah temanku, apakah boleh?" Tanya Tania pada suaminya setelah selesai makan.


"Untuk apa?"


"Hanya main, aku bosan di rumah terus,"


"Jangan! Aku tidak mau kamu bertemu dengan orang jahat. Kamu pasti akan ke cafe itu lagi kan, dan apakah kamu ingin kejadian itu terulang kembali?"


Sejenak wanita ini berpikir, memutar otak mengingat memori masa lalu, Rasya kesetanan dan juga tidak kenal ampun jika ia bicara kata pedas. Mulutnya seperti bon cabe level 30, pedes gila.


"Ah, tentu saja tidak. Aku tidak mau itu terjadi lagi"


"Bagus, jadi menurut lah di rumah, jangan kemana-mana sampai aku pulang dari rumah sakit!"


"Jadi, aku diam saja begitu di rumah? Oh mas ku sayang, aku bosan"


"Jika bosan, ayo ke rumah sakit dan temani aku disana sampai waktunya pulang"


"Rumah sakit? Tobat, aku tidak mau. Di sana tidak nyaman"


Rasya pun segera bangkit, dia pergi ke kamar mengambil jas dan tas untuk di bawa ke rumah sakit. Ia benar-benar tidak mengizinkan istrinya keluar rumah. Kejam! Biarkan, sebab ini adalah metode untuk melindungi istrinya dari pandangan jahat dan ingin berbuat celaka padanya.


"Aku berangkat, jaga dirimu sampai aku pulang" Ucap suami sambil meraih kontak mobil.


"Aku tidak di izinkan untuk keluar?"


"Tidak! Jangan keluar sampai aku pulang ke rumah. Kamu boleh keluar hanya di halaman depan rumah, belakang rumah, samping rumah dan atap rumah jika kamu mau"


"Ketat sekali peraturannya?"


"Memang, aku akan lebih ketat jika kamu berani melanggarnya. Bukannya aku kejam, tapi ini demi keselamatanmu juga, dek. Aku masih was-was dengan orang asing. Bisa jadi teman itu lawan, jadi jangan terlalu akrab dengan orang lain"


"Ya Allah, Liana itu adalah sahabatku dari kecil. Tidak mungkin dia jadi lawan ku"


"I don't care, mau dia teman lama atau baru. Aku tetap tidak izinkan!" Kali ini ucapannya tegas, gada bantahan. Cukup patuhi aturan yang berlaku di rumah ini.

__ADS_1


"Baiklah, aku mengalah"


"Jangan sedih, nanti akan ada yang menemani dirimu di rumah ini"


"Siapa? Siapa yang akan menemaniku di rumah ini?"


"Anak kita, suatu saat nanti"


Setelah menjawab, Rasya segera pergi dan meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Kali ini Rasya lebih hati-hati dalam memilih jalan, tidak apa jika harus mengulur waktu lama untuk sampai, daripada lewat jalan pintas yang banyak bahaya menghadang.


Sesampainya di rumah sakit, ia di sambut bahagia dan banyak orang menyalami dirinya, Rasya heran, kenapa semua orang jadi aneh begini? Biasanya saja tidak pernah.


Hari ini lancar tiada kendala, pasien semua aman dan tidak ada yang mengeluh mengenai pelayanan dan perawatan disini.


Sedangkan di rumah, Tania hanya duduk di belakang rumah, menatap kolam sambil memegang setoples keripik, bosan! Tidak ada yang menyenangkan untuk di pandang.


Sampai kapan suami pulang, baru saja setengah hari di tinggal tapi rasanya sudah satu abad. Pembantu rumahnya juga pemalu sebab dulunya pernah bermasalah dengan Tania.


Lalu ia membuka layar ponselnya, melihat sesuatu yang bagus. Di lihatnya, awas jika punya suami tampan, bisa jadi incaran para wanita di luaran.


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi, suamiku hanya punyaku" Ucapnya, ia termakan gosip yang ia lihat, meski memang benar adanya, jika punya suami tampan pasti banyak yang dekati, tergantung dengan orang yang di dekati, bisa menjaga perasaan dan hatinya.


Pikiran Tania jadi tidak tenang, ia pergi masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamar. Mau ke rumah sakit tidak berani, karena baunya yang tidak tahan dan pastinya nanti akan menggangu pekerjaan suaminya.


Berjalan mondar-mandir, masih kepikiran. Huh, gara-gara berita tadi membuat Tania jadi tidak tenang. Jika sampai Rasya berani berselingkuh, maka tendangan kaki siap meluncur.


Hingga tak terasa waktu sudah malam, jam 8 malam Rasya pulang. Ia pulang ke rumah tidak mendapati istirnya di ruang tamu, lalu ia bertanya pada pembantu dan mengatakan jika Tania tidak keluar kamar sejak siang tadi.


Heran.


"Aku pulang...." Ucap Rasya sambil membuka handle pintu kamar.


Tidak ada jawaban, lalu ia mendengar suara orang bicara dari balik pintu.


"Aku tau, dia tidak mungkin melakukan hal itu, aku tau"


"Kau tau apa?"


Lalu Tania menoleh ke arah suara dan di sana ada Rasya yang sedang berdiri sambil menenteng tas. Segera ia menghampiri suaminya dan menubruk tubuh suaminya.


Memeluk sangat erat, membuat Rasya heran, dia kira kalau Tania marah. Eh salah besar.


"Aku tau kamu tidak seperti itu" Ucapnya di pelukan itu.


"Kau ini kenapa, hah. Seperti melihat suaminya berselingkuh dengan banyak wanita saja"


Tania sadar, lalu ia melepas pelukannya lalu menatap tajam wajah suaminya. Dia mengintimidasi Rasya.


"Kenapa?"


"Kamu tidak selingkuh, kan!"

__ADS_1


"Ya Allah, sudah ku duga. Pasti kamu sudah termakan berita aneh itu. Tidak aku tidak pernah selingkuh"


"Jangan bohong!''


"Aku serius! Buat apa aku bohong. Aku sudah menikah dan buat apa mencari wanita lain, sedangkan di hadapanku ini sudah berdiri bidadari cantik"


Tania pun langsung bernapas lega, kembali memeluk tubuh suaminya meletakan kepalanya di dada suaminya. Rasya orang baik dan setia.


"Apa kamu tau mas, apa yang biasa wanita lakukan untuk bisa mendapatkan pendamping yang sesuai dengan dirinya?"


"Tidak, coba kamu katakan padaku"


"Setiap wanita akan memperbaiki diri, mulai dari rajin bersih-bersih, bantu orang tua, dan juga mandiri, tidak manja sepertiku. Karena jodoh itu cerminan diri, pasti dengan segala cara mereka bisa merubah diri menjadi lebih baik. Namun berbeda dengan ku, aku tidak pernah melakukan semua itu, tapi aku mendapat suami sepertimu tampan, baik dan setia."


"Apa? Coba katakan sekali lagi dan aku ingin merekamnya untuk aku perdengar setiap saat"


"Tidak mau! Cukup sekali saja aku bicara"


"Ayolah, menyenangkan hati suami itu pahala lho"


"Baiklah akan aku katakan sekali lagi"


Lalu Tania pun mengulang kembali perkataannya dan di rekam oleh Rasya.


"Sudah bukan, sana kamu mandi. Bau badan kamu"


"Kalau bau, kenapa tadi kau memelukku?"


"Hanya reflek"


"Bohong"


"Terserah, sana ah mas. Aku mau keluar dulu"


"Sebentar dulu, aku mau tanya padamu''


"Apa, kamu mau tanya apa mas?"


"Kapan kita berbulan madu, aku sudah tidak sabar ingin punya anak?"


"Dasar mesum, sana minggir"


Lalu Tania pergi dari kamar menuju dapur untuk mengambil air putih.


Mesum? Dari mananya sih. Perasaan itu kan udah afdol untuk di lakukan oleh pasutri.


Lalu pria ini berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket sekali.


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2