
Tiga bulan kemudian, perut Tania sudah besar sekali, membuatnya susah berjalan. Kadang untuk bangun tidur saja kesusahan. Jadi Rasya yang harus membantunya, menggendongnya menuju kamar mandi dan memandikan istrinya.
"Sayang perut kamu sudah buncit banget, tau" Ucap Rasya sambil menyabuni perut istrinya.
"Iya dong mas, kan udah sembilan bulan. Aduh...." Jawabnya lalu mengaduh.
"Ada apa sayang, kamu kenapa?" Tanya Rasya pada istrinya.
"Dia nendang perut aku mas. Rasanya geli dan dia baru aja gerak" Jawab Tania sambil tersenyum tipis.
"Benarkah, oh aku jadi ingin bisa hamil juga. Ingin merasakan beratnya perut" Kata Rasya berkhayal tinggi.
"Jangan aneh-aneh kamu mas. Mana ada pria bisa hamil" Ucap Tania membuyarkan haluan Rasya.
Lalu mereka pun selesai mandi, Rasya memilihkan baju daster untuk istrinya supaya bebas.
Jika sudah mandi, Tania akan duduk di kursi balkon sambil membaca buku di temani sang suami yang selalu ada disampingnya.
"Mas, kayaknya bentar lagi aku lahiran, jadi aku pikir sekarang kita harus tinggal di rumah sakit kamu" Ucap Tania pada sang suami.
"Tapi, apa kamu tidak keberatan tinggal disana?" Tanya Rasya pada istrinya.
"Gak mas, akhir-akhir ini aku merasakan sakit pinggang yang teramat sakit, takutnya nanti aku malah merepotkan saat harus pergi ke rumah sakit" Jawab Tania.
"Baiklah kalau begitu sekarang kita tinggal disana. Kebetulan ada kamar khusus yang sering aku gunakan saat masih lajang. Ayo kemasi baju dan bawa kesana"
Rasya segera membopong tubuh Tania dan meletakkannya di atas ranjang. Sedangkan ia mengambil beberapa lembar pakaian untuk istri, dan juga calon anak.
Semua sudah lengkap, lalu mereka turun. Rasya berpesan pada bibi untuk jaga rumah dan beritahu jika ada orang yang mencari mereka, untuk katakan jika mereka kini tinggal sementara di rumah sakit menunggu Tania melahirkan.
Perjalanan lancar, dan kini sudah sampai di dalam kamar rumah sakit. Nuansa kamar tidur dengan cat warna putih, sangat sesuai dengan tempat yang kini ia tinggal untuk sementara waktu.
__ADS_1
Hari berganti hari, rasa sakit pinggang yang Tania rasakan pun sering terjadi. Hampir membuatnya tidak bisa berjalan.
Kali ini sakitnya sungguh luar biasa, ia merintih dan memanggil nama suaminya.
"Mas, mas Rasya tolong aku mas" Ucap Tania sambil memejamkan matanya menahan sakit.
Rasya yang sedang membuka pintu pun segera masuk dan menghampiri istrinya.
Ia kaget melihat kaki Tania ada darah yang mengalir, dan Tania yang kesakitan. Fix, anak akan lahir dan Rasya meminta para suster untuk membawakan branker untuk Tania dan di bawa ke ruang persalinan.
Saat sudah sampai disana, Rasya memberi aba-aba untuk istrinya mengejang, dan mengatur napasnya. Kekuatan sudah habis, Tania sudah tidak bisa lagi mengejang, sungguh sakit sekali. Inilah yang membuat hati orang was-was, apakah anak dan ibu bisa selamat saat proses persalinan terjadi.
"Buka sembilan, ayo ibu ini langkah terakhir" Ucap dokter wanita dan Rasya pun segera mengaggukkan kepala, menatap wajah Tania.
Sekali lagi Tania berusaha, dan suara tangisan bayi pun terdengar keras. Wajah Rasya menjadi lega, begitu juga dengan Tania. Wajah pucat dihiasi senyuman bahagia.
"Selamat ya pak, anak bapak dan ibu laki-laki dan dia sangat tampan sekali" Ujar dokter itu.
"Anakku, kamu sudah lahir ke dunia ini nak. Welcome in the world" Ucap Rasya dengan menitikkan air matanya. Haru biru lalu di bawa ke hadapan Tania.
Wanita itu pun langsung tersenyum bahagia, ia mengelus pipi bayi dengan pelan. Bahagia pun ia rasa juga.
Semua anggota keluarga berdatangan ke rumah sakit. Mereka pun sangat gembira sekali, dari London pun datang, kedua orangtuanya Sarah dan Alexa ikut datang juga ingin melihat wajah anak Rasya dan Tania. Katanya wajahnya begitu tampan sekali, sesuai dengan bibirnya unggul.
Kini Tania sudah di masukan ke dalam ruangan VIP dan bayinya di sampingnya.
Semua orang pun gemruduk masuk, kayak anak kambing. Di lihatnya wajah Tania, putra kecilnya dan juga Rasya sebagai suami plus ayah.
"Selamat Rasya akhirnya kamu jadi seorang ayah dan anak kamu sangat tampan sekali wajahnya. Kamu pintar buat anaknya" Ucap Arka dan di sambut tawa oleh semua orang.
"Selamat ya bang, akhirnya abang jadi ayah dan suami yang bertanggung jawab terhadap kak Tania" Ucap Ghani dan Vito bersamaan.
__ADS_1
"Makasih, makasih banyak ucapan selamat dari kalian, aku bahagia sekali bisa menjadi ayah" Jawab Rasya dengan senyuman mengembang.
"Paman, siapa nama anak paman?" Celetuk Arza di gendongan Arka.
"Eum, kira-kira apa ya yang pas?"
"Arsya saja, kan kamu Rasya" Ucap papa Ferdinand.
"Bagaimana istriku, apa kamu setuju?" Tanya Rasya sebelum memberi nama untuk putranya.
"Terserah kamu saja mas, aku nurut aja sama kamu" Jawab Tania sambil mengelus pipi anaknya.
"Baiklah, akan aku beri nama dia Ananda Arsya Fadhilah" Ucap Rasya dan diangguki oleh semua orang.
Hari bahagia ini akan selalu mereka ingat sampai kapanpun. Kebahagiaan datang bertubi-tubi menghampiri mereka semua, bahkan keluarga jauh datang demi ingin melihat wajah anak mereka.
...The End...
Oke ya genks, ini udah part akhir ya. Tamat sampai sini. Happy ending kan, sesuai dengan permintaan kalian semua.
Tania yg sekarang pake hijab.
Tania Oliveira
Ananda Arsya Fadhilah
Good bye
__ADS_1