
Rumah sakit
Mata Rasya melirik sekilas pada sebuah rantang yang ada di mejanya. Sejak kapan ada rantang disana, ia rasa tidak pernah membawanya.
"Nia, itu rantang siapa...?" Tanya Rasya sambil menaikan satu alisnya.
"Punya kita, dan itu aku yang membawanya. Kau pasti belum makan, bukan?" Jawab Tania sambil duduk menyilangkan kakinya.
"Heem, aku belum makan. Lalu apakah kau yang memasaknya?" Tanya Rasya lagi, masih penasaran.
"Tentu saja, aku yang memasaknya" Jawab Tania bangga. Tapi entah dengan rasanya.
"Apa yang kau masak, hari ini?"
"Capcay...., kau makanlah akan aku siapkan piringnya" Jawabnya, lalu beranjak dari sofa menuju ruangan khusus dan mengambil sendok dan piring.
"Okeeee....." Sahutnya dengan patuh.
Tania sudah pergi, lalu Rasya membuka rantang itu. Isinya sih menggugah selera makan tapi ia ragu untuk mencicipinya. Sudah biasa makan dengan rasa yang begitu asin dan kadang begitu hambar. Tapi masa siang ini harus merasakan yang sama.
"Kau sedang apa Rasya....?" Tanya Tania mengagetkan Rasya yang sedang melamun.
"Ak....aku sedang tidak melakukan apa-apa. Hanya melihat isi rantang ini" Jawab Rasya tergagap tapi jujur.
"Wah ternyata kamu sudah lapar ya, sampai-sampai tidak sabar menungguku untuk mengambil piring dan sendok" Tebaknya dan hanya diangguki oleh Rasya.
Sesuai dengan cara wanita idaman, Tania membuka dan melepas rakitan rantang itu, menyendok nasi dan sayur lalu di letakan di piring. Ia menyodorkan piring tersebut untuk Rasya.
"Makan....!" Titahnya seraya tersenyum tipis.
"Iyaa baiklah akan aku makan" Jawab Rasya pasrah jika rasa masakan itu aneh.
__ADS_1
Sedetik kemudian
Ketika sendok sudah masuk ke dalam mulut, Rasya pun tak henti-hentinya berkedip. Apakah ini mimpi atau kenyataan? Mengapa rasa capcay ini berbeda dan membuat nafsu makannya bertambah. Lalu tatapannya tertuju pada Tania yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"Ini benar-benar kau yang masak, Nia?" Tanya Rasya setelah menelan nasi.
"Iya, aku yang masak. Apa kau tidak percaya?"
"Euh, bukan begitu hanya saja, kurang yakin..."
"Dasar kau ini, sudah ku buatkan makanan malah menilai ku seperti itu" Marah Tania tidak terima.
"Hei jangan marah dulu, aku hanya terpesona dengan masakan mu yang satu ini. Aku tambah berselera makan karena sayur yang kau bawa untukku" Ucap Rasya berusaha untuk menjelaskan pada Tania agar tidak salah paham.
Tania yang baru saja merajuk pun akhirnya meluluh. Ia menatap wajah Rasya dengan penuh tanya.
"Benarkah begitu? Apa kau benar-benar menyukai masakan ku?" Tanya Tania dobel.
"Iya dan iya aku menyukainya"Jawab Rasya dan membuat Tania tersenyum lebar dan tanpa sadar ia langsung menubruk tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat.
"Terimakasih, baru kali ini masakan ku di puji orang...." Ucapnya di dalam pelukan itu.
Rasya pun langsung menganga lebar mendengar penuturan istrinya barusan.
"Ya Tuhan, malang sekali nasib istriku ini. Dia bilang kalau baru kali ini masakannya di puji orang lain. Jahat sekali aku sebagai suami yang tidak pernah memuji masakan darinya. Maafkan aku istriku...."
Gumamnya sambil membalas pelukan itu dan tak kalah eratnya. Ia juga mengelus pucuk kepala Tania. Lalu istirnya itu menyudahi pelukan dan kembali duduk di tempatnya semula.
"Maaf aku khilaf sudah memelukmu" Ucap Tania sambil menunduk, menyembunyikan wajah merahnya.
"Tidak apa, kau ini istriku. Mau memeluk atau mencium pun aku tidak akan melarangnya" Jawab Rasya enteng dan senyuman tipis terbit dari sudut bibir Rasya.
__ADS_1
Bluss
Semburat merah di wajah Tania tak tertutupi lagi. Mudah sekali Rasya berkata demikian. Bahkan Tania saja tidak pernah terpikir untuk melakukan hal itu jika tidak kecerobohannya.
Situasi dalam ruangan menjadi canggung, itu semua karena ulah Rasya. Tania saja tidak lagi berani mengangkat kepalanya walau hanya menghirup udara. Untung saja dia membawa masker, jadi wajah malunya tidak terlihat karena masker itu. Sungguh membawa keberuntungan bagi Tania.
"Ini sudah jam dua siang apa kau mau pulang?" Tanya Rasya pada istrinya.
"Em, iya aku mau pulang dan semoga pekerjaan mu cepat selesai..." Jawab Tania.
"Wah ternyata istriku, sudah tidak sabar menunggu kepulangan suaminya ini...." Ujar Rasya.
Duh salah ngomong nih Tania dan membuat Rasya gede kepala.
"Ah tidak, aku tadi hanya salah bicara. Maksudku adalah semoga harimu menyenangkan dan juga pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik"
"Tentu saja menyenangkan. Karena kau sudah datang kemari dan membawakan makanan untukku"
"Ah baiklah, aku akan pamit pulang"
"Kau tidak mau mencium ku, kan tadi sudah memelukku tidak sekalian saja?"
"Kauuuu...."
"Iya aku tampan, suamimu yang paling bijak. Tenang saja aku hanya untukmu dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya".
"Dasar gila....." Ucapnya Tania lalu ia pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Rasya yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.