
Happy reading 🤗
Kevin pergi tanpa mengabari istrinya, ia mematikan ponselnya, ia tak ingin di ganggu oleh orang lain. Butuh waktu untuk menyendiri.
Dia pergi menjauh dari kota, pergi ke suatu tempat dimana dulu ia tinggal bersama orang tua angkatnya, yang begitu menyayangi dirinya hingga mereka berdua meninggal dan belum sempat melihat Kevin sukses.
"Oh Tuhan, mengapa aku harus mendapatkan takdir yang begitu pahit ini" eluh Kevin ketika sudah sampai di perkampungan.
Kevin turun dari mobil dan keluar lalu ia mengedarkan pandangannya. Ternyata desa itu sudah banyak perubahan dan sekarang sudah ramai dan jalannya juga sudah di aspal semua.
Berjalan menuju danau, melempar batu ke air hingga membuat suara di tengah danau.
Aaaakkkkhhhhhh
Sekuat tenaga Kevin berteriak di danau itu, hingga hatinya terasa plong tidak lagi menggendong beban hidup yang begitu berat.
Lalu dari jauh ada stranger datang menghampiri Kevin dengan pakaian serba putih. Dia berjalan sambil tersenyum ketika melihat Kevin, lalu ia menepuk pundak Kevin seketika Kevin menoleh kearah belakang.
"Siapa kau...?" tanya Kevin dingin.
"Orang yang akan membantu meredamkan emosimu" jawab stranger itu.
"Kau pikir siapa,hah. Dengan seenaknya kau ucapkan kalimat itu" hardik Kevin.
"Kau mungkin tak mengenalku tapi diriku sangat mengenal siapa dirimu itu" jawab stranger itu.
Kevin diam malas meladeni ucapan stranger itu. Untuk apa meladeninya, sedangkan saat ini ia tengah emosi.
"Jangan kau sakiti dirimu hanya karna emosi yang menguasai dirimu" ucap stranger.
"Jangan sok menasihati ku, lebih baik kau pergi dari sini. Aku ingin sendiri, jangan kau ganggu waktu ku!" jawab Kevin.
"Hanya peduli,
dengan orang yang sudah salah kaprah dalam menghadapi emosinya sendiri dan aku tidak akan pergi dari sini, walau kau mengusirku" ujar stranger.
__ADS_1
"Apa tujuanmu kemari hanya ingin menambah emosiku?" tanya Kevin dengan tatapan matanya yang tajam.
"Tidak.
Aku ingin membantumu untuk meredam emosi" jawabnya.
"Dengan cara apa kau akan membantuku?" tanya Kevin. Ia sedikit terpancing ucapan stranger itu.
"Dengan ikhlas dan tabah" singkat jawaban.
"Kau pikir, dengan ikhlas dan tabah bisa mengembalikan orang yang sudah tiada dan kembali kedalam pelukanku?" tanya Kevin sengit.
"Tidak bisa dan tidak akan pernah. Maka dari itu aku akan mengajarkan padamu apa makna dari kata ikhlas dan tabah" jawab stranger itu.
Kevin tak banyak bicara, dia menengadah kan kepalanya menatap langit yang mataharinya hendak terbenam. Lalu ia menatap kembali wajah stranger itu.
"Dimana dan bagaimana caranya" ucap Kevin.
"Ikutlah denganku..." jawab stranger.
Kevin langsung luluh, begitu sabar stranger ini, saat Kevin menghardiknya pun ia tetap sabar dan selalu tersenyum.
"Disini kau akan belajar dan disinilah kau akan mengerti apa yang dimaksud dengan ikhlas dan tabah" ucapnya.
"Kau yakin disini? Apa tidak salah tempat? Lalu apakah kau yang akan mengajariku disini?" sekaligus tiga pertanyaan yang ia tanyakan pada stranger.
"Iya, disini. Tapi bukan aku yang akan mengajarkan padamu, melainkan Kyai disini" jawab stranger itu.
Lalu mereka masuk masjid dan menjalankan shalat ashar berjamaah. Entah mengapa tiba-tiba hati Kevin bergetar dan langsung adem serta tenang ketika kakinya menginjakkan diatas lantai masjid.
Setelah selesai shalat ashar berjamaah, Kevin duduk di teras masjid sambil memejamkan matanya.
Kevin belum sadar juga, kalau saat ini ada orang yang menunggu kedatangannya untuk pulang ke rumah.
Rumah
__ADS_1
Famira terus mondar-mandir di kamarnya, menelpon Kevin berkali-kali hingga ia geram dan membuang ponselnya. Famira geram bercampur khawatir. Mengapa Kevin belum pulang? apakah dia lembur, tapi kenapa ia tak mengabari dirinya jika akan lembur, sehingga tak membuat Famira khawatir.
Sampai 100 kali panggilan yang tak terjawab yang membuat Famira sangat khawatir pada suaminya. Famira terus berdoa semoga Kevin selamat dan di jauhkan dari segala marabahaya. Sampai-sampai Famira menelpon Arka dan Zahra, siapa tau Kevin berada disana, tapi hasilnya nihil Kevin tidak ada disana, lalu ia menelpon asisten pribadi Kevin dan juga Sindi dengan perasaan yang tidak tenang Famira terus menelpon hingga tersambung.
"Halo, apakah dengan asisten Wandi?" tanya Famira.
"Benar saya asisten Wandi, apakah anda nona Famira istrinya pak Kevin?" tanya Wandi.
"Iya aku istrinya, maaf mengganggu waktu anda" jawab Famira.
"Begitu, baiklah nona. Oh ya nona, kebetulan anda menelpon, jadi saya ingin bertanya, apakah pak Kevin ada di rumah?" tanya Wandi.
Deg
Jantung Famira serasa berhenti, baru saja ia ingin bertanya seperti itu pada asisten Wandi.
"Halo nona, apa anda masih disana?" tanya asisten Wandi, karna tiba-tiba Famira diam.
"Eh...iya, maaf. Saya tadi tidak dengar" jawab Famira.
"Jadi, apakah pak Kevin ada dirumah anda?" tanya kembali.
"Tidak ada, dan saya juga ingin menanyakan pada anda. Tapi sepertinya kita sama-sama tidak tau dimana Kevin sekarang berada" jawab Famira.
"Oh..., baiklah. Tapi saya minta info jika pak Kevin sudah pulang" ucap Wandi sebelum menutup panggilan.
"Baiklah, nanti saya kasih infonya" jawab Famira.
Lalu Famira menutup panggilan dan hendak menelpon Sindi, namun ia urungkan niatnya sebab Famira berpikir mungkin Sindi juga tidak tahu dan percuma saja bertanya, toh Sindi saat ini masih di kantor.
''Ya Allah, dimana suami hamba" ucap dalam hati.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.