True Love

True Love
Bantu


__ADS_3

Happy reading 🤗


Hingga akhirnya sudah selesai acara memasaknya. Semua telah di hidangkan di meja makan. Tumis kangkung yang Tania masak dia sembunyikan tidak mau di letakkan di meja, malu katanya. Tumisan kangkung yang menghitam tak layak untuk di dipandang apalagi di makan.


Semua para lelaki pulang ke rumah dengan badan yang penuh dengan peluh keringat. Dengan telaten Elia mengelap keringat di dahinya Zafier, sedangkan ayah sudah masuk ke dalam kamarnya untuk bersih-bersih badan. Tania memperhatikan kakaknya yang begitu romantis dengan kakak iparnya.


So sweet banget


Lalu pandangannya tertuju pada Rasya yang sedang melepas sepatu yang dipakai tadi. Ia berinisiatif untuk membantunya untuk mengelap keringat, seperti yang dilakukan oleh Elia.


"Sini, biar ku bantu" Ucap Tania sambil duduk di sebelah Rasya.


"Apa yang mau kamu bantu...?" Tanya Rasya sambil mengernyitkan keningnya.


Tania tidak menjawab, lalu ia membenarkan posisi duduknya untuk menghadap wajah suaminya, lalu lengan kecilnya meraih handuk di leher Rasya. Pelan-pelan ia mengelap dan tatapannya begitu tajam, serta intim sekali posisinya.


Ini gadis manja sedang kesambet kali ya, sejak kapan dia bisa seromantis ini? Mau ngelapin keringat orang lain.


Rasya dan Tania sama-sama tidak berkedip sampai selesai keringat itu di lap. "Sudah, ayo sekarang kamu ganti baju dan sarapan" Ajak Tania.


"Hem...., baiklah" Jawab Rasya dengan mengaggukkan kepala.


Semua itu yang Tania lakukan sebab ia melihat di google cara menyenangkan hati suami, namun ada satu hal yang ia skip, masalah nafkah batin. Sebelum ia menikah sudah jauh hari ia menyiapkan diri untuk menikah dengan pria yang ia cintai, namun takdir berkata lain, ia menikah sebab perjodohan yang Elia tolak dan menimpa dirinya.


Di dalam kamar, Tania sudah menyiapkan pakaian untuk Rasya dan juga kamar sudah bersih. Tapi yang membersihkannya adalah bik Eni.


"Rasya jika sudah selesai mandi. Aku tunggu di sofa" Ucap Tania sambil membuka layar ponselnya.


Tanpa menjawab, Rasya langsung nyelonong masuk ke kamar mandi. Seperti biasa, Rasya mandi dengan durasi waktu yang cukup lama.


Tapi kali ini Tania tidak marah-marah, sebab ia sedang melihat barang bagus di sosmed.


"Jangan terlalu dekat jika melihat layar ponsel!" Ucap Rasya tiba-tiba sambil menarik ponsel yang Tania pegang.


"Ah, kau ini menggangu saja. Aku sedang fokus tadi" Sungut Tania mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Boleh kau bermain ponsel tapi jangan terlalu dekat nanti matamu jadi buram dan bisa rabun" Jawab Rasya memberikan pengertian untuk istrinya.


"Baiklah aku mengerti...." Ucap Tania lalu ponsel itu ia raih kembali.


"Apa kau akan tetap memandangi layar ponsel itu dan tidak makan?"


"Sebentar lagi, memangnya kau sudah selesai bersiap?"


''Sudah, ayo lekas turun ke bawah!"


Rasya menarik jemari tangannya Tania dan satu tangannya merampas ponsel itu ia lempar ke atas ranjang. "Sudah jangan main ponsel!"


Setelah sampai di bawah, ternyata semua sudah duduk manis di kursi dan sudah lama mereka menunggu kedatangan Tania dan Rasya.


"Uluh-uluh, pengantin baru mesra banget. Gandengan tangan terus"


"Iya ayah, itu benar. Bahkan kami saja kalah dengan mereka berdua"


"Apaan sih kak, yah...."


"Mana masakan yang kamu masak pagi ini?"


"Ah itu, masakan ku rasanya tidak enak. Lebih baik kamu jangan makan masakan ku nanti malah sakit perut"


"Tentu saja tidak, jika aku sakit perut berati cacingnya ketagihan meminta lagi (Alias kelaparan)."


"Itu benar sayang, mana masakan kamu. Biar ayah coba juga?"


"Haah, yakin kalian mau makan?"


"Tentu saja, wahai istriku sayang"


"So sweet dah Rasya sama Tania...." Ucap Zafier tiba-tiba.


Lalu dengan terpaksa ia mengambil sayur dalam mangkuk dan dihidangkan di meja makan.

__ADS_1


What?


Ini sayur apa bukan? Hitam sekali, apakah ini tumisan sayur?


Ayah pun langsung membelalakkan matanya, melihat apa yang Tania keluarkan dari meja lain. ''Sudah ku bilang bukan, jika nanti kalian akan ilfill melihatnya".


Semua orang langsung tersenyum kecut, memang benar apa yang dikatakan oleh Tania. Tidak sanggup rasanya untuk menelan sayur itu. Melihat saja sudah membuat kenyang.


"Tolong kau hidangkan di piringku!"


"Yakin? Aku tidak ingin kau sakit perut karena sayur ku ini"


"Hidangkan saja, jangan banyak tanya!"


"Ba, baiklah akan ku hidangkan"


Tatapan ngeri jatuh pada mangkuk hijau itu saat Tania menyendok sayur untuk Rasya.


Apakah Rasya nanti tidak sakit perut?


Satu suapan sudah masuk ke dalam mulut Rasya dan siap untuk di kunyah. Semua rasa sayur bercampur jadi satu. Rasa pahit, hambar, asin dan manis bercampur. Entah bagaimana caranya untuk Rasya menjabarkannya. Intinya nanti pasti ia akan keluar-masuk kamar mandi.


Menahan ekspresi wajah agar tidak di curigai dan membuat hati Tania tidak pesimis lagi untuk mencoba menjadi istri yang baik. Rasya bisa memaklumi ini, wajar jika masakan ini rasanya ambyar karena ini adalah kali pertama Tania masak.


Bersambung


.


.


.


Please komentar ya, Author butuh banged dukungan dan saran dari para readers semua. Ini Author lakukan karena makin hari yang baca makin turun, takutnya novel ini kurang menarik atau mulai membosankan.


Bantu Author ya, kakak-kakak cantik, kece, baik hati dan juga tidak sombong. Saran dan kritik kalian adalah hal yang bisa membangun semangat Author buat up tiap hari.

__ADS_1


Tapi jangan yang terlalu pedes juga ya.


__ADS_2