
Flashback on
Rasya baru saja keluar dan pergi berjalan menuju garasi rumahnya. Ketika sudah mobil menjauh dari rumah, ada beberapa mobil yang mengikuti Rasya.
Awalnya pria ini tidak menggubris dengan beberapa mobil hitam yang ada di belakangnya, ia pikir jika mobil itu mempunyai tujuan yang sama, sehingga selalu sejalur dengan mobilnya.
Akan tetapi, lambat laun Rasya merasakan ada hal yang mengganjal dan tidak beres dengan ketiga mobil yang ada. Jika Rasya berbelok kanan, pasti mobil itu juga akan mengikuti, fix ini bukan hal kebetulan melainkan sengaja membuntuti dari belakang dan sejak ia keluar dari kompleks perumahan elit.
"Siapa mereka dan kenapa mengikuti mobilku?" Tanyanya dalam hati, lalu ia menambah kecepatan mobilnya agar bisa menjauh, tapi sayangnya, jalan yang Rasya pilih malah jalan yang jarang di lalui oleh banyak kendaraan. Naas, mobilnya di himpit oleh dua mobil, dan yang satunya selalu membunyikan klakson mobil agar Rasya berhenti.
Pria ini tidak menyerah, meski mobil terhimpit, tetap melaju agar bisa sampai rumah sakit. Badan mobil banyak yang lecet, tak Rasya pedulikan asalkan nyawa aman.
Pikirannya kini hanya fokus menyetir dan bayangan Tania menari-nari di otaknya. Sedang apa dia, apakah aman dan tidak ada yang menyakitinya?
Rasya mengambil ponselnya untuk menghubungi istrinya, agar berhati-hati di rumah sebab ada orang asing yang mengincar dirinya dan juga Tania. Berlalu Rasya mencoba tapi hasilnya masih sama, tidak dapat di hubungi.
Perasaan bercampur aduk, kekhawatirannya terhadap keselamatan istrinya lebih besar ketimbang keselamatan dirinya sendiri. Ia rela terluka asal Tania aman dan selamat. Oh Tuhan, siapa sebenarnya mereka ini, ada apa dan kenapa selalu mengikuti ku?
Dari arah berlawanan ada mobil yang melaju kencang hingga membuat Rasya kaget, lalu mobilnya pun oleng dan menabrak pohon besar. Mobil menjadi ringsek tak berbentuk lagi, kaca mobil pecah dan juga orang yang ada di dalam mobil itu pun terluka parah.
Darah mengucur deras dari kening Rasya, badannya terhimpit oleh jok mobil dan membuatnya susah untuk bernapas.
Di saat itu, Rasya tidak memikirkan kesakitan yang ia rasa, hanya satu nama yang terucap.
"Taniaaaaa" Ucapnya lemah.
Lalu mobil yang mengikuti Rasya pun keluar dan langsung membuka pintu mobil milik Rasya. Ia menyeret agar Rasya keluar dan menghajarnya tanpa ampun, pria yang sekujur tubuhnya penuh luka pun susah untuk melakukan pembelaan diri. Ia terhuyung ke aspal, lalu di tarik kembali dan di jatuhkan lagi. Wajah lebam, luka robek di pelipis melebar, hidung berdarah dan dari mulutnya pun sama mengeluarkan darah.
"Si.. siapa kalian?" Ucap Rasya dengan nada lemah dan tersungkur di aspal.
Mereka tak menjawab, justru mereka membabi buta Rasya sampai ia tak berdaya sama sekali.
Seakan sedang menghakimi maling, tanpa belas kasihan Rasya di hajar, salah apa dirinya dengan pria berbaju hitam itu.
Setelah puas membabi buta, salah satu pria yang ada di sana, mengeluarkan pistol dan menodongkan tepat di kepala Rasya.
"Akan ku bunuh kau. Dasar pria brengsek" Ucapnya sambil mengangkat wajah Rasya menggunakan pistol yang ia bawa sebelum di todongkan ke kepala Rasya.
Rasya tersenyum sinis, ia baru paham jika pria yang sudah membuntuti dirinya adalah pria yang dulu sempat menjadi pasien di rumah sakit.
Rasya tidak mau lemah hanya karena di ancam oleh pria itu, dengan sekuat tenaga, ia menendang tangan pria itu dan berusaha untuk bangkit dan melawannya.
Orang suruhan pun segera membantu tuanya untuk bangkit dan mencekal tangan Rasya agar tidak kabur, pria ini memberontak untuk di lepas, tapi kekuatan yang ia punya sudah terkuras habis.
__ADS_1
"Hahaha, kau tidak akan bisa lari dari maut. Sebentar lagi, malaikat maut akan menjemputmu!" Ucap pria itu sambil berdiri membenarkan jasnya.
"Diam kau! Jangan pernah kau coba-coba untuk mengancam ku dengan ucapan mu itu" Ucap Rasya berteriak.
"Oh, aku tidak sedang mengancam mu, tapi memberi peringatan, lalu membunuhmu secara perlahan-lahan. Kau lihat foto wanita ini, dia akan menjadi sasaran pertama" Jawabnya sambil menedengkan hp dan gambar dalam layar itu adalah Tania tak lain istrinya Rasya.
"Biadap! Jangan pernah kau menyentuh istriku!" Teriaknya, ia begitu murka. Istrinya saat ini menjadi taruhan antara nyawa dan keselamatannya saat ini. Kemeja putih yang Rasya pakai sudah berubah warna menjadi merah, penuh darah.
Rasya menginjak kaki orang yang mencekal lengannya, dan berlari berusaha menjauh, tetapi sayang seribu sayang. Ada sebuah benda kecil yang menembus dada dan membuatnya terjatuh kembali ke jalan aspal.
"Aaakkkhhhhh....!" Teriaknya sambil memegangi dada yang sudah berlumuran darah. Tubuh pria ini pun limbung, jatuh perlahan. Mendengar suara tawa dari belakang.
Kini darahnya memenuhi jalan, mengucur begitu deras dan membuat kesadaran yang ada menjadi hilang, ia menutup matanya bayangan kabur.
Setelah memastikan Rasya tidak sadarkan diri, barulah mereka pergi dan meninggalkan Rasya sendirian dalam jalanan sepi itu.
Sepeninggalan mereka, ternyata Rasya masih bernapas, ia memegangi dadanya yang sesak dan juga berdarah.
Napasnya tersengal-sengal, akibat kekurangan darah dan juga jantungnya yang bocor setelah di tembus oleh peluru.
Pria ini mencari sesuatu yang bisa di pakai, toleh sana dan sini tapi tidak ada yang bisa membantu. Harus apa sekarang?
Kemudian Rasya pasrah, jika saat ini dia harus mati maka akan terima dan rela. Satu pinta dari Rasya. Tuhanku, aku mohon berikanlah kebahagiaan untuk Tania dan semoga jika aku nanti mati maka ada orang yang bisa menjaganya bahkan lebih baik daripada diriku ini.
Tania dalam perjalanan menuju rumah sakit Medika Utama. Di sanalah ia di beri kabar jika ada orang yang kecelakaan dan sekarang sedang dalam tanganan dokter.
Sepanjang perjalanan, ia tak henti-hentinya menangis, berdoa dan juga pesimis. Kenapa rasa bersalah mulai muncul, saat Rasya dalam keadaan sehat, ia tidak merasakan apa-apa dan kini saat di kabarkan jika Rasya terkena musibah barulah perasaan bersalah datang.
Apa sebenarnya maksud dari ini semua dan kenapa Tuhan membolak-balikkan hatinya tak menentu seperti sekarang?
"Pak bisakah lebih cepat lagi!" Pinta Tania dengan raut wajah gelisah.
"Ini sudah yang paling cepat, nona. Anda bersabarlah sedikit" Jawabnya memberikan argumentasi pada Tania.
"Haaah...." Teriak Tania frustasi dalam taksi.
Ia mengacak-acak rambutnya, baju yang ia pakai pun tidak ganti masih mengenakan pakaian santai dan juga sendal jepit. Tak memperdulikan style, penting bisa sampai di rumah sakit.
Beberapa waktu kemudian, sampailah Tania di depan gedung rumah sakit, keluar begitu cepat, membayar tanpa menunggu kembalian uang dan juga menabrak orang yang lewat dengan membawa orang sakit.
Rasya!
Hanya nama itu yang Tania ingat dan panggil-panggil. Ia berkeliling dan mencari dokter dan suster yang menangani suaminya.
__ADS_1
"Dokter...., suster...!" Teriaknya memekakkan telinga.
Ia bertanya dengan resepsionis malah hanya membingungkan saja, sudah badan tak terurus, seperti orang gila.
"Dokter! Di mana suamiku sekarang?" Tanya Tania saat ia sudah bertemu dengan salah satu dokter dan mengguncangkan lengan beliau dengan kasar.
Air mata mengalir deras membasahi pipi, tatapan mata sayu dan juga kesedihan yang tersirat di dalamnya.
"Maaf nona, siapa nama suami anda?"
"Rasya Ferdiansyah. Itu nama suamiku"
"Sedang dalam tanganan dokter Ari. Beliau yang menemukan dokter Rasya"
"Antar kan aku ke ruangan itu, sekarang!" Pintanya memaksa sekali.
"Baik nona, mari ikuti saya"
Berjalan lah mereka berdua, melewati banyak ruangan dan sampailah di tempat di mana dokter Ari berusaha untuk mengobati Rasya.
"Ya Allah, sembuhkan suamiku jangan kau ambil dia dariku, ku mohon" Doanya dengan sesegukan.
Satu jam kemudian, dokter Ari keluar dengan wajah serius. Ia menatap dokter Sena dan Tania bergantian.
"Anda keluarga tuan Rasya?" Tanya dokter Ari dan diangguki cepat oleh Tania.
"Saya sudah berhasil mengambil peluru yang masuk ke dalam jantung beliau"
"A..apa, peluru?" Tanyanya tidak percaya, suami kena tembak.
"Iya nona, tapi sekarang sudah berhasil saya keluarkan. Akan tetapi, nyawa tuan Rasya...." Ucapnya menggantung tak kuasa melanjutkan lagi.
"Kenapa dokter, ada apa dengan nyawa suamiku. Katakan!" Ucap Tania tak sabar.
"Nyawa suami anda, tid...."
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Hayuk gas keun. Hargai karya ku dengan vote like dan komentar serta follow me ya.