True Love

True Love
Rencana


__ADS_3

...Saat rindu telah kutikam dalam sepertiga malam, dia tunjukkan luka berbalut keikhlasan...


Cairan bening terus saja jatuh tanpa permisi. Hidungnya yang memerah mengeluarkan cairan bening serta mata memerah. Sudah hampir dua kotak tisu ia habiskan.


"Aku rindu kamu, Rama. Tapi kenapa kamu datang membawa luka?"


Haida terus saja menangisi pria yang diam-diam sudah menerobos hatinya. Terlalu perih untuk melepaskan dan tidaklah mungkin untuk menahannya. Sebab tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada mempertahankan apa yang pada dasarnya harus pergi.


Membayangkan kejadian di butik tadi sudah cukup membuat dadanya sesak. Benteng pertahanan seketika roboh terhantam ombak.


"Cukup lama aku menunggu. Ia bilang jarak bukanlah halangan untuk bersatu tapi cara Tuhan menguji cinta kita. Lihatlah sekarang, kamu ingkar Rama. Memilih wanita lain menjadi pendamping hidupmu."


Seharian ia habiskan berdiam diri di dalam ruangannya. Lebih baik berada di dalam dengan suasana sepi. Semua pegawainya satu per satu pamit pulang. Sudah jam 5 sore, Haida masih betah duduk melamun.


Pikirannya melanglang entah kemana. Denting jarum jam memenuhi ruangan. Semilir angin sore menerbangkan dedaunan dari balik jendela.


"Kenapa takdirku seperti ini, Tuhan?" lirih Haida terus menatap jendela.


Ting


Suara notif pesan masuk. Sekadar melihatnya enggan untuk membuka ataupun membalasnya. Tapi tidak lama, spam pesan masuk. Mengusik ketenangan dirinya.


*Haida pulang.

__ADS_1


Lo gak capek kerja seharian?


Udah mau magrib.


Jangan lupa makan.


Cepet pulang, ya.


Ada masalah cerita. Jangan pendam sendiri, gak baik.


Udah. Itu aja. Bye*


Jay, teman barunya menchat tanpa jeda. Begitu menampakkan kekhawatirannya. Karena datang ke rumah Haida, wanita itu tidak ada belum pulang.


"Kenapa kamu mengaku sebagai pacar, Saya?"


Yang ditanya hanya memutar bola matanya jengah, "ck. Bukannya ini rencana kita dari awal? Dasar pikun!"


Rama memutar badannya. "Tapi itu berlebihan. Raut wajah Haida tidak terbaca."


Yuri terkekeh, "mungkin dia terkejut. Bagus dong. Kita lihat Minggu depan. Kalau memang benar dia masih sayang sama cinta ke kamu."


"Tapi saya gak mau nikah sama kamu, Yuri" tolak Rama tegas.

__ADS_1


"Clam down bro. Ini cuma rencana. Serahin ke aku semua masalah ini. Kamu tinggal tunggu beresnya aja."


"Benerannya bisa bikin aku sama Haida bersatu"


"Pasti. Kamu bisa andelin aku."


Yuri dan Rama tertawa lepas. Semua ini hanya skenario yang Rama rancang seapik mungkin. Kabar pernikahan adalah termasuk rencana dari sebuah pertemuan yang ingin sekali menjadi pertemuan yang mengesankan.


"Kamu tinggal apalin aja semua yang aku tulis. Pasti Haida baper. Kamu harus menjiwai, biar tambah perfek."


Rama tersenyum lalu mengangguk. Ia berjalan menuju kamarnya, wajah Haida untuk pertama kalinya setelah berpisah lama, ia tambah cantik. Apalagi sudah bekerja sebagai pemilik butik.


"Kamu cantik Haida, saya semakin suka sama kamu."


Yuri yang bersebelahan kamar dengannya sibuk dengan chat bersama pacarnya. Ia menampung Rama di rumahnya karena mama. Mereka saudara dan baru bertemu saat ibunya Rama dulu bercerita jika ada saudara di kota.


"Tunggu saya Haida. Saya akan melamarmu."


Rama menutup matanya. Berharap bermimpi indah bertemu sang pujaan hati. Jika Tuhan berkenan, ia harap semoga bisa bertemu Haida di minggu yang telah di tentukan.


Wajah manis, senyum indah berputar dalam otaknya. Tanpa disadari sebuah lengkungan senyum mengembang. Seakan Haida berada di sisinya saat ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2