True Love

True Love
Rasa


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian


Haida sudah siap. Apapun nanti akhirnya ia akan ikhlas. Rama sudah memilih jalan yang lain. Maka untuk apa berlarut dalam kesedihannya. Dengan memakai gaun selutut berwarna merah dan polesan make up tipis sudah membuatnya lebih fresh.


Untuk menutupi rasa sedihnya ia mencoba melebarkan senyumnya meski terkesan seperti. Senyuman miris.


Semesta seperti sedang mempermainkan dirinya. Saat percaya, ia berkhianat. Jarak yang di tempuh cukup lama. Di saat itulah Haida mencoba menetralisir detak jantung.


"Kuat Haida. Kamu harus kuat."


Mencoba menyemangati diri sendiri sepertinya tidak buruk. Pikirannya sudah kemana-mana. Membayangkan Rama mengucap ijab kabul bukan dengan dirinya. Melainkan wanita lain yang singgah dalam waktu singkat.


Haida sedikit bingung saat sudah memasuki area perumahan elit. Tidak ada yang menggelar pesta pernikahan. Waktu ini senja, tapi kenapa tidak ada satupun hiruk-pikuk dan lalu-lalang orang?


"Aku gak salah rumah, kan?" Haida mengedarkan pandangannya. Lalu melihat ponsel. Alamatnya benar, tapi kenapa sepi?


Haida ragu untuk melangkah. Niatnya kembali ia urungkan. Saat berbalik badan, ada seseorang yang memanggilnya. "Rama," cicitnya pelan.


Pria berbalut jas rapi berwarna hitam berjalan menghampirinya. Suasana sore hari yang berangin sedikit menerbangkan anak rambutnya sehingga menutupi dahi. Sebisa mungkin Haida menetralkan jantungnya yang perlahan berdegup kencang.


Dasar perasaanku ini


"Mau ikut saya?" tawarnya to the point.


Alis Haida terangkat satu, heran sekaligus keningnya berkerut, "ke mana? bukankah hari ini hari pernikahan mu?" tanyanya diakhiri kalimat suaranya memelan.

__ADS_1


"Iya. Makanya saya minta antar kamu ke tempat pernikahan." Sahut Rama mengangguk setuju.


"Ini bukan lokasinya?"


Rama menggeleng. Dan kembali menanyakan tawarannya apakah ia mau atau tidak?


"Kau pria aneh. Seharusnya sudah ada yang mengawali pengantin. Sebenarnya kalian ini kenapa? mempermainkan ku? Kalian pikir pernikahan ini sebuah lelucon?"


"Haida, menikahlah dengan saya"


Ucapan Haida terpotong dengan perkataan aneh dari mulut Rama.


Bukannya menjawab justru Haida melayangkan satu tamparan manis di pipi Rama dan membekas.


Plak


Degup jantung semakin cepat karena emosi bukan terpesona.


"Kami bersaudara," celetuk seseorang dari belakang. Yup, dia adalah Yuri. Datang untuk melerai karena Rama sedikit tidak bisa mengendalikan suasana.


Emosi Haida memuncak. Ia paham.


Jadi aku sedang jadi boneka di sini? di permainkan oleh keadaan dan perasaan?


Haida tersenyum miring, tatapan matanya begitu tajam dan sinis. Perasaannya bercampur aduk. Kedua tangannya terkepal erat, ingin sekali mencabik-cabik wajah pria di hadapannya sekarang.

__ADS_1


"Oh, jadi ini rencana kalian? Sungguh aku tidak mengerti dengan siasat kalian. Mengaku akan menikah, lalu mengaku bersaudara nanti apa lagi? tetangga? partner kerja?"ucapnya menggebu-gebu. Tangan Rama ia tepis kasar saat hendak menyentuhnya.


"Maaf Haida. Tapi sungguh, saya ingin menikahi kamu"


"Seketika perasaanku lenyap, Rama. Dulu aku sangat-sangat mencintaimu. Bahkan aku selalu menjaga perasaanku untukmu. Karena aku yakin suatu saat nanti pasti Tuhan pertemukan kita. Aku ingin selalu mencintaimu, tapi sekarang kamu datang lalu membuat cinta itu angkat kaki dari sini, dari hatiku!"


Haida menjeda, napasnya naik-turun. "Aku kecewa sama kamu, aku benci kamu Rama"


Haida memasuki mobilnya. Menghapus air mata yang jatuh. Rama menghadang jalan. Ia tidak mau Haida pergi sebelum mendengarkan penjelasannya.


"Minggir Rama!" teriak Haida sambil menekan klakson.


"Tidak! saya tidak akan minggir sebelum kamu turun dan dengarkan penjelasan dari saya" tolak Rama masih di posisi.


"Semua udah jelas. Kalian sama-sama pembohong. Minggir atau aku tabrak kamu"


"Tabrak saja saya jika itu bisa membuatmu lega, Haida"


Bodoh!


Haida lebih memilih memundurkan mobilnya dan berputar dari jalan yang lebih jauh. Agar tidak menabrak pria itu.


Sial.


Kata umpatan keluar dari bibir mungil Haida. Ia memberhentikan mobilnya di sebuah taman. Ini sakit, Rama tega sekali padanya.

__ADS_1


"Apa aku harus mulai mengubur rasa ini?"


__ADS_2