True Love

True Love
Pingsan


__ADS_3

...POV Author...


Cerita aku singkat aja yah, biar gak kelamaan kelarnya. Pusing sudah mau bikin narasinya.


...Back Story...


Satu bulan kemudian, Tania kini sering merasa mual, kepala pusing dan juga nafsu makan berkurang. Ini membuat Rasya sebagai suami menjadi tidak tenang dan selalu was-was jika di tinggal di rumah sendirian, tapi kini untungnya ada pembantu yang bisa diandalkan.


Setiap jam, detik dan menit Rasya menelpon apakah istrinya dalam keadaan sehat dan tidak terluka. Kekhawatirannya semakin tinggi jika Tania tidak segera mengangkat telpon darinya.


"Mas, aku baik-baik aja kok. Kamu tidak perlu khawatir lagi" Ucap Tania dalam sambungan telpon.


"Gimana aku gak khawatir sayang, kamu lambat jawabnya" Ujar Rasya dari sebrang jauh.


"Itu aku abis ambil buku dari lemari jadinya lambat angkat, maaf ya" Jawab Tania dengan memainkan jarinya.


"Iya, tapi lain kali, hp jangan sampai ketinggalan. Jadinya kan nanti aku mudah untuk menghubungi kamu" Kata Rasya sambil mengelus dada lega.


"Baik mas, ya udah kamu lanjut urusin pasiennya, nanti malah mereka menunggu dokter yang gak kunjung datang"


"Hem, kamu hati-hati. Jaga diri baik-baik selagi aku belum pulang dan jika butuh sesuatu maka mintalah pada bibi dan satpam"


"Iya mas, aku tutup dulu ya. Assalamualaikum" Balas Tania sambil mengaggukkan kepala


"Iya, waalaikumsalam" Jawab Rasya lalu ponselnya di letakan di atas meja.


Kini sudah bisa tenang, karena Tania dalam keadaan sehat dan tadi saat di telpon Tania tidak kenapa-kenapa.


Sedangkan di rumah, Tania hendak keluar kamar. Lalu ia merasa mual dan segera pergi ke wastafel. Setelah selesai merasakan mual, kini rasa pusing pun menghampiri membuat tubuh wanita ini tidak kuat lagi berjalan.


Ia pingsan di dalam kamar mandi, pembantu tidak ada yang tau. Sebab kamar Tania di kunci dari dalam. Tubuh wanita ini meringkuk di lantai yang dingin.


Jam 10 malam Rasya baru pulang, ia tidak menelpon Tania, sebab pasti Tania akan marah jika ia terus-menerus menelpon. Jadi niatnya hanya dalam hati. Tak lupa saat pulang pasti dia membawa oleh-oleh untuk istrinya. Seperti martabak manis kesukaan sang istri.


"Bik, di mana istriku apakah dia sudah makan?" Tanya Rasya saat sudah masuk ke dalam rumah.


"Tidak keluar dari kamar nyonya, tuan" Jawabnya pelan.


"Tidak keluar? Kenapa dan sejak kapan?" Tanyanya banyak sekali.

__ADS_1


"Saya tidak tau tuan, tadi saya panggil nyonya untuk makan malam tidak keluar dan pintunya pun di kunci dari dalam" Jawabnya dengan sedikit gemetaran takut di marahi oleh tuannya.


Rasya segera pergi dan menaiki anak tangga dengan langkah cepat. Ia memutar handle pintu dan memang di kunci dari dalam, memanggil nama Tania pun tiada sahutan membuat Rasya khawatir, lalu ia mengambil kunci cadangan dari dalam saku untuk membukanya.


Setelah sampai di dalam kamar, Tania tidak ada di ranjang. Tas ia lempar sembarangan, jas ia buang ke lantai, mencari sekeliling ruangan dan Tania tidak ada.


Satu ruangan yang belum ia kunjungi, wastafel kamar mandi. Tanpa berpikir lebih, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana, betapa terkejutnya melihat Tania tergolek lemas di bawah lantai.


"Taniaaaaa" Teriaknya lalu membopong tubuh sang istri menuju ranjang.


Membaringkan dengan sangat hati-hati, lalu melepas hijab yang Tania pakai. Ia mengecek suhu tubuh Tania, dan untungnya normal tidak naik.


Rasya kembali membuka tasnya, mengambil stetoskop untuk memeriksa detak jantung Tania. Wajahnya sangat pucat, pasti dia belum makan.


"Buk tolong bawakan bubur hangat untuk istriku dan juga air putih" Pinta Rasya dari balik telpon.


"Baik tuan, segera saya buatkan" Jawabnya sigap.


Lalu Rasya menggosok tangan Tania supaya merasa hangat dan bisa membantu membangunkannya. Tidak kunjung bangun juga, minyak kayu putih pun di ambilnya membuka tutup dan diletakan di depan hidung Tania supaya di hirup olehnya.


Berhasil, perlahan Tania membuka matanya, mengerjapkan berkali-kali dan melihat wajah suaminya tersenyum lega.


"Emangnya aku kenapa mas?" Tanya Tania masih memutar otaknya.


"Kamu pingsan di wastafel dalam. Lalu aku membawamu ke ranjang" Jawab Rasya dan ia ikut duduk disamping istrinya.


"Oh, aku tidak ingat"


"Sayang, beritahu aku apa yang sering kamu alami akhir-akhir ini!"


"Aku sering merasa mual, pusing dan juga tidak nafsu makan"


"Kapan kamu terakhir datang bulan?"


"Terakhir, satu bulan yang lalu mas. Ya Allah, aku baru ingat, aduh gimana ini mas. Aku udah telat satu bulan gak haid"


Rasya pun langsung tersenyum lebar, sepertinya ada kabar gembira di balik semua yang Tania alami.


"Kamu kenapa mas, kok malah senyum sih?"

__ADS_1


"Aku harap ini benar kenyataannya. Sayang sepertinya kamu hamil"


"Hamil? Benarkah aku hamil?"


"Aku harap begitu, besok kita akan tau jika kamu sudah mencobanya menggunakan tes peck"


"Amin, aku harap benar mas. Aku hamil anak kamu"


"Amin ya Allah"


Lalu bibi pun datang membawa pesanan Rasya, Tania melihat bubur itu pun jadi tidak selera, mulut malas untuk memakannya, sebab pasti rasanya pahit.


"Ayo buka mulutmu, biar aku suapi. Kamu belum makan, bukan?"


"Iya mas, aku belum makan. Tapi aku gak mau"


"Sayang kamu belum makan lho. Jangan lupa kamu itu gampang sakit kalau telat makan. Ayo makan sayang, apa perlu aku gendong kamu biar mau makan?"


"Gak mau gendong. Pangku aja..."


"Baiklah sini aku pangku kamu dan suapin bubur ini ke mulut kamu"


Benar saja, Tania jingkrak-jingkrak kesenangan, ia segera duduk di paha suaminya dan menatap wajah sang suami dengan amat lekat.


"Aaaaa, buka mulutnya"


Tania membuka mulut dan suapan bubur pun masuk sempurna. Ia merasa berselera lagi ketika sang suami yang menyuapinya.


"Enak bukan, ayo buka mulut lagi"


Seperti sedang merayu anak kecil, lelah yang ia rasa saat pulang dari rumah sakit pun tidak terasa lagi. Demi kebahagiaan istri dan kesehatannya ia rela menepis semua rasa lelah yang penting Tania tidak merasakan.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2