
Happy reading 🤗
Kesal
Itulah yang Zevana rasakan. Pemandangan yang menyepetkan mata. Kevin yang begitu acuh dengannya dan malah menunjukkan kemesraan nya pada dirinya, membuat Zevana kesal dan jengkel.
Lalu ia keluar dari ruangan itu sambil menghentakkan kakinya, hingga membuat berisik. Setelah kepergian Zevana dari ruangannya, barulah Kevin melepas pelukannya.
"Bagaimana, apa kamu sudah percaya denganku. Jika aku tidak menyukainya?" tanya Kevin.
"Sedikit...." jawab Famira.
"Kok sedikit? kenapa enggak banyak sekalian?" tanyanya
"Aku masih kurang percaya. Aku yakin pasti dia akan balik lagi kesini dan menggodamu jika aku tidak ada" jawab Famira.
"It's ok, aku bisa mengaturnya. Jika ia berani kemari lagi, maka aku akan turun tangan dan membuat dirinya sengsara" ucap Kevin.
"Hush....., jadi orang jangan kejam. Entar yang ada malah kamu yang sengsara, sebab ucapan akan kembali terjadi bagi orang yang mengucapkan. Apa kamu mau sengsara?" tanya Famira.
"Tentu saja tidak" jawab Kevin tegas.
"Nah, pintar. Jadi jangan pernah membuat perhitungan dengan orang yang sudah membuat kita tak nyaman. Cukup Allah yang membalasnya. Kita hanya hamba-Nya yang juga penuh salah dan dosa. Lebih baik kita do'akan saja, supaya Zevana sadar dan tidak lagi melakukan ini" ujar Famira.
Kevin hanya mangut-mangut, dan tiba-tiba ponselnya berdering, lalu ia mengangkatnya dan ternyata itu pesan dari tukang servis cctv. Kemarin saat ia meminum kopi dan merasakan kepanasan, kebetulan cctv-nya rusak dan perlu diperbaiki. Jadi ia tidak bisa melihat orang yang sudah berani membuatkan kopi itu.
Vidio berdurasi sekitar 1 menit, memperlihatkan pelaku yang membuat kopi itu. Kevin langsung meremas kertas disampingnya. Tak menyangka, jika Sindi berbuat seperti itu. Matanya merah menyala, rahangnya mengeras dan ia juga mengertakkan giginya. Famira yang melihatnya pun langsung heran lalu ia memegang lengan suaminya.
"Kamu kenapa, mas?" tanya Famira.
"Aku sedang marah...." jawab Kevin.
"Marah kenapa dan pada siapa kamu marah?" tanya Famira.
"Aku marah pada orang kepercayaan ku dalam perusahaan ini" jawab Kevin.
Lalu Kevin menelpon Wandi untuk memanggil kan Sindi untuk datang ke ruangannya.
Sindi pun langsung datang ketika mendapat kabar jika ia dipanggil oleh Kevin.
"Permisi....." ucap Sindi dari luar.
__ADS_1
"Masuk...." jawab Kevin dingin.
Sindi pun langsung masuk kedalam dan berdiri didepan meja Kevin. Kevin hanya diam saat memanggil dirinya. Tak seperti biasanya, jika Kevin memanggil Sindi, pasti ia langsung angkat bicara, tapi kali ini tidak. Ia hanya menatap wajah Sindi dengan intens.
Lalu ia menyodorkan ponselnya dan memutar Vidio yang memperlihatkan jika Sindi sedang membuatkan kopi untuknya.
Seketika mulut Sindi bungkam tak berani bicara, jantungnya berdegup kencang, ia sangat takut jika Kevin akan marah besar padanya.
"Apa maksudmu, dengan melakukan itu?" tanya Kevin to the point.
"Maaf, pak. Saya tidak sengaja" jawab Sindi.
"Kamu bilang tidak sengaja, hah" bentak Kevin dan membuat Famira serta Sindi kaget.
"Ma...maafkan saya pak. Saya khilaf kemarin, tolong maafkan saya" ucap Sindi gemetaran.
"Kamu pikir, itu masalah ringan. Sehingga dengan mudah aku bisa memaafkan orang yang sudah menyelewengkan kepercayaan dan membuatku sakit?" tanya Kevin dengan nada tinggi.
"Maaf.....
Maafkan saya pak. Saya kemarin salah dan saya ingin minta maaf pada anda dan juga nona Famira" ucap Sindi sambil menangis.
"Haaah, jangan pak, saya mohon jangan" pinta Sindi sambil berlutut dihadapan Kevin. Ia meminta ampun pada Kevin dan meminta agar Kevin tak memecatnya dari perusahaan ini.
"Kau pikir untuk bisa memaafkan kesalahan yang sudah berulangkali dilakukan itu mudah, huh" hardik Kevin.
"Saya mengaku salah pak. Tapi tolong jangan pecat saya. Iya saya akui dulu saya menyukai bapak dan saya cemburu kala melihat bapak bersama dengan nona Famira. Saya khilaf dan terbakar api cemburu, lalu saya ingin memisahkan bapak dengan nona Famira. Tapi setelah itu saya sadar pak dan saya ingin meminta maaf pada nona Famira dan juga anda. Mohon pak, tolong jangan pecat saya" penjelasan Sindi sambil meminta agar Kevin memikirkan lagi dengan keputusannya.
"Jadi, kamu yang sudah membuat suami saya demam saat itu?" tanya Famira.
"Saya minta maaf nona, saya khilaf" jawab Sindi dan berlutut di kaki Famira memeluk salah satu kakinya Famira.
"Bangunlah...., jangan berlutut di kaki ku" ucap Famira sambil memegang kedua bahu Sindi.
"Tidak nona, sebelum anda memaafkan kesalahan saya" jawab Sindi.
"Aku sudah memaafkan kesalahan mu. Jadi bangunlah, jangan seperti ini" ujar Famira.
Sindi pun menurut dan menatap wajah Famira. Ia tak menyangka jika Famira dengan mudah untuk memaafkan kesalahannya.
Famira tersenyum dan mengelap air mata Sindi yang mengalir di wajahnya.
__ADS_1
"Jangan menangis!, aku sudah memaafkan mu. Aku yakin, jika kamu melakukan itu atas ketidaksengajaan" ucap Famira disela mengusap wajah Sindi.
"Nona tidak marah dengan saya?" tanya Sindi sesegukan.
Famira menggelengkan kepalanya lalu tersenyum manis pada Sindi. Ia sempat marah, tapi setelah mendengar penjelasan dari Sindi ia pun tersadar jika dulu ia juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi ia tak nekat untuk bisa merebut kembali apa yang sudah direbut oleh orang lain dan melepaskannya dengan ikhlas serta berdoa semoga ada jalan yang indah yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuknya. Dan benar saja, setelah kehilangan Zico dalam hidupnya kini sudah di gantikan oleh Kevin, suami yang setia dan sangat mencintai dirinya.
"Aku akan tetap memecat mu, dan besok kau tidak usah kembali bekerja disini" ucap Kevin.
Sindi hanya pasrah dan terima dengan keputusan Kevin. Memang benar apa yang dikatakan oleh Kevin bahwa kesalahannya tidak lagi bisa di maafkan.
"Baik pak, sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya selama ini. Dan saya juga minta maaf pada nona Famira. Maafkan kesalahan saya nona" ujar Sindi lalu pamit keluar dari ruangan Kevin.
Lalu Kevin berteriak frustasi, kenapa orang kepercayaannya tega berbuat seperti itu dan membuat kepercayaannya memudar dan hilang.
"Tenangkan dirimu dan pikiranmu, mas. Jangan gegabah dalam memutuskan sesuatu. Apalagi dengan masalah yang lumayan sulit untuk diselesaikan" ucap Famira sambil mengelus lengan Kevin.
"Aku sangat marah dan kecewa dengannya, sayang. Dia begitu tega denganku dan juga denganmu. Aku sudah tidak bisa lagi memaafkan kesalahannya lagi" jawab Kevin.
"Aku tau, jika ini berat untukmu. Tapi ingatlah satu hal, jika sesama manusia itu harus bisa saling memaafkan kesalahan orang lain. Tuhan saja bisa memaafkan kesalahan hamba-Nya, masa kita sesama hamba tidak bisa saling memaafkan. Aku tidak ingin melihatmu menjadi pendendam atas kemarahannya yang tidak bisa dikendalikan" ujar Famira.
"Tapi bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan dirinya, sungguh ini sudah sangat keterlaluan" ucap Kevin.
"Tenangkan pikiranmu dulu sayang. Saat ini ada setan yang mendukung dan sedang menyalakan api kemarahan mu. Coba kamu pikirkan lagi, jika kamu memecat Sindi dari perusahaan. Maka siapa lagi orang kepercayaan mu disini? Sindi sudah kamu pecat dan sekarang sangat susah untuk bisa mencari pengganti sekretaris seperti Sindi yang bekerja dengan jujur, sempurna dan cara bekerjanya memuaskan hasil.
Apa kamu mau melihat Sindi yang akan mendapat sindiran, cemoohan dari karyawan lainnya dan nantinya ia susah mencari pekerjaan lagi. Coba kamu pikirkan baik-baik, sebelum kamu menyesal sudah memecatnya" ucap Famira.
"Entahlah, akan aku pikirkan lagi...." jawab Kevin.
"Aku harap kamu bisa memaafkan dirinya dan tidak memecatnya atau mengabarkan jika Sindi yang sudah membuatmu sakit kemarin.
Terkadang kita harus menyembunyikan kebenaran yang pahit demi menjaga kenyamanan dan hubungan dengan orang lain. Jadi, aku mohon padamu, untuk memikirkan lagi dan berilah keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini" ucap Famira.
Kevin hanya mengangguk, entah apa nanti keputusannya. Lihat saja besok, apakah ia akan tetap memecat Sindi atau mempertimbangkan lagi keputusannya.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1