Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Lukislah aku di hatimu


__ADS_3

15 menit mobil mereka tiba di pantai, Dantai dan Anta keluar dari mobil, Anta berlarian di tepi pantai sambil berteriak "Aku suka pantai!!"


Dantai yang sedang memasang alat lukisnya tersenyum melihat keceriaan Anta.


"Lihat kemari An, Aku ingin melukis mu diantara senja tepi pantai!" Teriak Dantai.


"Ooo, ya kau ingin aku berpose yang bagaimana?"


"Apa begini? Atau begini? Mungkin begini? " kata Anta terus bergerak berganti posisi, kadang memutar, melompat, dan melenggak-lenggok ke sana ke mari tak berhenti bergerak sambil terus tertawa melihat Dantai tak kunjung mengukirkan kuasnya di atas kanvas.


"An jangan bergerak terus! Bertahanlah hanya dalam satu pose!" Perintah Dantai


"Aku ingin tau Fif seprofesional apa dirimu. Apakah jika aku bergerak seperti ini kamu masih bisa melukis ku?"tanya Anta sambil terus tertawa. Dantai yang kesal berdiri dari duduknya dan mengejar Anta yang dari tadi mengejeknya. Ia meraih tangan Anta dan menariknya pelan hingga menubruk dada bidangnya, diraihnya pinggang perempuan itu, agar tak terlepas dari pelukannya.


"An, Aku ingin melukis mu bersama indahnya senja, aku ingin memenuhi lukisanku hanya dengan dirimu saja An," kata Dantai menatap lekat wajah Anta.


"Kenapa Fif ? Aku bukan kekasih mu. Buat apa kau melukis ku?" tanya Anta dengan memalingkan mukanya menghilangkan desiran aneh yang merayap di seluruh tubuhnya membuat tubuh dan otaknya lumpuh seketika tak tau harus lakukan apa?


"Karena kau di hatiku An, kau di pikiranku, An. Semuanya tentang kau, apa harus ku perjelas?" kata Dantai yang masih menatapnya.


"Ya Fif, setidaknya biar deburan ombak juga tau hatimu, biar aku yakin hatimu hanya untuk ku." kata Anta menatap sendu.


"An kau sungguh indah, Aku ingin kau menghiasi seluruh hidupku, hatiku, pikiran ku hari ini, esok, lusa dan tahun-tahun berikutnya sampai tua dan menutup mata," kata Dantai sambil tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan cincin dengan permata kecil di tengah yang sangat sederhana. Lalu memasukan cincin di jemari Anta.

__ADS_1


"Aku tak akan bilang jadilah kekasihku tapi aku akan bilang jadi calon istriku An, jika kau tak keberatan kita akan menikah setelah lulus SMA" kata Dantai lagi seketika itu tawa Anta berderai.


"Ahhh, kau ini merusak suasana saja An," keluh Dantai.


"Kau gila Fif, kita masih lama untuk menikah, kau harus kuliah begitu juga aku," kata Anta yang belum menghentikan tawa sambil memukul pelan wajah Dantai.


"Aku tak ingin berpisah dengan mu An, lulus SMA aku akan kuliah di Singapure. Ayah dan ibuku ada di sana, usaha mereka di sana, Ann.' Kata Dantai lagi.


"Aku juga tak ingin berpisah dengan mu Fif, Aku mencintaimu Fif," kata Anta namun dia terkejut dengan ucapannya sendiri yang tanpa sadar mengucapkan kata cinta terlebih dulu.


"Hai kenapa justru aku yang menembak mu Fif, kau curang Fif. Aku ingin kau mengatakan padaku. Kau benar-benar curang," kata Anta sambil memukul dada Dantai. Dantai tertawa melepaskan pelukannya dan lari menjauh menghindari amukan badai dari Anta. gadis itu berlari mengejarnya dan berteriak.


"Fif, Kau harus katakan padaku."


Dantai menghentikan larinya dan berteriak.


"Apa kau menyukainya, An?" tanya Dantai. Anta melihat cincin di jari manisnya. Dia tersenyum dan mengangguk lalu disandarkannya kepalanya ke dada Dantai.


"Bolehkah aku melukis wajahmu An?" tanya Dantai. Anta menggeleng.


"Aku mau kau melukis ku di sini dan di sini." kata Anta sambil menunjuk dada dan kening Dantai. " Di hatimu dan di pikiran mu Fif. Karena kalau di kanvas jika terkena api lukisannya akan hilang terbakar, jika tertimpuk biji mangga masak, wajah akan jelek," katanya sambil tertawa begitu juga Dantai.


"Kau begitu nakal An, kau mengotori lukisanku dengan biji mangga masak." kata Dantai masih tertawa. " Dan kita jatuh cinta karena itu, 'kan,Fif." Sambung Anta. Mereka tertawa bersama.

__ADS_1


"Boleh aku melukis mu dari jauh An? aku ingin menoreh kenangan kita di sini." pinta Dantai kembali. wanita itu mengangguk. Dantai pun melepaskan genggaman tangannya. lalu berlari ke peralatan lukisnya yang telah terpasang dari tadi. Ia pun duduk dan mulai menorehkan coretan-coretan kuasnya di kanvas. dia melukis Anta yang sedang berjalan di tepi pantai dengan gulungan ombak yang sesekali mengguyur kaki gadis itu, dengan panorama senja yang indah.


Dantai larut dengan lukisan hingga senja hampir tenggelam, Dantai menyudahi lukisan dan mengemasi peralatannya lalu dia berteriak,


"An kita pulang!" lalu berjalan menuju kendaraan. Anta berlari kecil menyusul Dantai. Dantai masuk kedalam begitu pula Anta lalu mobil itu pun berjalan meninggalkan pantai. Beberapa saat Mazda MX 5 RF itu berhenti di masjid untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib mereka. kemudian berjalan lagi dan berhenti di rumah Dantai.


Pria itu keluar dari mobil dengan peralatannya. Kemudian mobil itu berjalan meninggalkan rumah Dantai.


Pria itu berjalan masuk kedalam rumahnya. Dantai berjalan melewati ruang tamu, ruang makan dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Saat berada di anak tangga ke 2 ibu menyapanya.


"Dan sudah pulang?"tanya ibu


"iya bu," jawabnya


"lekas mandi, setelah itu kita makan malam bersama!" perintah ibu lagi, Dantai menoleh dan mengangguk lalu melangkah kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya, menyimpan peralatan melukisnya dan bergegas membersikan diri di kamar mandi.


...----------------...


Sementara itu mobil Anta pun sudah sampai di depan pintu gerbang rumah neneknya. terlihat pak Man tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang, mobil itu pun berjalan jalan masuk melewati pintu gerbang dan berhenti tepat di samping pak Man. Anta keluar dari mobilnya dan menyerahkan kunci mobil kepada pak Man.


"Makasih Pak Man," kata Anta tersenyum sambil berjalan memasuki rumah neneknya, dengan langkah ceria dia tapaki ruangan demi ruangan.


"Nenek!" teriaknya sambil menghampiri nenek yang ada diruang makan menata menu makanan di meja. Ketika Anta hendak duduk di kursi, neneknya menarik tangan Anta sambil berkata" Mandi dulu sana, bau asem tuh." Anta tertawa dan mencium neneknya lalu berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


Anta tak henti-hentinya bersenandung. Menampakan kecerian di hatinya kalau saat ini sedang bahagia. Sesampainya di kamarnya dia menyimpan tas punggungnya, lalu duduk di sofa sambil melihat jari manis nya. Dia tersenyum sendiri mengingat waktu di pantai tadi.


"Anta, lekas mandi!" terdengar jelas teriakan mengemah neneknya karena pintu kamarnya belum tertutup.


__ADS_2