Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Jadi Saya Buta,Dok


__ADS_3

Dua minggu berikutnya, Anta mulai gelisah. Hari ini hari pelepasan perban paskah operasi pengambilan pecahan kaca yang masuk di bola mata Anta waktu kecelakaan


Dokter dan beberapa perawat sudah berada di ruang rawat Anta.


"Kita mulai ya dek nanti kalau saya bilang buka perlahan pelan-pelan saja membuka matanya," kata dokter pada Anta dan Anta mengangguk. Dokter mulai melepaskan perban di mata Anta dengan perlahan hingga balutan kasa itu pun terlepas dari mata Anta.


"Baiklah sekarang coba buka matanya perlahan. Anta pun mengikuti arahan dokter. Andi dan Rena tak kalah berdebar menanti Anta membuka matanya untuk pertama kali setelah operasi.


Anta pun membuka matanya, ia mengeryitkan alisnya, "Mam, mami di mana? kenapa gelap? apa perbannya sudah di buka? tanyanya sambil meraba wajahnya. Ia pun akhirnya tahu bahwa perban sudah di buka dan ia tak bisa melihat apapun. Air matanya berderai, Andi dan Rena tak sanggup mengatakan apapun. Andi memejamkan matanya hatinya tercabik, sementara Rena tak mampu membendung air matanya. Dokter menghela nafasnya.


"Maaf putri anda harus menjalani pemeriksaan terhadap otak besarnya, ini masih perkiraan bahwa otak besar puteri anda mengalami kerusakan karena benturan hebat pada waktu kecelakaan."


"Jadi, saya buta dok? Apa saya akan buta selamanya?"


"Saya belum bisa memastikan, Anda di periksa dulu, apakah ini sementaraataukah sebaliknya? Anda harus optimis sekecil apapun kemungkinannya jika Allah menghendaki anda untuk bisa kembali melihat maka anda pasti bisa melihat kembali." kata dokter itu sambil menepuk pundak Anta.


"Satu jam lagi perawat akan datang membawa anda di ruang pemeriksaan," kata dokter itu lalu keluar dari ruangan itu. Rena berlari memeluk putrinya dan menahan tangisnya begitu pula Andi memilih keluar ruangan untuk menghilangkan sesak hatinya.


Satu jam kemudian perawat datang dan membawa Anta keruang pemeriksaan. Anta mendapatkan pemeriksaan CT scan di bagian kepalanya. Setelah periksaan dokter meminta orang tua Anta, untuk mengikutinya di ruangannya. terdengar samar-samar suara dokter di dalam ruangan yang tanpa sengaja belum tertutup rapat, Anta mendorong roda roda kursinya sendiri. dan mulai terdengar dengan jelas apa yang di beritahukan dokter pada orang tuanya.


"Begini pak, bu ada kerusakan dalam otak besar saudari Anta jadi di perkirakan akan mengalami kebutaan secara permanen, kalau pun ada kemungkinan melihat hanya 5% saja." kata dokter itu pada orang tuanya. Anta mendorong kursi rodanya kebelakang ingin pergi tiba-tiba seperti ada yang menjalankan rodanya ke belakang.


"Siapa?" tanya Anta menoleh ke belakang dengan wajah bingung dan gugup. orang itu hanya diam tidak mendorong ke depan maupun ke belakang.


"Anda siapa tolong jawab saya? tanya Anta dengan menoleh kebelakang dengan tatapan kosong. orang itupun melepaskan pegangannya, lalu berjalan mendekati Anta ia berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan kursi roda Anta.


"Hai, Aku Rudi teman mu, apa kau tidak ingat aku?" Anta tersenyum mengarahkan tangannya ke kanan dan ke kiri, Rudi ingin memastikan sesuatu sehingga dia menghindari tangan Anta yang mencoba mencari keberadaan dirinya.


"An, aku di sini," kata Rudi sambil memegang tangan Anta,

__ADS_1


Anta terkekeh sambil menangis, "Ketahuan deh aku sama kamu." katanya sambil mengusap air matanya.


"Kenapa jika ketahuan? aku tetap temanmu?" Anta mengangguk dan tersenyum.


"Rud, bawah aku kembali keruang pemeriksaan sebelah ruang ini atau sedikit menjauh, biar orang tuaku tak tahu bahwa sebenarnya aku telah mendengarkan percakapan mereka."


"Baik, aku sebenarnya ingin mengajak mu ke taman, tapi om dan tante masih di dalam ruangan itu. takutnya aku di tuduh penculik, gak jadi berangkat ke UI aku," katanya terkekeh sambil mendorong menjauh dari ruangan dimana dokter dan orang tua Anta berada.


"Kamu di terima di UI Rud?"


"Ya, aku dapat beasiswa di kedokteran UI, kalau bukan beasiswa bagaimana aku mampu membiayai kuliah ku An, ibu seorang janda. dan hanya bekerja sebagai seorang perawat."


"Aku akan membantu mu Rud, tolong kirimkan no rekening mu."


"Jangan menolak, selama ini aku belum pernah melakukan sesuatu yang berguna, setidaknya aku senang sahabatku bisa berhasil."


"Biar papa yang urus ya, berapa yang ingin kau transfer?


"1M pi, Ingat pi pakai uang ku, bukan dari papi."


"Baik, tuan putri."


"Trimakasih pi, mengabulkan keinginan ku." kata Anta sambil melebarkan tangannya, Andi menghambur memeluk putrinya.


"Maafkan papi, telah salah mendidik mu?"


"Tidak papi, Papi dan mami adalah orang tua yang hebat. Anta yang salah, Anta yang gak mau nurut sama papi dan mami. memanfaatkan prestasi ku agar papi bisa mengabulkan keinginanku." Andi memeluk erat putrinya, Rena pun menghapus air mata ia juga turut andil atas peristiwa ini, ia yang mengutamakan karirnya tak pernah tahu apa yang di lakukan Anta selain karir dia dan Anta sebagai pianis. Ia akan menghubungi Anta hanya saat show saja.


"Om, Tan boleh saya ajak Anta jalan-jalan ke taman?"

__ADS_1


"Boleh nak Rudi, silahkan."


Rudi mendorong kursi roda, melewati lorong rumah sakit.


"Apa rencana mu sekarang, An?"


"Aku ingin bertemu Afif Rud."


"Apa kau sudah siap An bertemu dengan orang tuanya An, om dan tante sudah tau apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu." Anta terpejam


nyeri di hati menjalar hingga seluruh tubuhnya.


"Om Harlan dan tante Ira itu sebenarnya orang yang bijak dalam memandang masalah An. Mereka gak akan marah mungkin akan sedikit kecewa. Kapanpun kau siap akan ku temani.


"Trimakasih Rud, akan kulakukan sendiri, aku harus belajar untuk menerima kenyataan dan menjadi kuat, dan trimakasih telah menjadi temanku di saat aku rapuh.


"Aku yang berterimakasih padamu An, trimakasih telah banyak membantu ku."


"Sudah sampai An, selama aku belum berangkat ke Jakarta aku akan menemanimu menjadi matamu, An." katanya sambil memberhentikan kursi roda Anta.


"Mau duduk di sana? kalau mau akan ku gendong kamu." Anta tersenyum menggeleng.


Rudi terkekeh," Ya-ya hanya Dantai yang boleh menggendong mu."


"Kau tahu Rud, Afif berencana mengenalkan ku pada orang tuanya, ia ingin kami menikah secepatnya setelah lulus sebelum ia berangkat ke Singapura, tapi semua kandas karena keegoisanku. Dia sudah melarang ku bahkan mengancam tidak ikut dalam mobil ku jika tak mengurungkan niatku balapan melepas perpisahan dengan Riko dan Billy tapi aku terus memintanya Rud. sekarang Riko dan Billy tak ada saat aku sedang membutuhkan sahabat.


"Mereka sudah berangkat An, sebelum berangkat ia kesini tapi orang tuamu tak mengijinkan mereka bertemu dengan mu, Mungkin takut kamu bersedih An.


"Ya, aku tahu Rud." Rudi bercerita banyak hal membuat Anta tertawa, Angin sepoi-sepoi membelai hati dan jiwanya yang rapuh.

__ADS_1


__ADS_2