Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Anta Sadar


__ADS_3

Mereka menunggu Anta bergantian di waktu sholat, senja berganti malam Rio pun beranjak dari sofa ketika melihat Dantai berjalan dan masuk ke ruang VIP.


Rio pergi ke mushola untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim, kemudian ia pergi keluar mencari makanan untuk dia dan Dantai.


Rio berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju area parkir kemudian ia masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota malang untuk membeli makanan dan ia berhenti kesebuah rumah makan memesan dua nasi kotak lalu membayarnya kemudian dia kembali ke mobil dan melajukan lagi mencari supermarket terdekat ketika dia menemukannya ia berhenti di situ lalu masuk kedalam mencari air mineral serta membayarnya di kasir sehabis itu, ia kembali ke mobil dan masuk ke dalam lalu melajukan menuju rumah sakit di mana Anta di rawat.


Setengah jam kemudian dia sampai di area parkir rumah sakit, ia keluar dari mobil lalu berjalan masuk dalam rumah sakit tak berselang lama Rio pun sampai, ia masuk dengan membawa kantong plastik berisi makanan dan minuman lalu meletakannya di meja.


"Makan dulu, habis itu aku tinggal yaa, mencari hotel dan kembali ke sini besok pagi bersama anak-anak ," katanya pada sahabatnya itu.


"Kenapa harus ke hotel, Yo. Tinggal saja di villa sambil menemani anak-anak."


"Baiklah, apa kau sudah dapat kabar dari Aril?"tanyanya pria yang duduk didepannya itu.


Setengah jam kemudian dia sampai di area parkir rumah sakit, ia keluar dari mobil lalu berjalan masuk dalam rumah sakit tak berselang lama Rio pun sampai, ia masuk dengan membawa kantong plastik berisi makanan dan minuman lalu meletakannya di meja.


"Makan dulu, habis itu aku tinggal yaa, mencari hotel dan kembali ke sini besok pagi bersama anak-anak ," katanya pada sahabatnya itu.


"Kenapa harus ke hotel, Yo. Tinggal saja di villa sambil menemani anak-anak."


"Baiklah, apa kau sudah dapat kabar dari Aril?"tanyanya pria yang duduk didepannya itu.


"Belum, handphone ku mati dan aku tidak membawa charger," katanya sambil berjalan kearah Rio dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Salva sudah melahirkan anaknya perempuan, ia meminta maaf karena tidak bisa menjenguk kakak iparnya di sini," jelasnya.


"Bagaimana keadaan Salva? aku juga begitu mencemaskan adikku itu," tanyanya lirih.


"Salva baik-baik saja, Dan," jawab Rio


"Syukurlah kalau begitu," jawab dengan legah. Dantai mulai membuka nasi kotak dan mulai memakannya.


"Ingat, Yo! Pulang ke vila saja jangan ke hotel! Di sana ada banyak kamar tersedia," perintah Dantai.


"Baiklah! jawab Rio sambil menyuapkan makanan di mulutnya.


Beberapa menit kemudian semua makanan dan minum sudah habis, Rio pamit untuk kembali ke vila, langkah lebar menyusuri jalanan rumah sakit menuju area parkir dan masuk ke dalam dan mobil berjalan perlahan meninggalkan rumah sakit menuju vila.


"Bunda dalam keadaan baik. Kok, kamu belum tidur sih?"tanya Rio


"Nunggu kabar Bunda bagaimana Om?" sahut Hira.


"Ayo masuk dan besok kita sama-sama menjenguk ibumu,"kata Rio gadis kecil itu. Gadis itu mengikuti Rio sedang berjalan menuju kamar yang di sediakan ketika dia berada di sini.


Merasa ada orang yang mengikutinya Rio berhenti dan membuat Hira terbentur punggungnya.


"Auuw! sakit tahu, Om!" teriak Hira yang membuat Rio tertawa.

__ADS_1


"Yang nyuruh ngikutin, Om siapa?"


"Gak ada, aku cuma ingin tahu Om itu mau kemana?" tanya Hira dan Rio membalikan badannya lalu berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Hira. "Om, mau mandi dan setelah itu mau tidur, apa kau tidak mencium bau aneh dari tubuh Om, karena belum mandi sedari pagi, kalau kau tak percaya kau bisa cium ketiak Om."


"Ahh, tidak mau, kenapa cium ketiak? dari sini saja sudah tercium baunya," protes Hira sambil berlari menuju kamar tidur dan menutup dengan sedikit keras.


Rio tertawa kemudian berdiri lalu membalikan badan serta berjalan menuju kamarnya, di letakan beberapa paper bag yang berisi baju yang baru dibeli di butik. ia berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia keluar dengan hanya berbalut handuk sebatas pinggang dan lutut. Lalu ia membuka salah satu paper bag itu dan memakai bajunya. Ta seberapa lama, Terdengar ada pintu yang mengetuk, ia berjalan kearah suara itu dan membukanya, terlihat gadis kecil putri sahabatnya berdiri di depan pintu dengan mata yang sedikit kantuk sembari menguap, Rio mengeryitkan dahinya. "Kenapa ada di sini?"


"Aku tak bisa tidur aku ingin tidur dengan Om, sudah lama 'kan Om tidak menina bobokan aku," kata Hira dengan berjalan masuk lalu merebahkan tubuhnya di atas Ranjang tanpa permisi.


Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian menggelengkan kepalanya. 'Astaga! Godaan apalagi ini?' jeritnya lirih dalam hati. Dengan langkah gontai ia menghampiri gadis itu, dilihatnya terlelap di atas ranjangnya, sambil menghela nafas dalam, ia mengendong putri sahabatnya dan memindahkan ke kamar Hira sendiri.


Setelah itu ia kembali ke kamarnya, ditutupnya pelan kamar Hira lalu ia menuruni tangga menuju kamarnya, ia menghembuskan nafas dengan berat, langkah kakinya berjalan memasuki ruangannya lalu menutupnya perlahan, ia berpikir perasaan apa ini, seperti seorang remaja sedang jatuh cinta.


Rio duduk di sofa dikeluarkan Rokok dari saku celana dan mengambil sebatang kemudian menyulut serta menghisapnya perlahan.


Asap pun keluar dari hidung dan mulut saat dia menghembuskannya. Malam yang pekat tak membuatnya mengantuk karena pikiran yang bercabang tak tentu arah, perasaan yang tak mau kompromi dengan akal pikirannya.


Rio berjalan menuju jendela kamarnya, menatap kosong di luar, sepintas ingatan dengan istrinya datang lalu berganti dengan gadis kecil lucu itu yang mampu membuat hatinya menghangat.


Kadang ia berpikir apa yang di cari sebenarnya, cukup membuat otak tetap waras saja adalah hal yang sulit, apalagi dengan hati ini, sungguh suatu hal yang tak mampu dia kendalikan sama sekali.


Apa ini kasih sayang seorang Om terhadap anak dari teman baiknya atau sesuatu yang dia takutkan selama ini, kadang otak menyuruh untuk membiarkan saja dan mengikuti alur kemana hati dan jiwa berlabuh, tak cukup sekedar kata cinta untuk tahu di Darmaga yang akan di singgahi sementara atau menetap untuk selamanya. Satu puntung rokok sudah terbakar habis menyisakan satu centimeter dari gabusnya lalu di buang begitu saja melalui jendela kemudian menutup dengan rapat dan menarik tirai.

__ADS_1


Rio berjalan ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.


__ADS_2