Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Pesta Belum usai


__ADS_3

Rudi menikmati makanan di piringnya tanpa peduli Dantai memperhatikannya, ketika Dantai tengah berbisik pada Anta Rudi pun beranjak dari duduknya dan mencari posisi yang aman dengan mengitari sajian mencari makanan yang sesuai seleranya, ia melihat Salva menghampirinya. Rudi pun menghindar pergi ke tempat lain.


Pesta masih berlangsung, banyak tamu yang menyumbang kan suara emasnya untuk menyanyikan lagu di peruntukkan untuk mempelai berdua hingga jam 12 siang Aril, Rio dan Gibran baru bisa turun dari panggung.


Mata mereka mencari-cari Rudi, ketika mereka melihat keberadaan Rudi. Mereka langsung mengatur siasat menghampiri Rudi tanpa sepengetahuan orangnya, di saat Rudi menikmati bakso kuah pedasnya.


Ia dikagetkan oleh ketiga temannya yang memukul bahunya diserang dari kiri, kanan dan belakang membuatnya tersedak potongan bakso dan kuah pedas membuat matanya memerah dan tenggorokannya terasa panas ia pun segera menyambar satu gelas air mineral dan diteguknya hingga tandas.


"Kalian kira-kira dong tenggorokan gue panas tahu."


"Biarin lu main curang sama kita," kata Aril menanggapi.


Rudi terkekeh," Enggak lah aku tadi kan sudah joget walau sebentar."


"Tetap saja curang itu namanya, lihat aku belum makan lo dari tadi," kata Rio sambil berjalan menuju hidangan ia pun mulai mengambil makanan di ikuti oleh Gibran.


"Kamu gak makan?" tanya Rudi pada Aril.


"Jagain kamu dulu biar gak kabur lagi."


kata Aril sambil duduk di sebelah Rudi.


Rudi terkekeh," Salva ada di sana tuh gak kamu sampiri nanti kamu nyesel besok udah pulang dia," kata Rudi pada Aril.


mata Aril pun mengikuti jari telunjuk Rudi ia pun lupa dengan tujuan ia pun beranjak dari tempat duduknya menghampiri Salva,"Dek, apa kabar?"


"Eh, mas Aril baik, mas Aril sudah makan?"


"Belum, tadi mau ambil tapi lihat lihat kamu di sini jadi ke sini dulu, habis mas kangen kamu sudah lama gak ketemu." Salva pun merona mendengarnya," mas Ari bisa saja, mau Salva ambilkan?"


"Boleh." katanya sambil menatap Salva tanpa berkedip.


"Mau di ambilkan apa?"


"Apa aja sih gak nolak, tapi kalau boleh, bisa ikut ngak ngambilnya mas pengen dekat dek Salva." kata Aril ragu

__ADS_1


Salva tersipu," Boleh mas, Ayo!"


"Dek Salva gak makan?" tanya Aril pada Salva.


"Salva sudah makan mas. mau yang ini mas? tanya Salva Aril mengangguk, Salva terus bertanya dan Aril pun mengangguk hingga," Sudah dek cukup."


"Dek Salva mau kudapan yok ke sana mas ambilkan makanan kecilnya sama minuman biar bisa nemani mas makan." lagi-lagi Salva tersipu, lalu mengangguk kemudian mengikuti Aril di belakangnya, Aril pun mulai mengambil makanan yang di tunjukan oleh Salva.


Beberapa mata menatap mereka tak terkecuali Dantai dan Rudi.


Dantai mengerutkan dahi menangkap sinyal lain dari gesture tubuh sahabatnya itu, ia pun tersenyum penuh makna.


Rudi terkekeh melihat sahabat berusaha mendekati adik Dantai.


Gibran berbisik pada Rudi," apa aku ketinggalan berita?"


"Sudah biarkan saja, dia lagi pdkt jadi jangan di ganggu, besok sudah gak bisa ketemu lagi."


"Sejak kapan Aril suka sama Salva? tanya Rio sambil duduk di sebelah Rudi."


"Sudah biarkan saja kasihan sudah lama menahan rindu dia." kata Rudi lagi sambil menaruh mangkok di meja lalu pamit pada kawannya ke musholah di kediaman Andi.


Aril duduk di pojokan ruangan bersama Salva sambil menyuapkan makanannya ia banyak bercerita tentang berbagai hal membuat Salva tertawa.


"Dek boleh tidak minta nomer telponnya?" tanya Aril dengan hati berdebar.


"Boleh kak, mana?" tanya Salva meminta handphone Aril. Aril memberikan handphonenya dan Salva mengetikan nomernya lalu melakukan panggilan ke nomernya sendiri setelah itu di kembalikan lagi pada Aril.


"Dek?" panggil Aril sedikit ragu


"Apa kak?" Salva menatap Aril, Aril pun gugup bahkan ketika melihat di bibir Salva ada sisa makanan yang menempel Aril mengambil tissue dan membersihkan bibir Salva," maaf dek ada coklat di bibir mu," kata Aril sambil menelan salivanya.


Salva merona atas perlakuan Aril.


"Dek, boleh gak mas sayang sama adek?" tanya Aril dengan jantung berdebar. begitu pula Salva ia pun menjadi salah tingkah," hem, sebagai apa kak?" tanya Salva sambil menunduk. Aril menelan salivanya untuk membasahi kerongkonganya yang tiba-tiba kering.

__ADS_1


"Kalau sebagai calon suami boleh tidak?" katanya kembali.


"Salva semakin menunduk," Mas Aril tanya aja sama mas Dan, kalau mas Dan boleh Salva juga iya." kata Salva dengan wajah yang semakin merona.


Aril pun tersenyum, " Jangan trima cowok mana pun ya dek kalau adek juga sayang sama mas sampai mas mintak ijin sama Dantai" kata Aril lagi dan Salva pun mengangguk.


Aril melanjutkan makanannya sementara Salva meminum jus hingga habis untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena berdebar. Beberapa kali notifikasi handphonenya berdenting tak di hiraukan.


Dantai melihat mereka beberapa kali mengirim pesan pada sahabatnya itu, tapi tak di hiraukan hingga ia pun memutuskan untuk pamit pada Anta untuk menghampiri Aril, dan Anta mengangguk.


Dantai menghampiri mereka tanpa sepengetahuan mereka lalu duduk di depan mereka," Kalian sudah sholat belum? kalau belum kita sholat bersama." kata Dantai sambil menatap mereka berdua bergantian.


Aril terkejut hingga tersedak dan Dantai memberi segelas air mineral ke Aril, Aril menerima air dari Dantai dan meneguknya perlahan hatinya ciut melihat sorot mata sahabatnya itu.


Dantai menghelah nafas," Sejak kapan Ril?"


"Hem? se-sejak kamu koma Dan, maaf!Jawab Aril menunduk.


"Kamu kalau serius sama adikku kamu harus nunggu dia lulus, baru bilang ayah. Ingat jangan mainin adik aku!" kata Dantai sambil menepuk bahu teman sambil beranjak dari duduknya Aril meraih tangan Dantai sambil menatapnya tak percaya.


"Kamu mengijinkan Dan?"


"hem, sudah cepat selesai kan makannya dan segera sholat dhuhur sana!" kata Dantai.


Sementara itu Salva pun juga terkejut, mendengar ucapan kakak, ia pun berdiri lalu memeluknya, "Trimakasih kak."


Dantai pun tertawa sambil mengusap kepala Salva yang tertutup ijab," ternyata kau juga menyukai bocah tengil ini dek, Awas ya Ril jangan melirik yang lainnya! bakal aku nikahkan adikku dengan yang lainnya juga."


"Iya janji Dan," jawab Aril pasrah.


"Jangan kwatir aku jadi sisi Tvnya Dan," jawab Rudi sambil nyengir." kata Rudi yang sudah berdiri di situ bersama Gibran dan Rio.


"Gimana rasanya Ril keciduk kakaknya waktu nembak adiknya?" tanya Rio, Aril melotot ke arah Rio, "Si*lan, lo juga tahu?"


"Tahu lah banyak sisi Tv gitu loh," kata mereka serentak sambil tertawa, Salva yang malu menyembuyikan wajahnya di dada kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2