
Setelah sampai di ruangannya ia bergegas ke kamar mandi serta membersihkan tubuhnya, kemudian mengganti pakaiannya dan melaksanakan sholat magrib di ruangan privasinya. Setelah itu ia pun pergi di ruangan minibarnya, duduk di sana sambil menatap keluar dari jendela kacanya, di ambilnya Hp lainnya yang menjadi penghubung antara dia dan istrinya. Sebuah pesan Wa masuk.
Jasmine
Apa kau akan pulang hari ini?
Rio
"Maaf aku harus lembur, jangan terlalu capek dan jaga kandunganmu makan yang teratur! Karena, bukan kamu saja yang butuh makan anak kita juga, Jas.
Jasmine
Ya
Jawaban singkat dari Jasmine kemudian offline. Rio menghelah napas panjang. 'Maafkan aku Jas, jika anak kita lahir dan kau sudah tak sanggup untuk hidup bersamaku, aku akan iklas melepaskan mu.' gumamnya dalam hati.
Rio mulai menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.
Sementara itu, di rumah jasmine kecewa atas sikap Rio seolah-olah hanya dia harus mengurus anak yang ada di kandungan, suaminya itu lupa kalau ia harus menjaga mood istrinya. Jasmine terseyum pahit. "Baiklah saat ini aku akan menjaganya tapi nanti kau yang harus menjaganya, Bang. Karena aku mungkin tidak bisa menjaganya kelak, Bang." gumamnya lirih sambil menatap keluar jendela, tentu saja tidak bisa di dengarkan Rio yang tak ada di sebelahnya.
Jasmine mengelus perutnya, air matanya menetes, 'kenapa mencintaimu begitu menyakitkan, Bang. Begitu bodohnya aku bertahan dalam luka, hari ini kau tidak pulang, Bang. Andai memang gadis itu adalah gadis yang membuatmu bahagia aku rela kau menikahinya, Bang, tapi tolong di surga nanti cintailah aku seperti kau mencintai istri kedua mu.
Selepas isya' Jasmine duduk di meja makan sendirian, dia lalu memanggil Mbak Narti asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Mbak Narti, sini dong temani saya makan," kata Jasmine.
"Aduh, Non. Saya gak enak kalau makan sama, Non. Sepertinya gak sopan gitu loh, Non," kata Mbak Narti.
"Gak apa-apa, saya kalau makan sendirian jadi gak nafsu makan Mbak, jadi tolong temani aku, gak apa-apalah jangan sungkan kita hanya berdua Mbak tolong anggap aku adik Mbak yaa," pinta Jasmine memelas.
"Baiklah, Saya tunggui Non makan saja yaa, Non," kata Mbak Narti dan Jasmine pun mengangguk.
Jasmine mulai memakan makanannya.
"Mbak Narti nanti titip anak aku yaa Mbak, kalau gak bisa merawat tolong di rawat yaa, Mbak," kata Jasmine sambil menyuapkan makanan di mulutnya.
"Emang Non mau kemana, jangan pergi, Non! Anda harus bisa menaklukkan hatinya Mas Rio, saya yakin lama-lama dia akan jatuh Cinta sama Non Jasmine.
Narti menatap iba majikannya itu.
"Jangan menatap begitu Mbak, Aku minta Mbak Narti berjanji kalau aku ngak bisa rawat anakku," pinta Jasmine.
"Baiklah saya akan merawatnya dengan sangat baik, Non jangan kawatir tapi Non harus berjanji untuk tidak pergi.
"Aku tidak bisa berjanji, Mbak. Aku juga ingin tetap tinggal tapi apa dayaku kalau ternyata aku harus pergi, dan tolong omongan kita ini jangan sampai tahu mas Rio, yaa Mbak," kata Jasmine pada Mbak Narti.
"Baiklah, Non. Saya akan simpan semua keluh kesah Non Jasmine dan tak akan memberi tahukan pada Mas Rio," katanya pada Jasmine.
__ADS_1
Jasmine pun menikmati makan malamnya dengan sangat lahap seolah kegundahan dan kemarahan hatinya dia lampiaskan pada makanan yang ada di hadapannya.
Tak butuh waktu lama untuk melahap semua makanan yang ada di piringnya hingga tak tersisa sedikit pun setelah meneguk segelas air minum yang ada di depannya ia pun beranjak dari meja makan menuju kamarnya setelah berpamitan kepada Mbak Narti asisten rumah tangganya.
Narti menatap kepergian majikannya dengan iba. Lalu dia pun membersihkan meja makan dan menaruh sisa sayur dan lauk di dalam kulkas, lalu dia kembali ke kamar yang berdekatan dengan dapur.
...----------------...
Di kantor di ruang kerjanya, Rio mulai menyibukkan dirinya dengan file-file yang sebenarnya tidak harus segera di selesaikan. Karena masih ada jeda waktu yang panjang, untuk membahas kerja sama yang baru akan di sepakati satu minggu kemudian.
Merasa sedikit penat ia pun pergi ke mini bar untuk membuat secangkir kopi dan semangkuk mie instan, kebiasaan buruknya kembali dengan menkonsumsi makanan cepat saji yang tidak sehat itu.
Sambil menikmati mie kuah, ingatannya kembali pada gadis kecil bermata biru itu. Kembali ia menyentuh bibirnya, terasa begitu manis kecupan sekilas dari gadis itu, tak akan bisa dia lupakan sepanjang hidupnya. Lalu dia ingat Jasmine istrinya yang akan selalu menunggu setiap saat hanya sekedar ingin mendapatkan sedikit perhatian darinya.
Rio menghelah nafas, dia pun berfikir akankah ia hidup bersama Jasmine wanita yang tidak membuatnya tertarik hanya sekedar memeluknya, bahkan malam pertama tak membuatnya merindukan wanita itu mungkin hanya sekedar keinginan syahwatnya adalah alasan untuk mendatangi istrinya itu.
Rio menghabiskan mie dan kopinya lalu mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari kantornya, lalu berjalan menuju area parkir kemudian masuk kedalam dan melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ke rumah, tak seberapa lama ia sudah sampai di rumahnya dengan langkah tergesa ia memasuki ruang tamu yang begitu lengan hingga salamnya saja harus dijawabnya sendiri, ia bergegas ke kamar Jasmine dan ternyata tidak di kunci, dia melihat istrinya itu berdiri di depan jendela kaca kamarnya entah apa yang dilihatnya yang jelas saat itu Jasmine tidak mendengar salam dari suaminya. Rio memeluknya dari belakang dan berbisik. "Aku menginginkannya malam ini, penuhi hasratku katanya sambil menciumi leher dan telinga istrinya yang menjadi titik kelemahan Jasmine.
Tak lama kemudian tirai telah ditutup dan lampu dipadamkan maka terjadilah sesuatu yang seharusnya terjadi Rio menuntaskan hasratnya kepada Jasmine istrinya setelah sekian lama meredamnya dengan kesibukan di kantornya. Entah kenapa ketika bertemu dengan Hira hasrat lelakinya tak bisa lagi dia tahan dan dia tuntaskan pada istrinya itu hingga tiga kali berturut-turut.
Jasmine menitikkan air matanya bukan karena dia bahagia sang suami mendatanginya tapi karena suaminya menyebut nama wanita lain dalam pergumulan dengannya. Yaa, suaminya akan mendatanginya saat pria itu merindukan wanita lain dan bukan dirinya.
Setelah melampiaskan hasratnya ia selalu mengatakan maaf dan mencium kening Jasmine lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah itu dia pun akan kembali keluar rumah entah kemana Jasmine tidak pernah tahu. Sebagai istri dia tak akan menolak keinginan suaminya itu walaupun ia hanya sebagai wanita pengganti, tak ada ruang sedikitpun di hati pria itu.
__ADS_1