
Dante dan Anta sudah berada dalam pesawat yang menuju Maldives. Mereka duduk di tempat yang sama. Lalu mereka mengenakan sabuk pengamannya kemudian pesawat itu pun lepas landas dan mulai berjalan menuju Maldives. Suatu hal yang tidak pernah mereka bayangkan akan bisa pergi bersama di suatu tempat yang benar-benar romantis. Saat ini adalah hari yang tidak bisa Anta percaya bahwa dia akan bisa pergi bersama Dantai melihat dunia dengan matanya. Harapan Anta untuk bisa melihat dunia sudah hilang pada saat itu. Hingga saat ini ia benar-benar merasa, bahwa ada keajaiban yang membuat dirinya, mendapatkan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Dia memandang suaminya dan tersenyum. "Terimakasih telah mempunyai ide yang begitu indah, bahkan dalam mimpi pun aku tak bisa membayangkan. Sungguh ini sangat membuatku bahagia coba cubit tanganku! Apakah aku sedang bermimpi? Bawasannya sampai saat ini aku belum bisa percaya, kalau aku bisa melihat kembali, padahal semua dokter menyatakan bahwa aku tak mungkin bisa melihat kembali."
Dantai menatap sendu sang istri lalu berkata, "jika Allah menghendaki apapun bisa terjadi dan tidak bisa dicegah karena kuasa Allah sangatlah besar. Kadang semua yang terjadi tidak bisa dipikirkan oleh nalar hanya cukup bersyukur dan berterima kasih pada- Nya, An."
Anta tersenyum lalu menaruh kepalanya di dada suaminya, sungguh ada Cinta yang menggebu, seperti saat pertama kali bertemu dengan Dantai karena saat itu nuansa kasih seperti terpenggal begitu saja oleh tragedi. Membuat Anta berada dalam kegelapan Yang tak berujung manis. Bahkan dia sudah berputus asa untuk bisa menikmati keindahan dunia bersama suaminya. Namun, itu sekarang menjadi suatu kenyataan bagi dirinya. "Tidurlah, An. Perjalanan masih panjang, kita harus melalui sebelas jam perjalanan untuk bisa sampai ke sana. Maka jangan sia-siakan waktu dan beristirahatlah agar kamu tidak terlalu capek. Akan banyak kegiatan yang kita lakukan di sana dan itu pasti akan menguras banyak tenagamu, jadi gunakan waktu ini dengan istirahat yang secukupnya. Aku tahu melihat dunia adalah impianmu, suatu saat nanti aku akan mengajakmu untuk berkeliling dunia bersama," janjinya pada istrinya
Tanpa mereka sadari di di bangku sebelah kanan paling ujung seorang sahabat juga sedang berlibur di tujuan yang sama dan berada di pesawat yang sama.
Suatu perpisahan yang tidak diharapkan oleh Dantai pada saat itu. Ketika sahabatnya memutuskan untuk tidak ingin bertemu dengannya karena masalah hati dengan putri kecilnya membuat dia sedih.
Ya ternyata Rio dan dantai berada di pesawat yang sama serta tujuan yang sama tanpa mereka tahu dan sadari.
Waktu berjalan dengan cepat tak terasa 11 jam 30 menit telah berlalu dan saat ini pesawat sudah mulai bersiap-siap akan mendarat di Bandara Velana Internasional.
Mereka turun dari pesawat menuju ke terminal kedatangan untuk mencari taxi, yang mengantarkan mereka ke hotel dimana mereka menginap.
__ADS_1
VARU by Atmosphere adalah tempat pilihan mereka untuk menginap di sana.
Rio sudah berada di dalam speed board bersama sang istri.
Begitupun dengan Dantai dan Anta sudah berada di speedboad yang sama dengan tujuan yang sama di waktu yang sama pula.
Speedboad berhenti dalam di resort yang sama. Kedua pasangan yang duduk saling memunggungi itupun keluar speed boat yang sama, tetapi tak saling bertemu, tak lama kemudian, Speedboat itu pun pergi serta berjalan meninggalkan tempat itu. Saat hendak berjalan menuju tempat mereka menginap saat itulah mereka saling bertemu.
"Hai, kau berada di sini?" sapa Dantai dan Rio bersamaan lalu mereka tertawa bersama kemudian saling dipelukan. "Hanya berdua dengan Anta?" tanya Rio pada Dantai.
"Iya kami sedang berbulan madu yang pertama dan sangat terlambat," katanya sambil terkekeh.
mereka berjalan bersama menuju penginapan, yang akan mereka tinggali selama berada di maldavis. Mungkin sudah takdir mempertemukan mereka kedua, di tempat wisata yang sama dan penginapan yang sama yang ternyata saling bersebelahan hingga membuat boneka pun tertawa. Padahal mereka tidak bertemu janji untuk bisa bersama-sama, berada di tempat ini.
Anta memuji kecantikan dari istri Rio "Istrimu sangat cantik yaa, Kamu pandai sekali memilih istri."
__ADS_1
"Bukan aku yang pilih tapi ayah dan ibuku dia tahu seleraku," jawabnya sambil tertawa.
Mereka pun membuka pintu tempat penginapannya masing-masing lalu mereka pun masuk di ruangan yang berbeda, dengan membawa kopernya masing-masing ke dalam.
Rio melihat perubahan raut wajah sang istri seperti ada suatu kecemasan. Mungkin saja Jasmine tahu, bahwa yang ditemuinya adalah orang yang sangat begitu dekat dengan suaminya mungkin orang tua dari gadis yang dicintai suaminya dan tak mungkin bisa dimiliki itu tebaknya. Rio mengerti tentang kecemasan sang istri lalu dipeluknya wanita itu kemudian diciumnya bibirnya dan bermain di sana sangat lama sambil berbisik,"Jangan cemas aku tetap milikmu."
Jasmine pun tersenyum dan mengangguk.
"Sayang lepaskan hijabmu biar tidak gerah," kata Rio.
Ucapan itu membuat hati Jasmine menghangat walaupun ia tidak tahu apakah dari dalam dasar hati suaminya yang paling dalam, ataukah hanya ingin menyenangkan hatinya saja. Akan tetapi itu cukup membuat nya merasa bahwa dia dimiliki oleh suaminya. Jasmine pun melepas hijabnya dan duduk di bibir ranjang di sebelah suaminya, rambut sepinggang tergerai indah dengan buliran rambut yang jatuh menutupi wajahnya yang sedikit berombak.
"Bergantilah pakaian dan istirahatlah! Mungkin kamu lelah," kata Rio.
"Aku akan mandi dulu kata Jasmine sambil berjalan menuju kopernya. Rio menghentikannya dengan menarik tangannya. Dia bertanya," Apa kau lelah?" Jasmine pun menggeleng tidak jawabnya.
__ADS_1
Rio pun berkata mari kita bermain dulu sebelum mandi dan tangannya pun mulai membuka satu persatu kancing gamis dari Jasmine. Dilepaskannya seluruh kain yang melekat pada istrinya begitu juga melepaskan seluruh pakaiannya.
"Aku akan mengobati seluruh keresahan di hatimu, sudah kubilang kau lebih segalanya karena kau bisa ku sentuh dan memiliki untuk selamanya. Tetap bersamaku apapun yang akan terjadi," kata Rio.