
Satu bulan berlalu, dua bulan terlewati, 3 bulan berjalan dengan cepatnya usia kandungan Jasmine sudah 9 bulan detik-detik melahirkan telah dekat kecemasan semakin merajai hati jasmine.
Jasmine mencoba menelpon Anta, beberapa kali ia melakukan panggilan hingga akhirnya tersambung.
"Assalammualaikum, Mbak. Bisakah aku bertemu Hira?" tanya Jasmine pada Anta
"Wa'alaikumsalam, Mbak Jasmine, Maaf aku sedang di luar kota, Mbak hubungi suami saya saja akan saya kirim nomornya ya mbak," kata Anta pada Jasmine
"Baiklah Mbak,"jawab Jasmine tak seberapa lama kemudian ada pesan yang mengirimkan nomor tidak dikenal itu adalah nama Dantai jasmine segera menyimpan nomor itu kemudian melakukan panggilan ke nomor yang diberikan Anta padanya.
Beberapa kali dia melakukan panggilan belum juga terjawab, lima menit berlalu dia masih setia untuk melakukan panggilan hingga akhirnya terjawab.
"Assalamualaikum ini dengan siapa?" suara dari seberang berbicara kepadanya.
"ni Jasmine ingin berbicara dengan anda Pak Dantai,
"Jasmine istrinya Rio, 'kan?
"Benar Pak Dan, saya ingin bertemu dengan Hira, tolonglah pak Dan ada suatu ingin aku sampaikan padanya waktu tinggal sedikit. Bisakah Anda datang kemari bersama Hira?"
"Apa yang terjadi, kenapa kau bilang waktu tinggal sedikit? Apa Rio tahu kondisimu?" tanya Dantai kepada Jasmine.
"Saya tidak bisa membicarakan di telpon, saya harap Anda segera datang kemari dengan putrinya Anda, saya mohon pak Dan," pinta Jasmine.
__ADS_1
"Ok! Akan ku bicarakan dulu dengan putriku, mungkin besok kami baru bisa berangkat," kata Dantai pada Jasmine.
"Tuan, usahakan agar dia mau menemuiku dan tolong rahasiakan ini dari suamiku belum saatnya ia tahu," katanya sambil mengigit bibir bawahnya.
"Nyonya ini tak adil buat Roi, dia harus tahu keadaanmu akan lebih baik begitu dari pada Anda merahasiakan dan terjadi sesuatu pada Anda akan lebih terluka hatinya," kata Dantai pada Jasmine.
"Dia tak akan bersedih, aku yakin jika ia disuruh memilih antara aku dan bayiku ia akan memilih bayi ini, dia baik denganku karena ada anaknya di rahimku," kata Jasmine.
"Kau salah Jas, Dia mencintaimu andai kau berterus terang padanya mungkin dia akan melakukan hal yang untuk menyelamatkan kalian berdua. Andai pun harus memilih dia akan memilihmu," kata Dantai.
"Itu yamg tidak kuinginkan, Tuan. Papa dan Mama menginginkan cucu dari Mas Rio, jika dia memilihku selamanya kami tidak akan punya anak, Tuan. Dia telah merelakan cintanya untukku aku tidak tegah untuk mengorbankan kebahagiaannya kembali untuk mendapatkan anak," kata Jasmine membuat pria itu terpejam membayangkan apa yang terjadi pada sahabatnya itu andai tahu Jasmine mengalami masalah dengan kehamilan itu, suara di telpon masih terdengar suara memanggil namanya.
"Tuan Dantai, Tuan Dantai, apa Anda masih di situ jika iya, tolong jawab saya!" pinta Jasmine.
"Ya, saya masih bisa mendengarkanmu,
"Trimakasih, Tuan. Assalamualaikum." pamit Jasmine mengahkiri perbincangannya dengan Dantai, terdengar jawaban salam dari seberang kemudian terputus.
Jasmine menghelah nafas panjang dipandangnya gedung-gedung dari kejauhan terasa begitu kecil terlihat dari balkon rumahnya. Dia membelai perutnya yang sudah mulai sangat besar dibisikkan sebuah kata, "Bertahanlah Nak berikan kebahagiaan untuk Ayahmu."
Sebuah tangan menyusup dan memeluknya dari belakang. Dengan jemari yang kokoh itu membelai perutnya yang besar dagu di sandarkan di pundak Jasmine. "Bukan cuma aku, Jas. Untukmu juga. Dia akan membuat kita bahagia, kita akan mengenggam jemarinya yang mungil bersama-sama, Jas," kata Rio pada Jasmine.
"Terima kasih Rio itu sangat indah buatku dan semoga aku bisa merasakan itu denganmu menggenggam jemari tangan anak kita berdua denganmu, menuntun kaki-kaki kecil itu, untuk belajar berjalan menapaki dunia yang penuh dengan segala canda, yang membuat kita tertawa kadang menangis juga sekedar hanya tersenyum," kata Jasmine pada Rio.
__ADS_1
"Ya kaki-kaki kecil itu akan warnai rumah kita memberikan irama keindahan di hati kita juga di kehidupan kita, Jas. Tolong jangan cemaskan sesuatu! Apapun yang menjadi pikiranmu tolong katakan padaku, Jas! Aku ini suamimu perlu tahu apa yang ada di hatimu juga yang ada di pikiranmu. Jangan kau simpan sendiri! Karena kita hidup berdua bukan sendiri-sendiri, kau mengerti jas! jelas Rio dengan lembut.
"Ya, aku mengerti! Maafkan aku jika selama ini aku belum bisa memberikan kebahagiaan padamu, mas,"ucap Jasmine.
"Kata siapa Kau sangat membuatku bahagia, Jas. Bahkan aku sanggup melupakan deritaku bersama denganmu, terima kasih telah hadir dalam hidupku dan telah sabar menanti hatiku terbuka hanya untuk mu. Kau harus tahu! Kau sudah ada di hatiku, Jas. Maka tolonglah untuk tinggal di sana menemaniku selamanya,"
kata Rio membuat hati Jasmine merasa teriris sembilu. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Membayangkan bagaimana nanti jika suaminya tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi.
"Kau sangat cengeng sekali kenapa sekarang kamu mudah menangis, Jas," kata Rio sambil menghapus air mata Jasmine.
"Aku bahagia saat ini dan aku ingin seperti ini untuk selamanya, Mas," Bisik jasmine. Namun, masih bisa di dengar oleh Rio.
akan selalu seperti ini jas kau jangan kuatir akan selalu kutemukan rasa cinta aku padamu hingga maut memisahkan kita jas," kata Rio sambil mengecup pipi istrinya yang cabi itu.
Maut takkan memisahkan kita Rio, kau tidak tahu saja bahwa waktu kita hanya beberapa hari lagi, maaf jika aku tidak memberitahumu tentang hal ini, gumamnya dalam hati.
Kenapa sudah pulang ini kan masih siang Mas tanya Jasmine.
entahlah aku ingin sekali pulang makan siang bersamamu maukah kamu makan siang bersama di luar tanya Rio.
tentu dengan senang hati aku akan bisa dulu ya jawab Jasmine oke aku tunggu kata lilu berjalan mengikuti istrinya di dalam kamar.
"Hai kenapa kamu mengikutiku," tanya Jasmine. Rio pun terkekeh. "Aku suka melihatmu berganti pakaian," kata suaminya, membuat rona merah membias di wajah Jasmine.
__ADS_1
kau selalu saja bisa menggodaku, Mas," katanya sambil terus melangkahkan kaki menuju walk in closet. Rio berdiri dan bersandar di depan pintu sambil menatap sang istri yang tengah berganti pakaian, tak terbayangkan rasa debaran jantungnya menggila hanya dengan di tatap seperti itu oleh suaminya. Malu, tetapi dia tetap membiarkan Rio menikmati momen seperti ini, dia ingin Rio bisa mengenangnya di sepanjang hidupnya, mungkin sedikit curang merampas separuh hati pria itu walau nantinya akan bersama dengan wanita lain dia ingin namanya tetap bersemayam di hati pria itu.
"Aku tidak curang aku bermain dengan sangat adil aku istrinya dan aku berhak meraih apapun menjadi milik pria ini termasuk hatinya.