Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Undangan Pernikahan Sari


__ADS_3

Suara Dering telpon menghentikan tangisan Anta karena kekecewaannya pada saudara kembarnya. Dantai menyambar hpnya yang ada di nakas lalu menerima panggilan tersebut.


"Wa'alaikum salam, bang Rizal."


" Besok bang acaranya? kok baru kasih kabar sekarang bang."


"Ok! deh kami usahakan datang besok ya bang, mungkin sedikit agak terlambat konsul dulu sama dokter kandungan bang."


"iya bang, sama-sama acaranya di rumah panti kan?"


"Ok! wa'alaikum salam."


"Siapa mas yang telpon?"


"Bang Rizal besok menikah dengan mbak Sari"


"Kok baru kasih kabar sekarang mas?"


"Yaitu dia katanya dia kelupaan."


"Hadew baru satu bulan lebih sudah lupa ini mbak Sari, bagaimana kalau sampai satu tahun."


Dantai terkekeh," maklum Honey ya begitulah kalau lagi di landa asmara bawaannya lupa melulu, kayak kita juga."


"Enggak lah, aku ngak gitu," katanya sambil tertawa karena di gelitik oleh suaminya.


"Sebentar ya aku kasih tau papi dulu soal pernikahan sari bagaimana pun papi itu kan atasannya harus tahu lah."


"Hem bunda tidur dulu, deh nanti ayah nyusul." katanya sambil mencium kening Anta.


Anta terkekeh," Yakin nih panggil bunda."


"Iya, kita harus mulai merubah panggilannya karena sebentar lagi kita akan punya momongan sayang,"


"Hem," jawab Anta sambil membaringkan tubuhnya di ranjang, Dantai membenarkan selimut Anta setelah itu, lalu keluar dari kamarnya.


Di berjalan ke depan mencari mertuanya tidak ditemukannya. lalu berjalan di belakang melewati dapur dan membuka pintu belakang ia mengedarkan tatapannya pada kursi taman, nampak pria paruh baya duduk di taman dengan rokok yang masih menyalah di tangannya. Dantai menghampiri pria paruh baya itu dan duduk di sebelahnya.


"Papi belum Tidur?"


"Papi gak bisa tidur Dan, kamu sendiri kenapa di sini. Gak menemani isteri mu?"


"Aku ada perlu dengan papi makanya cari papi ternyata papi ada di sini."

__ADS_1


"ada apa?"


"Besok mbak Sari mau nikah pi, tadi mas Rizal calonnya mbak Sari yang kasih tahu ke saya, rencana besok pagi kita berangkat jam 8 an pi."


"Iya, Sari baru telpon papi tadi, papi sih ngikut saja Dan."


"Ok pi, jangan terlalu lama di luar, angin malam gak baik buat papi, lagian ini sudah malam gak di cari mami nanti."


"yah nanti papi masuk, kamu masuk dulu saja Dan."


"Ada apa sih pi? kayaknya papi ada yang di pikirin nih?"


Mami ingin menjenguk rumah lama dan berkunjung ke makam Diana.


"Lah bagus dong pi, berarti hati mami sudah terbuka dan bisa menerima kepergian Diana. Nanti kita perginya sama-sama aja pi, Dantai mau ajak Anta sekalian." kata Dantai pada Andi.


"Ayo pi, ke dalam, ini sudah larut malam, kita istirahatkan tubuh, agar besok kita bisa menjalani perjalanan degan tubuh fit."


"Ayo!" kata papi sambil bangkit dari duduknya, kami berdua pun meninggalkan taman belakang dan masuk rumah bersama, kami masuk ke kamar masing-masing.


Dantai merebahkan tubuhnya di samping istri tercinta. Di peluknya tubuh itu dari belakang menyusupkan wajahnya di selah punggung sang istri dan terlelap di kebisuan malam.


Fajar menyingsing, beberapa orang sudah melakukan kegiatannya masing-masing setelah melaksanakan sholat subuhnya


Anta yang duduk di meja rias tersungging senyuman di wajahnya seperti menertawakan dirinya sendiri.


"Aku merasa lucu jika duduk di sini,"


"Kenapa sayang?"


"Aku gak bisa lihat ngapain juga ngaca?"


"Ya, gak papa sayang, duduk saja."


Anta mengoleskan pelembab di wajahnya lalu bedak tabur, lalu sedikit polesan lipstik di bibirnya.


"Udah cantik kamu sayang, gak pakai apa-apa malah lebih cantik." kata Dantai sambil terkekeh, Anta memukul lengan Dantai.


"Sudah konsul sama dokter Emma? tanya Anta pada suaminya.


"Sudah sayang katanya gak papa, nanti sampai sana kita periksa."


"Ayo keluar kita sudah di tunggu papi mami dan nenek."

__ADS_1


Mereka pun keluar kamar bersama menuju halaman di mana sudah berkumpul di sana.


Pak Amru sudah menunggu di dalam mobil di belakang kemudi. Mereka pun masuk ke mobil setelah berpamitan kepada Harlan dan Ira.


Andi di sebelah pak Amru, Dantai dan Anta berada di tengah, mami dan nenek berada di belakang. Setelah di pastikan sudah masuk semua mobil pun berjalan meninggalkan rumah menuju ke Bandara.


30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di Bandara. Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan ke terminal kepergian setelah mereka memasuki ruangan pemeriksaan lalu menuju ke pesawat.


Mereka pun masuk pesawat dan duduk di tempat duduk masing-masing.


Anta duduk bersama Dantai, nenek duduk bersama mami, sedangkan Andi duduk dengan penumpang lainnya."


Tak seberapa lama pesawat pun lepas landas, Anta menaruh kepalanya di dada Dantai dan terlelap beberapa lama.


2 jam perjalanan di udara hingga sampai ke Bandara juanda setelah itu mereka naik mobil rental menuju malang. selama 3 jam perjalanan ke malang menuju Vila mereka, Dantai pergi dulu ke dokter kandungan memeriksakan kandungan Anta.


Pemeriksaan di lakukan dengan sangat baik. Dokter menyatakan janin baik- baik saja dan di sarankan untuk istirahat beberapa waktu agar tidak terlalu kecapean.


Sesampainya di Vila. Dantai Istirahat sebentar.


jam 7 Sore mereka berangkat di pernikahan Sari dan dokter Rizal.


Anta sangat senang akhinya Rizal mengucap akad kepada Sari, suster yang selalu bersamanya.


Anta dan Dantai berjalan beriringan menuju tempat resepsi Sari dan Rizal.


Memakai konsep pesta kebun, mereka memanfaatkan halaman luas rumah panti.


Halaman rumah di sulap menjadi tempat yang menawan apalagi sejak dulu sudah terdapat bunga warna-warni yang begitu indah.


Konsep pesta begitu rilex, bahkan pasangan pengantin itu tidak serta-merta duduk di pelaminan setiap tamu yang datang mereka sambut dengan menghampirinya terlebih dulu.


Begitu juga ketika Dantai dan Anta masuk ke tenda perayaan pesta langsung mereka hampiri. di peluk erat mantan majikannya itu.


"Non, Sari kangen sama non, aduh makin cantik aja, duduk sini non ,den," katanya sambil menarik tangan Anta dan membantunya duduk di kursi tamu.


Begitu juga Rizal memeluk hangat seorang teman yang baru di kenalnya. duduk ngobrol berempat adalah hal yang menyenangkan untuk melepaskan rindu.


"Ini kayak sudah gol mas Dantai, udah mau punya buntut ini," Sari melebarkan matanya dan melihat kembali gesture tubuh Anta.


"Betulkah? Berapa bulan non?"


"Sar, jangan panggil non dan den kalau kamu gak ngerubah panggilan kamu kita gak usah kenal saja."

__ADS_1


Sari terkekeh," Baik lah mbak Anta dan mas Dantai."


Trimakasih telah berkunjung dan membaca karya saya, dukungan anda sangat berarti buat saya, selalu dukung saya dengan memberi Like dan koment agar lebih semangat lagi untuk update dan sehat selalu serta di berikan kelancar rizki bagi anda semua.


__ADS_2