
"Apa.... hukuman!?" teriak Rania sambil melotot.
Dantai tertawa, Anta tersenyum, Rania menatap Dantai, manajer dan Anta bergantian bingung, takut dan kwatir tersirat di wajahnya.
"Sudah selesai nulisnya?tanya Dantai
"Sudah kak Dan, tapi bilang dulu hukumannya."
"Hukuman mu tanya manager restoran dan urusan ku dengan mu ada lembar kertas itu kecuali kamu tidak mau." kata Dantai dengan menyadarkan bahunya di sandaran kursi.
Rania menghela nafas lalu memberikan catatan itu pada Dantai kemudian menatap manager itu, dalam hatinya bergumam," Tidak dengan kak Dan manager pun boleh, dia juga tampan."
"Ok! pak manager jelaskan apa salah ku," kata Rania menatap tajam, sementara itu Dantai sedang mengetik tentang sesuatu pada handphonenya.
"Pertama kau menaiki kursi pengunjung, kedua kau melompat-lompat di atasnya, harga kursi itu setara gaji karyawan di sini karena kami ingin memberikan yang terbaik, dan kursi itu rusak, kita tak bisa langsung mengganti karena harus pesan yang sesuai dulu, kami ingin kamu menggantinya dengan uang mu sendiri bukan hasil pemberian," kata manajer itu dengan tenang.
"Hai pak manager bagaimana aku dapat uang jika aku tak punya kerjaan, aku kan masih kuliah."
"Kau bekerja di sini tanpa di bayar selesai kuliah langsung kemari," kata Manager itu.
"Baiklah, ku kira hukumanku akan kencan dengan mu pak manager, ternyata harus berkerja, walaupun sebenarnya aku lebih suka berkencan dengan mu dari pada Bekerja."
"Siapa yang ingin berkencan dengan cewek yang kerempeng dan tak ada tonjolan sama sekali sungguh tak menarik."Kata manager itu.
Dantai menahan tawanya mendengar perdebatan mereka begitu pun Anta tak lama kemudian notifikasi dari handphone Rania berbunyi dan ia melihat nominal yang anda di rekeningnya 50 juta, ia pun terbelalak dan menatap Dantai.
"Setiap bulan kau mendapatkan segitu, dan biaya kuliah aku yang tanggung, jadi gunakan dengan bijak." kata Dantai, Dantai pun beralih menatap menager itu," Trimakasih telah memberikan jamuan gratis pak....," ucap Dantai menggantung.
"Rusli,"
"Ya, trimakasih pak Rusli, wajah anda bule namun nama anda Rusli...?"
"Ibu ,asli Indonesia."
"Ooh baiklah kami permisi dulu."
"Silakan tuan Dantai dan nona Anta terimakasih pula dengan pertunjukan yang luar bisa."
"Sama-sama pak." kata Dantai sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
"Saya juga pamit pak,"kata Rania
"Siapa suruh kamu pergi hari ini juga kamu harus bekerja, ini seragam kamu, silakan ganti di ruang ganti, jangan coba-coba kabur."
__ADS_1
Rania menghembuskan nafas mengambil baju seragam dan menghubungi temannya untuk pulang duluan.
Dantai dan Anta berjalan keluar dari restoran menuju mobilnya, mereka pun masuk kedalam lalu mobil itu meluncur menembus jalanan yang ramai berjalan dengan kecepatan sedang, beberapa kali motivasi telponnya berdering dan tak dihiraukannya sampai akhirnya mobil berhenti di halaman vila, ia pun melepas safety beltnya dan juga Anta,
"Honey, duduk sini dulu banyak pesan ni kayaknya." Anta mengangguk mereka duduk di teras kembali. Dantai membuka handphone miliknya, begitu banyak pesan yang masuk di grup wa friends.
Rudi :[Assalamualaikum lihat Fb pertunjukan kalian viral, Anjir lo di trima juga Akhirnya]
Aril : [ Wa'alaikum salam, keren coi, lo gak ajak gue, pingin ketemu juga sama Anta, Aduh keren banget An kenapa gak dulu-dulu, pangeran mu sudah lama menanti.]
Rio : [ Yang lagi bahagia untung gak pingsan di panggung dapat jawaban tiba-tiba.]
Gibran: [ Kapan kita manggung bersama lagi, Ayo Agendakan Agendakan]
Dantai:[ Tanya mbak Lila sama om Alex kapan bisa show lagi]
Rudi : [ Lo ngajak manggung, gue jadi apa? gue gak bisa alat musik suara juga hancur]
Dantai: [ lo jadi penari latar, aduh kalian berdua ya 2 tahun di Jakarta lupa medoknya Surabaya]
Aril :[ Lagi nikmatin jadi orang Jakarta, Rudi jadi penari latar ok! juga]
Rudi : [si*l lo, kalau lo nyanyiin lagu dangdut gue rela jadi penari latar nya]
Dantai:[ Siap se7 awas lari]
Gibran: [ Asek, ayo eksekusi]
Rio : [Woke kapan lihat wak Rudi bergoyang]
Rudi : [ Wis ajur iki 🤦]
Dantai mengetik sambil membaca keras untuk Anta, Anta pun tertawa vidio call mas kata Anta tak lama kemudian layar menyala dengan tampilan wajah masing Anta pun langsung berteriak "Ayo kita lakukan nanti lagu dangdut ya wak 4 lagu, lo harus nari gak boleh pingsan."
"An lo teman ku apa bukan kenapa jadi ikutan mereka?" tanya Rudi yang pura-pura marah.
"Bukan, gue rela gak jadi teman lo agar lo bisa berjoget ria ajak juga mbaknya kayaknya seru tuh."
Semua teman terpingkal-pingkal.
"Mbak siapa An? Aduh kenapa ikutan Panggil wak?" tanya Rudi
" enak di mulut wak, rasa mantap kalau Panggil lo wak."
__ADS_1
" Pacar kamu Rud," jawab Dantai
"Wah jangan bisa hancur, gak kuat gue."
"Wah tanggap berarti sudah jadian," sahut Dantai
"Iya benar, sudah jadian dia setiap habis kencan pasti cari es batu." kata Aril
"Kenapa cari es batu Ril," tanya Anta
"Panas atas bawah dia, ha..ha..ha.."
"Ahhh, lo ember Ril!" teriak Rudi sambil mematikan handphone Aril tapi handphonenya masih menyala Aril pun berbicara lewat handphon Rudi," Karena buka atas bawah An."
"Arrillllllllllllll ! teriak Rudi handphone pun mati mereka tertawa terbahak-bahak.
Panggilan video pun berakhir Dantai melihat jam tangannya menunjuk jam 13.00.
"Honey kita sholat dhuhur dulu, sebentar aku Panggilkan bik Ijah."
"Gak usah mas, aku sudah bisa aku sudah latihan untuk mengenali rumah ini."
"Tapi..."
Sebelum Datai berbicara Anta pun berjalan masuk ke rumah dengan hitungan langkahnya.
"Ok!" aku tunggu di mushola ya,"
Anta menoleh dan melanjutkan langkahnya.
Dantai mengambil air wudhu di kran dekat taman lalu masuk ke dalam menuju mushola. Ia masuk mengelar sajadah lalu menunggu Anta.
Tak lama kemudian terdengar suara sandal jepit yang di seret mendekati mushola.
Dantai menoleh ke belakang Anta dan bik Ija masuk ke mushola.
"Sudah siap?"
"Sudah," Jawab mereka serentak, dan sholat jamaah di mulai
Di lain tempat Rizal dan Sari setelah mampir ke rumah panti sebentar, Rizal melajukan di restoran western cabang lainnya, mereka pun memesan makanan di sela menunggu pesanan datang layar pun menampilkan Anta dan Dantai melihat tanyangan itu Sari menitikkan air mata.
"Kenapa kamu menangis?"
__ADS_1
"Aku bahagia mas Rizal, non Anta menerima den Dantai, aku saksi percintaan mereka pasca kecelakaan, bagaimana mata den Dantai mencari di segala sudut ruang tunggu bandara, bagaimana setiap malam piano itu bedenting dengan lagu favorit mereka."
"Ok! tapi aku juga ingin menyelipkan ini di jemari mu maaf aku bukan pria romantis tapi aku bersungguh-sungguh," kata Rizal sambil menyematkan cincin di jari manis Sari.