
Aldo menggendong Era di atas punggungnya sambil terus berbicara menghibur istri kecilnya. Dia memasuki lift dan tetap menggendong gadis kecil yang sekarang beranjak dewasa, ia tahu tak akan mudah untuk mengobati dari trauma yang di hadapinya saat ini, keposesifannya membuat peristiwa ini terjadi, untung saja ia bisa melarikan dari dari teman-teman pria yang mempunyai pemikiran sempit hanya bertindak sesuai apa yang dilihatnya, dan menyimpulkan begitu saja dengan pemikirannya sendiri, padahal apa yang dipikirkan itu belum tentu belum tentu benar adanya, hingga merugikan orang lain.
"Bagaimana kalau kita berlibur, baru mengurus homeschoolingmu. Jadi saat kamu belajar kamu sudah bisa fokus belajar gak terbayang-bayang peristiwa tadi."kata Aldo Era.
"Di urus dulu aja, Bang. Nantikan baru di tentukan kapan dimulai, Bang?"
"Oh, gitu ya, Sayang. Ya sudah nanti besok langsung Abang urus." kata Aldo.
Lift terbuka Aldo keluar dengan masih menggendong Era.
Sesampainya di pintu ia meminta Era untuk menekan paswordnya dan terbuka, ia pun masuk lalu menutup dengan dengan kakinya.
Didudukannya Era di atas sofa lalu dilepaskan sepatunya dan ditaruh di rak sepatu yang ada di sudut ruangan.
Aldo kembali menghampiri istri kecilnya dan duduk berjongkok di depan Era, dia menatap dalam wajah istrinya yang sedang terpejam, sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Mau makan Apa? biar Abang masakin, atau kita pesan aja, terserah mau pesan apa?" tanya Aldo dengan lembut.
"Terserah, Abang saja," jawab Era sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Ya sudah Baiklah, mau tidur di sini apa tidur kamar?" tanyanya lagi pada Era.
"Era di sini dulu aja, Bang." jawab Era.
Aldo beranjak berjalan menuju kamar, di ambilnya bantal dan kembali keluar menghampiri Era. Diletakannya bantal di atas ujung sofa, lalu di baringkan tubuh istrinya agar lebih nyaman.
Aldo meninggalkan istri berjalan ke dapur membuat sesuatu untuk makan hari ini.
Ketika waktu menunjukkan hampir magrib, Aldo membangunkan Era yang masih tidur. "Ra, bangun hampir magrib, Sayang. Gak boleh tidur."
Era terbangun lalu duduk di atas sofa, terdiam sejenak untuk memulihkan kesadarannya. Tak lama kemudian Adzan magrib berkumandang, Aldo menyiapkan Air hangat di bathub. Dan menyuruh Era untuk mandi terlebih dahulu, dengan langkah gontai sehabis bangun tidur Era masuk ke dalam kamar mandi tak lupa membawa baju gantinya. 15 menit kemudian Era pun keluar dari kamar mandi lalu mengambil mukenanya dan dia mengambil shaf belakang suaminya menunaikan magrib berjamaah.
Setelah selesai ia pun mengajak ke meja makan di sana sudah penuh dengan makanan kesukaan Era.
Setelah makan malam Aldo menawarkan untuk menonton film, di ruang keluarga. Ketika waktu sholat isya mengajak istrinya untuk sholat jamaah, setelah itu mereka kembali ke ruang keluarga untuk melihat film kegemaran istrinya, karton Tom and Jerry menjadi pilihan tontonan Era. Sambil menemani isterinya, Aldo mengecek laporan keuangan restorannya di tabletnya. Dia larut dengan angka-angka yang ada du tabletnya tak terasa sudah malam, ia melihat Era telah tertidur di atas sofabed. Aldo mematikan televisinya dan menggendong istrinya masuk ke dalam kamar dibaringkan di atas ranjang lalu ia pun berbaring di sebelahnya, dengan memeluk istri kecilnya ia pun tertidur.
...----------------...
Di Jerman Anta memutuskan untuk segera kembali ke Singapura, ia mengambil penerbangan yang paling pagi sendiri. Anta tak mau berurusan kembali dengan Reno. Ia merasa urusan bisnis telah selesai dan tak perlu jamuan makan malam, siang atau pun pagi.
__ADS_1
Dewi sebagai asisten pribadinya tidak bisa menolak keinginan majikannya, maka setelah pulang makan malam bersama klien Dewi pun memesan tiket pesawat yang paling pagi sendiri.
Pagi itu dengan diantar mobil fasilitas hotel Anta dan Dewi pergi ke Bandara Munchen. Setelah sampai mereka pun langsung menuju ke pesawatnya ia duduk di samping Dewi.
Didalam perjalanan menuju Singapura Anta pun terlelap di atas pesawat. 13 jam bukan waktu yang singkat untuk bisa tiba secepatnya di Singapura. Ketika melihat majikannya tidur iapun menjadi mengantuk ia pun tertidur, mereka terbangun saat ingin sholat dan makan. bisa di bilang perjalanan bisnis yang sangat singkat dan melelahkan karena hanya satu hari di Jerman kemudian kembali ke Singapura. Serasa begitu remuk redam badannya namun tak bisa berbuat apa-apa dan tidak berani protes pada majikannya itu.
Dalam kesunyian suasana Tiba-tiba suara majikannya terdengar membuatnya terkejut. "Akan ku transfer bonusmu nanti, maaf perjalanan binis yang singkat membuat kelelahan. Kau boleh libur dua hari sesampainya di Singapura. Berliburlah di sebuah tempat yang menurutmu indah dan bersenang-senanglah di sana" kata Anta pada asistennya.
"Trimakasih, Non. Saya merasa kerja saya sangat dihargai oleh Anda," kata Dewi pada majikannya itu.
Setelah itu tak ada percakapan apapun yang terjadi kedua wanita itu mereka berada dalam alam pikirannya masing-masing
hingga dewi pun tak bisa lagi membendung perasaan ingin tahuannya tentang siapa pak Reno, hingga berlaku seperti itu pada majikannya, ia menatap Anta majikannya itu, yang mempunyai kelemahan dalam pengelihatan namun mempunyai kecerdasan yang luar biasa, ia mampu membuat kliennya tercengang dengan segala ide bisnisnya yang luar biasa.
"Nona saya tidak akan bilang pada tuan Dantai tentang kejadian saat pertemuan pertama kali dengan klien Anda. Saya tahu saat ini mungkin hati dalam keadaan tidak baik-baik saja, mungkin Anda saat itu ingin marah. Akan tetapi lebih mengutamakan tujuan dari kerjasama ini, hingga akhirnya Anda pun menyuruh saya yang menghendel-nya.
Jika pak Reno tetap ingin bertemu dengan Anda, bagaimana, Nona?" tanya Dewi pada Anta.
"Itulah, Wi. Aku sedang berpikir, apa yang kita lakukan jika kerja sama ini mengganggu ke utuhan rumah tanggaku, aku tak mengira bahwa klien yang ku temui adalah Reno, aku tak akan merahasiakan pada suamiku, tapi aku ingin kau tutup mulut dan mata, anggap semua itu tidak terjadi. Kau sudah melaksanakan apa yang ku inginkan kemarin kan?"tanya Anta pada Dewi.
__ADS_1
"Sudah Nona saya sudah meminta manager restoran itu menghapus rekaman sisi TV itu dan saya sudah memastikannya sendiri jadi jangan kawatir Nona. Hemm, Nona. Boleh saya tahu siapa Reno?" tanya Dewi pada majikannya itu.
"Dia adalah cinta pertamaku namun itu tak ada artinya di banding cinta keduaku, yang selalu membuatku selalu ada di hati Dantai," kata Anta sambil tersenyum dan senyuman itu sangat indah penuh dengan cinta di dalamya.